Membaca kembali Selamat Datang, Kegelapan (Hello, Darkness) karya dari Sandra Brown setelah bertahun-tahun ternyata masih menjadi pengalaman membaca yang menyenangkan.
Saya pernah membaca novel setebal 648 halaman ini, tetapi agaknya saya telah melupakan sebagian besar dari jalan ceritanya. Saya hanya mampu mengingat beberapa detail kecil, jadi ketika membacanya kembali, saya masih bisa merasakan kejutan demi kejutan yang ditawarkan novel ini.
Selamat Datang, Kegelapan (Hello, Darkness) berpusat pada Paris Gibson, seorang penyiar radio program lagu-lagu klasik yang mendapatkan ancaman telepon dari seorang lelaki yang mengaku bernama Valentino. Valentino menyekap seorang gadis, Janey Kemp, dan mengancam akan melakukan pembunuhan pada diri gadis itu.
Tak ingin mengabaikan ancaman tersebut yang berhubungan dengan keselamatan anak perempuan Hakim Baird Kemp tersebut, Paris melaporkannya pada kepolisian. Tak diduga dalam kunjungannya menemui Sersan Robert Curtis, Paris malah bertemu dengan Dr. Dean Malloy, psikolog kriminal kepolisian, yang juga seseorang dari masa lalunya.
Dari sinilah kemudian cerita berkembang dengan dilakukannya penyelidikan untuk menemukan jejak Janey dan Valentino, yang menyeret sejumlah karakter ke dalam lingkarannya dengan persoalan beragam.
“Aku tenang, Paris. Sangat tenang. Dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku sudah menaruhnya di tempat dia takkan mungkin ditemukan. Dia tidak mungkin bisa lepas dariku. Tiga hari lagi dia akan mati, Paris. Aku akan membunuhnya, dan kematiannya adalah salahmu. (Hal. 13)
Dalam novel Selamat Datang, Kegelapan (Hello, Darkness) bagi saya daya tarik ceritanya tak hanya pada misterinya. Namun lebih dari itu, di luar sosok Paris dan Dean Malloy sebagai tokoh utama, Sandra Brown menghadirkan sejumlah tokoh pendamping yang memiliki pergulatan emosional dan konflik personal yang amat menarik untuk disimak.
Sebagai contoh, Toni Armstrong.
Toni adalah istri dari Bradley Armstrong, seorang dokter gigi yang memiliki masalah kecanduan seksual. Situasi yang dihadapi Toni tidaklah sederhana. Ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit tentang suaminya, sekaligus harus melindungi anak-anaknya, dan menjaga keutuhan keluarga.
Menariknya, Toni tak digambarkan sebagai istri yang membabi buta membela sang suami. Ia menyadari kesalahan suaminya dan berusaha mencari bantuan. Namun, di saat yang sama ia pun tak serta-merta kehilangan perasaannya pada Bradley.
Di sinilah sebagai pembaca, saya melihat kekuatan Toni di balik kerapuhan yang ia miliki. Ia menghadapi masalah rumah tangga dengan penuh ketabahan sekaligus mampu mengambil keputusan berat tanpa mengabaikan kenyataan yang ada di depan mata.
Toni menjadi gambaran bahwa kekuatan seseorang tak selalu hadir dalam bentuk keberanian yang keras dan penuh perlawanan. Terkadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap berpikir dan bertindak ketika kehidupan pribadinya sedang mengalami guncangan.
Tokoh pendamping lainnya yang menarik perhatian saya, yaitu Gavin Malloy.
Sebagai anak dari orang tua yang berpisah, Gavin sempat membawa luka yang membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa dirinya adalah anak yang lahir dari dua orang yang pada akhirnya tidak lagi saling mencintai. Perasaan tersebut kemudian memengaruhi sikapnya ketika ibunya, Pat, menikah lagi.
Gavin mulai berulah dan memilih lingkungan pergaulan yang tidak baik. Ia tinggal bersama ayahnya, Dean Malloy, tetapi hubungan keduanya juga tidak berjalan mulus. Di tengah pencariannya terhadap tempat untuk merasa diterima, Gavin justru semakin jauh dari orang-orang yang sebenarnya menyayanginya.
Keterlibatannya dalam kasus Janey kemudian menjadi salah satu titik yang membuat Gavin melihat kembali berbagai pilihan yang telah dibuatnya. Ia mulai berusaha memperbaiki hubungannya dengan sang ayah maupun dengan ibu kandungnya.
Perubahan Gavin menarik karena ia tidak sekadar ditempatkan sebagai tokoh remaja bermasalah. Di balik pemberontakannya terdapat luka dan rasa bersalah yang selama ini ia bawa. Karena itu, perkembangan karakternya terasa lebih manusiawi. Ia bukan tiba-tiba berubah menjadi anak baik, melainkan perlahan menemukan kembali hubungan dengan orang-orang yang penting dalam hidupnya.
Kehadiran Toni dan Gavin menunjukkan bahwa konflik dalam Selamat Datang, Kegelapan (Hello, Darkness) tidak hanya berasal dari misteri utama. Masing-masing tokoh membawa persoalannya sendiri: perkawinan yang retak, kecanduan, luka akibat perceraian, hubungan orang tua dan anak, hingga usaha untuk berdamai dengan pilihan-pilihan masa lalu.
Inilah yang menurut saya membuat novel Sandra Brown terasa lebih berlapis. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti penyelidikan terhadap sebuah kasus, tetapi juga melihat bagaimana sebuah peristiwa dapat memengaruhi kehidupan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Sandra Brown juga berhasil menjaga tempo cerita tetap dinamis. Ada bagian yang bergerak cepat dan menegangkan, tetapi ada pula bagian yang memberi ruang bagi pembaca untuk mengenal kehidupan personal para tokohnya. Naik-turunnya tempo tersebut justru membuat novel tidak terasa seperti rangkaian penyelidikan yang monoton.
Sebagai pembaca yang pernah menyelesaikan novel ini sebelumnya, saya sendiri cukup terkejut karena begitu banyak bagian yang ternyata sudah terlupakan. Saya masih mengingat beberapa fragmen tentang Jack Donner dalam hubungannya dengan Paris dan Dean, tetapi sebagian besar misterinya kembali terasa baru ketika dibaca ulang.
Dan mungkin di situlah salah satu kesenangan membaca ulang sebuah novel: kita tidak hanya kembali menemukan cerita yang pernah kita kenal, tetapi juga dapat menemukan sisi-sisi lain yang dahulu luput dari perhatian.
Daya tarik Selamat Datang, Kegelapan (Hello, Darkness) tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana sebuah kasus akan berakhir. Ada tokoh-tokoh di sekeliling misteri tersebut yang membuat cerita terasa lebih manusiawi.
Paris Gibson dan Dean Malloy memang menjadi pusat cerita, tetapi Toni, Gavin, dan tokoh-tokoh pendamping lainnya membuat dunia yang dibangun Sandra Brown terasa lebih hidup. Mereka mengingatkan bahwa di balik sebuah misteri selalu ada manusia dengan luka, rahasia, pilihan, dan hubungan yang tidak sederhana.
Dan tanpa perlu membongkar misteri yang menjadi kekuatan utama novel ini, mungkin justru itulah alasan Selamat Datang, Kegelapan (Hello, Darkness) masih menarik untuk dibaca kembali setelah bertahun-tahun.
Baca Juga
-
Paris, Luka, dan Kesempatan Kedua dalam Satu Musim Panas di Paris
-
Novel Menuju Titik Nol: Ketika Pembunuhan Menjadi Akhir Bukan Awal Cerita
-
Novel Kereta 4.50 dari Paddington: Trik Pembunuhan di Luar Nalar
-
Di Antara Mimpi, Identitas, dan Trauma dalam Novel Ceritakan Mimpi-Mimpimu
-
Ambisi, Dendam, dan Pengkhianatan dalam Novel Rencana Paling Sempurna
Artikel Terkait
Ulasan
-
Makna Lagu Iqro': Pengingat bahwa Manusia Hanya Bagian Kecil dari Semesta
-
Bukan Cuma Kopi, 5 Kafe di Nganjuk Ini Punya Konsep Unik yang Menarik
-
Thousand Cranes: Luka Masa Lalu dalam Karya Peraih Nobel Yasunari Kawabata
-
Novel Three Sisters, Dinamika Kehidupan Tiga Saudara dengan Status Berbeda
-
Buku The Baby Who Stayed Awake Forever, Ketika Bayi Menolak Tidur Semalaman
Terkini
-
Jay Herdman Lengkapi Jatah Pemain Asing Bali United, Rekrutan Tergokil?
-
Ada Tangled Hingga Princess Diaries 3, Disney-Pixar Umumkan Proyek Terbaru!
-
Sung Hoon Resmi Bintangi Drakor Romantis Baru Berjudul What a Boss Wants
-
5 Rekomendasi Body Lotion Argan Oil yang Ampuh Melembapkan Kulit Kering
-
Fenomena Pejabat Asbun: Dead Cat Strategy atau Kegagalan Komunikasi?