M. Reza Sulaiman | Adinda Permata
ilustrasi cerpen Harga Sebuah Stempel (gemini AI)
Adinda Permata

Napas Bagas terdengar amat berat. Tubuh bocah kurus berusia tujuh tahun itu terasa sedingin es. Karyo mendekap erat tubuh putranya sambil berlari kencang menembus lorong rumah sakit yang berbau karbol menyengat.

Lampu neon di plafon berkedip redup. Sumi menangis tersedu di belakang, memegangi ujung kemeja lusuh Karyo. Karyo mengabaikan tatapan heran pengunjung, meletakkan tubuh lemas Bagas di atas brankar kosong depan meja pendaftaran Instalasi Gawat Darurat. Perawat berseragam putih menatap Karyo dengan sorot mata datar.

"Mana kartu asuransi kesehatannya, Pak?" tanya perawat tersebut.

Karyo merogoh saku, menyerahkan sebuah kartu kusam. Perawat itu mengetikkan nomor ke komputer, lalu menggelengkan kepala tanpa sedikit pun empati di wajahnya.

"Kartu Bapak tidak aktif. Menunggak iuran sejak dua tahun lalu. Kami tidak bisa memproses pasien ini."

Karyo merasa bumi runtuh seketika. "Tolong, Sus. Anak saya butuh pertolongan medis sekarang. Kata dokter puskesmas di desa, Bagas terkena demam berdarah parah. Tolong rawat Bagas dahulu, saya cari uangnya nanti."

Perawat menunjuk papan pengumuman. "Aturannya tidak bisa, Pak. Bapak harus mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu dari kelurahan, lalu divalidasi Dinas Kependudukan karena alamat KTP Bapak berbeda dengan domisili sekarang. Tanpa berkas lengkap itu, deposit awal lima juta rupiah."

Uang dari mana? Penghasilan buruh tani sebulan penuh bahkan tidak mencapai sejuta. Bagas terdiam pucat dengan bibir membiru. Sumi terus merapal doa dengan linangan air mata.

"Tolong tangani anak saya dahulu," mohon Karyo memelas.

"Bisa ditangani di selasar ini, tapi sebatas oksigen dan infus dasar. Untuk masuk ruang perawatan intensif, Bapak harus membawa berkas lengkap. Waktu Bapak amat terbatas," ucap perawat itu tegas.

Karyo mencium kening Bagas, berjanji akan segera kembali membawa surat sakti itu. Karyo berlari menembus sengatan panas matahari siang. Menumpang angkutan umum menuju perkampungan pinggir rel memakan waktu setengah jam.

Setelah surat pengantar dari Ketua Rukun Tetangga didapat, Karyo kembali berlari menuju kantor kelurahan tanpa alas kaki karena sandal jepitnya putus. Aspal panas membakar telapak kaki Karyo, namun kepedihan fisik itu tak sebanding dengan ancaman nyawa putranya yang kritis.

Tiba di kelurahan dengan napas terengah, Karyo menyerahkan surat pengantar kepada petugas loket bertubuh subur. Petugas yang asyik menatap layar ponsel itu membalikkan kertas Karyo dengan gerakan amat lambat.

"Bapak Lurah sedang rapat. Stempel kelurahan ada di ruangannya yang terkunci. Tunggu saja di luar. Mungkin sore baru selesai."

"Pak, anak saya kritis di rumah sakit saat ini juga! Saya butuh satu tanda tangan dan stempel," seru Karyo frustrasi.

Petugas itu mendelik tajam. "Jangan membuat keributan. Aturan tetaplah aturan. Tunggu di luar!"

Waktu merambat sangat lambat seakan mengejek Karyo. Tiga jam menyiksa berlalu. Saat mobil dinas Lurah tiba, Karyo memohon sambil setengah bersujud memeluk kaki pria pimpinan wilayah itu. Lurah terkejut lalu memerintahkan petugas loket memproses surat Karyo seketika. Namun, petugas loket kembali mengerutkan kening.

"Nomor Induk Kependudukan Bapak tidak sinkron dengan sistem data pusat. Ada perbedaan satu angka pada kartu identitas Bapak. Surat tidak bisa dicetak sebelum data diperbaiki di kantor Dinas Kependudukan."

"Tolong ketik manual menggunakan mesin tik tua, saya memohon kebijaksanaan Bapak!" Karyo memelas putus asa.

"Sistem kami terpusat secara digital. Komputer menolak mencetak kertas kalau datanya merah. Bapak harus ke kantor dinas kota sekarang. Tapi ini sudah pukul empat sore, mereka sudah tutup. Datang besok pagi," jawab petugas itu dengan nada amat dingin.

Karyo berteriak meluapkan amarah, menendang tong sampah besi di depan loket. Satpam kelurahan meringkus dan melempar Karyo keluar dari area kantor. Air mata Karyo menetes deras membasahi aspal keras. Hari ini dirinya gagal membawa tiket keselamatan Bagas.

Karyo kembali ke rumah sakit dengan langkah gontai tak bertenaga. Di lorong instalasi gawat darurat yang membeku, Karyo menemukan Sumi tertidur kelelahan memeluk tiang besi infus. Bagas masih terbaring di brankar yang sama. Wajahnya makin pucat pasi bak mayat.

Karyo duduk lesehan menyandarkan punggung lelahnya ke tembok dingin. Karyo merasa menjadi pria paling tidak berguna di muka bumi. Sistem birokrasi raksasa ini sepertinya dirancang bukan untuk menolong orang miskin, melainkan menjadi saringan mutlak penentu siapa yang pantas hidup dan siapa yang pantas mati.

Pagi buta keesokan harinya, Karyo sudah berdiri tegak mengantre di depan gerbang Dinas Kependudukan bersama ratusan warga berwajah lelah lainnya. Saat gerbang dibuka tepat pukul delapan, Karyo berlari menuju mesin pencetak nomor antrean dan mendapat nomor dua ratus tiga belas.

Menunggu waktu berlalu kembali menjadi siksaan batin terdalam bagi Karyo. Menjelang siang, ponsel retak milik Karyo berdering keras. Suara Sumi terdengar amat panik dari seberang sana.

"Mas! Bagas kejang! Dokter bilang Bagas harus masuk ruang intensif sekarang juga! Mana suratnya mas? Rumah sakit menolak memindahkan Bagas kalau suratnya belum diserahkan ke meja pendaftaran!"

Sumi menangis histeris meminta pertolongan. Karyo mematikan telepon dengan tangan bergetar. Layar monitor antrean elektronik baru menunjukkan angka seratus lima. Karyo sudah kehilangan seluruh kesabarannya. Karyo menerobos paksa barisan kursi pengantre, menggebrak meja petugas validasi dengan keras.

"Tolong perbaiki data saya sekarang! Anak saya kejang!"

Petugas berdasi itu membentak marah. "Antre sesuai nomor urut! Jangan berani menyerobot hak orang lain!"

Satpam berbadan tegap datang menarik kerah kemeja Karyo dengan sangat kasar, lalu menyeret Karyo menembus pintu keluar gedung bersuhu sejuk tersebut. Karyo menangis meronta, memukul aspal keras pelataran parkir tanpa henti. Karyo merasa kalah telak ditundukkan oleh selembar kertas dan deretan angka digital.

Seorang pria berdandan rapi memakai kemeja batik menghampiri Karyo. Pria itu menyalakan rokok dengan santai lalu menatap remeh penuh perhitungan.

"Butuh cepat ya? Saya bisa bantu mengurus validasi pusat sekaligus menerbitkan stempel basah kelurahan. Beres total dalam lima belas menit. Biaya pelicinnya tiga ratus ribu rupiah tunai."

Karyo menatap wajah licik pria itu. Karyo sadar pria di depannya ini adalah perantara kotor pemeras keringat kaum papa. Seluruh uang tunai Karyo di dalam dompet hanya tersisa dua belas ribu rupiah. Karyo lalu teringat pada harta berharga terakhir di rumah kontrakannya. Seekor kambing betina kurus peninggalan orang tuanya yang diniatkan menjadi tabungan masa depan sekolah Bagas.

"Tunggu saya di sini," ucap Karyo dengan tekad bulat.

Karyo berlari kencang mencari tumpangan truk pasir, bergegas menjemput kambing peliharaannya di desa, lalu menyeret hewan malang itu menuju pasar ternak. Karyo menjual kambing tersebut seharga empat ratus ribu rupiah, nilai yang jatuh jauh di bawah standar pasaran normal karena sang pedagang tahu Karyo sedang terdesak butuh uang cepat. Karyo membuang egonya jauh-jauh. Karyo menyambar delapan lembar uang lima puluh ribuan itu lantas berlari kembali ke kantor dinas tanpa jeda napas sekalipun.

Matahari memancarkan terik panas tertinggi saat Karyo menyerahkan lembaran uang kertas kepada sang perantara. Sepuluh menit menunggu dalam kecemasan puncak, pria itu keluar membawa map plastik biru cerah. Map tersebut memuat selembar Surat Keterangan Tidak Mampu dengan stempel tinta biru kelurahan yang masih basah. Kertas penentu garis kehidupan dan kematian Bagas akhirnya berada dalam genggaman. Karyo mencium map biru itu penuh rasa syukur tiada tara.

Karyo menghabiskan sisa seratus ribu miliknya untuk menyewa taksi menuju gedung rumah sakit. Sepanjang perjalanan pulang, Karyo memandangi stempel biru tersebut tanpa berkedip. Stempel itu tampak bagaikan tiket keselamatan paling indah di dunia. Bukti nyata yang menunjukkan bahwa cinta kasih seorang ayah mampu membongkar tebalnya dinding birokrasi negara. Karyo membayangkan putranya akan segera dipindahkan ke ruangan bersih, mendapat perawatan intensif penuh, dan kembali tersenyum ceria menyambut pelukannya.

Taksi berhenti mendadak mendecit di depan instalasi gawat darurat. Karyo melompat turun dengan tergesa, berlari amat kencang menerobos pintu kaca otomatis lobi. Karyo mengacungkan map biru itu tinggi ke udara dengan wajah berseri memancarkan senyum kemenangan utuh. Karyo bersiap membuktikan kepada petugas perawat sombong bahwa dirinya berhasil menaklukkan aturan kejam mereka tepat pada waktunya.

"Sus! Berkasnya sudah sangat lengkap! Stempelnya sudah ada di sini! Ayo cepat pindahkan Bagas sekarang!" teriak Karyo sangat lantang memecah keheningan lobi.

Namun, Karyo tidak menemukan perawat berwajah dingin itu menjaga meja pendaftaran utama. Brankar usang milik Bagas juga telah lenyap dari selasar tempat ia membaringkan putranya semalam. Jantung Karyo mendadak berdegup kencang dilanda firasat kepanikan luar biasa.

Langkah kaki ragu Karyo akhirnya terhenti total di sudut ruangan observasi yang sepi sunyi. Karyo melihat Sumi duduk bersimpuh sangat lemas di atas lantai marmer. Sumi sudah berhenti menangis, mata istrinya menatap kosong ke dinding depan dengan wajah pias tanpa pancaran ekspresi sedikit pun.

Di atas brankar besi kokoh tepat di sebelah Sumi, terbujur terdiam gundukan sesosok tubuh kecil yang telah ditutup rapat oleh selembar kain putih panjang menyelimuti ujung kaki hingga ujung kepala.

Karyo memaksakan diri berjalan perlahan mendekati ranjang brankar itu. Kedua kakinya terasa sangat berat seolah terbuat dari cor baja utuh. Karyo menjatuhkan map biru berharga itu ke permukaan lantai, membiarkan kertas sakti tersebut tergeletak begitu saja tak bernilai. Tangan kapalan Karyo bergetar hebat saat membuka perlahan ujung kain penutup wajah.

Wajah pucat putranya tampak sangat tenang beristirahat melepaskan penderitaan. Tidak terdengar lagi napas berat tersengal yang menyayat hati nurani. Tidak terdengar lagi rintihan kesakitan yang menyiksa indra pendengaran. Bagas tercinta sudah pergi melangkah jauh untuk selamanya. Bagas kecil menyerah kalah pada durasi waktu berjam-jam yang terbuang percuma saat ayahnya harus mengemis sebutir stempel pengobatan.

Dunia Karyo hancur lebur tanpa sisa sedikit pun. Karyo memeluk erat tubuh kaku putranya sambil meraung keras pilu merobek keheningan mutlak ruangan duka tersebut. Suara tangisan Karyo dipenuhi rasa sakit parah, keputusasaan mendalam, dan ledakan amarah abadi yang tidak akan pernah reda hingga akhir hayatnya.

Seorang dokter pria berjas putih mendekati Karyo dengan raut wajah menanggung sesal, perlahan meletakkan selembar kertas putih polos di atas meja kecil samping brankar, lalu melangkah pergi menunduk tanpa memberikan sepatah kata penghiburan palsu. Karyo menatap lurus ke arah kertas yang diletakkan dokter barusan. Kertas malapetaka itu bertuliskan susunan huruf kapital tebal berbunyi Surat Keterangan Kematian.

Angin dingin mesin penyejuk ruangan mendadak meniup map biru dari lantai marmer. Kertas berstempel basah yang telah Karyo perjuangkan mati-matian dengan mengorbankan segalanya itu terbang melayang menari di udara, lalu mendarat sangat perlahan tepat di atas meja kecil yang sama. Kertas administrasi itu terbaring sunyi senyap, bersanding sejajar menempel erat dengan Surat Keterangan Kematian Bagas.

Karyo menatap perih kedua lembar kertas itu bergantian dengan pandangan nanar terluka. Surat jaminan kehidupan yang datang sangat terlambat menyedihkan, dan surat pernyataan kematian yang bertugas menyambut kepulangannya. Stempel basah kelurahan berwarna biru cerah mencolok itu seolah tersenyum amat sinis menertawakan kemiskinan dan keluguannya.

Detik itu juga Karyo baru menyadari ironi paling kejam sekaligus menyakitkan di negeri ini. Nyawa anak seorang buruh miskin bernilai jauh lebih rendah daripada secarik kertas yang ditandai oleh sebutir stempel birokrasi. Karyo merengkuh dan menenggelamkan wajahnya pada dada dingin Bagas, menangis meratap panjang hingga suaranya serak habis menguap terbawa udara beku rumah sakit yang mematikan jiwa.