Ros memutuskan bahwa ia harus segera keluar dari kamar kosnya. Pergi ke mana saja, setidaknya agar ia tak terus-menerus menangisi kepergian Kael dan merutuki nasibnya yang tak pernah berhasil menjalin hubungan lama dengan laki-laki. Semuanya selalu kandas dalam hitungan bulan, tak pernah sempat berganti tahun.
Namun, Ros tahu ia selalu menyerahkan seluruh hatinya tanpa sisa. Orang-orang zaman sekarang mungkin akan menjulukinya budak cinta. Tapi bagi Ros, mencintai berarti memberi.
Dalam menjalin hubungan, ia rela menyerahkan seluruh kenyamanan hidupnya. Ia selalu berusaha memuliakan kekasihnya, melayani dan menuruti apa pun permintaan mereka, meskipun terkadang ada bagian dari dirinya yang harus meredam rasa terpaksa.
“Demi kamu, aku mau.”
Kalimat itu terucap begitu saja dari bibir Ros saat Kael meminta sesuatu yang paling berharga darinya. Sebuah kehormatan yang telah ia jaga dengan penuh prinsip selama dua puluh tujuh tahun. Dan Kael adalah lelaki yang telah membuatnya menangis habis-habisan selama dua pekan terakhir.
Ros menguak tirai jendela untuk pertama kali sejak mengurung diri. Matahari sore sudah melewati titik tertinggi. Sinarnya tidak terlampau sengit saat menerpa sepasang mata Ros yang membengkak. Ia mengikat tirai, lalu membuka daun-daun jendela yang langsung mengalirkan hawa sejuk ke dalam kamar kosnya yang sumpek.
Di pojok kamar dekat pintu, kotak-kotak bekas makanan yang ia pesan secara daring tampak bertumpuk. Aromanya mulai menyengat, tetapi selama dua minggu ini ia terlalu larut dalam dukacita untuk sekadar peduli. Sampai sore ini.
Ros mencari plastik sampah di dalam laci meja. Saat jemarinya meraba bagian dalam laci, ia menyentuh sebuah amplop putih tebal dari klinik kesehatan. Hasil pemeriksaan berkala yang sempat ia abaikan beberapa waktu lalu.
Ros menarik amplop itu, memandangnya sekilas, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Ia belum ingin memikirkan hal lain selain membersihkan kamar dan mengusir bau busuk yang sudah dua minggu menemaninya.
Perempuan berambut sebahu itu sempat heran, mengapa di tengah badai kesedihannya ia masih memikirkan soal makan. Namun, seketika ia sadar, ia melakukannya hanya agar tidak mati kelaparan dan kehilangan tenaga untuk meratapi nasibnya.
Kael. Lelaki yang sempat ia yakini sebagai pelabuhan terakhirnya. Lelaki yang bertahan paling lama, delapan bulan, hingga akhirnya Ros memantapkan hati untuk menyerahkan seluruh dirinya demi membahagiakan lelaki itu.
Kael yang tampak begitu bahagia saat mengetahui dirinya adalah pria pertama bagi Ros. Namun, semuanya hancur saat Ros mendapati fakta bahwa dirinya hanyalah sebuah objek taruhan.
Air mata kembali mengalir di pipi Ros yang tirus dan mulai ditumbuhi beberapa butir jerawat akibat stres. Namun, dengan cepat ia menepisnya kuat-kuat.
Sambil menyeret plastik sampah keluar kamar, Ros memantapkan hati bahwa sore ini ia harus benar-benar melangkah keluar. Bukan sekadar membuang kantong plastik ke bak sampah depan rumah induk semangnya.
Ros akan pergi ke tempat yang ramai—entah kafe atau taman di seberang minimarket di ujung perumahan. Ia butuh menjernihkan pikiran, menata kembali hatinya yang hancur, dan mulai memikirkan bagaimana cara memberi pelajaran yang setimpal untuk Kael.
***
Gue nggak merasa jahat-jahat amat kalau pada akhirnya gue ninggalin Ros setelah mendapatkan apa yang gue mau. Ros itu cewek baik-baik. Kalau diibaratkan peliharaan, dia itu kayak anjing pudel. Manis, penurut, dan punya dedikasi tinggi sama tuannya. Kayak gitulah Ros ke gue.
Dia selalu totalitas kalau sama gue. Apa pun yang gue minta pasti diusahain, mulai dari kiriman pulsa, bayarin makan, sampai segala printilan yang lagi gue butuhin. Dia kayaknya beneran mabuk kepayang sama gue.
Sampai akhirnya, dia juga nurutin permintaan terakhir gue malam itu. Gue masih ingat gimana gesturnya yang gelisah, cemas, dan ketakutan waktu gue ajak main. Semua itu kelihatan jelas dari gerak-gerik tubuh dan sepasang matanya yang sayu. Tapi toh, ujung-ujungnya dia cuma bisa mengangguk ragu sambil berbisik, “Iya. Demi kamu aku mau.”
Demi gue, katanya. Ck.
Dia sama sekali nggak sadar kalau selama delapan bulan ini, dia cuma jadi target empuk yang gue manfaatin habis-habisan. Sekali lagi, gue nggak berniat jahat sama itu cewek.
Tapi Ros ini emang taruhan yang terlalu seksi buat dilewatin bareng anak-anak. Ya, kami. Para cowok yang pernah pacaran sama dia. Dan dari kami berempat, cuma gue yang akhirnya berhasil jebol pertahanannya.
“Akting gue busuk banget kemarin. Gue nggak bisa lanjutin taruhannya. Lagian mana betah gue lama-lama deket cewek yang bau badannya bikin pusing,” keluh Yonas malam itu di tongkrongan.
“Ah, payah lo, Nas. Gue pikir lo bakal bertahan lebih lama dari gue. Gue sebulan aja udah angkat tangan, tapi lo bisa sampai tiga bulan. Lumayanlah,” sahut Arga sambil tertawa.
“Berarti sekarang giliran gue, kan? Kayaknya mending kita biarin dia jomblo dulu dua bulan sebelum gue masuk. Kita lihat berapa lama gue bisa tahan. Kalau soal bau badan sih, gue masih bisa kompromi. Tapi lo sendiri kenapa mundur, Man?” tanya gue, beralih ke Risman.
Risman menggeleng setelah menyesap kopi hitamnya. Dia mendecap menikmati rasa pahit di lidahnya sebelum menjawab.
“Gue nggak suka cewek yang terlalu servis berlebihan. Gue tahu dia cuma barang taruhan kita, tapi gue risi sendiri lihat dia yang kelewat rajin. Masak iya gue baru main ke kosannya sepulang kerja, dia langsung nawarin pijit? Terus pas gue ngeluh gerah, dia heboh nyari es batu ke warung depan.
“Sepatu gue yang penuh lumpur pas kehujanan juga disikat sampai bersih sama dia. Gue jadi bingung, dia itu pacar atau asisten rumah tangga? Nggak ada tantangannya. Gue nggak bakal ngerasa menang walaupun dapet barangnya, kalau gayanya udah kayak pembantu gitu.”
Gue cuma mendengarkan ocehan Risman sambil menyusun strategi di kepala. Untung banget pas kocok arisan dulu, gue dapet urutan terakhir setelah mereka bertiga gagal. Gue sendiri nggak habis pikir kenapa kami bisa kepikiran jadiin Ros bahan taruhan.
Secara visual, Ros itu nggak cantik-cantik amat. Manisnya biasa aja, tipe manis tipis yang gampang terlupakan. Tapi kalau ngomongin badannya, beuh ... nggak ada lawan. Lekuk tubuhnya benar-benar kayak gitar Spanyol. Tipe yang bikin cowok langsung gelap mata. Pertama kali kami ngelihat dia jalan lewat di bawah balkon loteng rumah Arga, naluri kelelakian kami langsung berontak.
Otak kami langsung traveling ke hal-hal kotor dan basah. Dan malam itulah yang jadi awal mula perjanjian taruhan kami: siapa pun di antara kami yang berhasil meniduri cewek itu, dialah pemenangnya.
***
Aku bukan perempuan naif yang tidak tahu kalau laki-laki punya kebutuhan biologis yang harus dilepaskan. Tiga kegagalan hubunganku sebelumnya terjadi justru karena aku selalu menolak setiap kali mantan kekasihku menuntut hal tersebut. Bagiku, hubungan intim bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja tanpa komitmen yang jelas.
Aku memang menghamba pada semua kekasihku, tapi perkara tidur seranjang adalah hal besar. Kebucinanku belum sampai tingkat dewa untuk bersedia melakukan hal tersebut. Tidak dengan Arga, Risman, ataupun Yonas.
Namun, dengan Kael segalanya berbeda. Atau, setidaknya begitulah kebodohanku berpikir dua pekan lalu.
Aku mengira Kael adalah pelabuhan terakhir. Lelaki yang bersedia bertahan delapan bulan menghadapi segala kekuranganku, bau badanku yang kata Yonas membuat mual, atau wajahku yang tak seberapa ini. Ternyata, dia hanya pemburu yang paling sabar di antara gerombolan serigala itu. Dia bertahan paling lama bukan karena cinta, melainkan karena ingin memenangkan taruhan ranjang.
Sore ini, matahari mulai meredup di ufuk barat saat aku melangkah keluar dari gang kosan. Setelah dua minggu mengurung diri seperti mayat hidup, udara dingin yang menerpa wajahku rasanya seperti tamparan yang membangunkan kesadaran.
Ponsel di tanganku tergenggam erat. Layarnya menampilkan sebuah grup chat baru yang sengaja kubuat. Grup itu hanya berisi lima anggota: aku, Kael, Arga, Risman, dan Yonas.
Aku mengirimkan satu foto ke dalam grup tersebut. Foto selembar kertas hasil pemeriksaan kesehatan yang kuambil dari amplop putih di kamarku. Beberapa bagian sengaja kubiarkan tidak terlihat jelas.
Ting. Ting. Ting.
Ponselku bergetar beruntun.
Kael
Ros? Ini apa maksudnya? Lo tahu dari mana nomor temen-temen gue?!
Yonas
Ros, jawab! Lo serius soal hasil pemeriksaan itu?!
Risman
El, lo kemarin aman nggak?! Jangan bilang lo nggak pakai pengaman, Bangsat!
Aku berhenti di depan taman dekat minimarket, lalu duduk di salah satu bangku semen yang dingin. Sudut bibirku terangkat tipis. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tujuh tahun hidupku, aku menikmati melihat orang lain kehilangan ketenangan.
Aku mengetik kalimat terakhir di grup itu dengan jemari yang tenang, tanpa gemetar sedikit pun.
Terima kasih sudah menjaga rahasia taruhan kalian selama ini. Sekarang, silakan saling menjaga. Siapa tahu ada hal lain yang selama ini kalian sembunyikan dari satu sama lain.
Selamat malam, para pemenang.
Aku menekan tombol block untuk keempat nomor mereka, mengeluarkan kartu SIM dari ponsel, lalu membuangnya ke tong sampah di sudut taman.
Setelah itu, aku berdiri dan menyeberang menuju minimarket. Kubeli beberapa makanan untuk persediaan malam ini, juga sekotak susu dan sebungkus buah. Hal-hal sederhana yang selama dua pekan terakhir bahkan tak terpikirkan olehku.
Saat keluar, malam sudah merayap turun. Aku berjalan menyusuri jalan perumahan menuju kamar kos, melewati lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
Ros yang menjadi babu cinta sudah mati di kamar kosan dua minggu lalu.
Malam ini, perempuan yang berjalan pulang dengan sekantong makanan di tangannya adalah Ros yang baru.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Cedera saat Syuting Drama, Jo Aram Absen sebagai Presenter di KGMA 2026
-
Galeri Penuh Screenshot Materi Kuliah? 5 Cara Agar Tak Cuma Disimpan
-
Kerja Keras tapi Gaji Pas-pasan, Mengapa Upah Minimum Selalu Diperdebatkan?
-
Otaku Vampire's Love Bite Karya Kreator Kamisama Kiss Dapat Adaptasi Anime
-
Review Fatal Proximity to Him: Poster Bikin Kepincut, Eksekusi Agak Kecut