Kejadian ini terjadi ketika aku melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama teman-temanku. Saat itu, satu kelompok terdiri atas sembilan mahasiswa, yakni tiga laki-laki dan enam perempuan. Aku mendapatkan tempat KKN di sebuah desa bernama Jeruk Purut, yang merupakan bagian dari salah satu kabupaten di wilayah Soloraya. Di Desa Jeruk Purut, suasana sudah mulai terasa mencekam sejak pertama kali kami tiba. Rumah yang menjadi tempat tinggal kami selama KKN adalah rumah tua yang sudah lama tidak dihuni. Dari luar, bangunan itu tampak besar, namun berlumut dan kusam, dengan jendela-jendela yang keropos dan pintu kayu yang mengeluarkan suara berderit setiap kali dibuka.
Kami semua terdiam ketika Pak Lurah menyampaikan bahwa kami akan tinggal di rumah itu selama dua bulan. Aku bisa melihat raut wajah teman-temanku yang tampak ragu, namun kami tidak punya pilihan lain. Setelah selesai menata barang-barang, kami berembuk untuk menentukan siapa yang akan tidur di kamar mana. Ada enam kamar di rumah itu, dan satu kamar besar di ujung lorong yang tampak lebih gelap dan lembap daripada yang lainnya.
“Kamar itu kenapa, ya, kok seperti tidak pernah dibuka?” tanya Lia, salah satu teman perempuanku, sambil menunjuk pintu kayu besar di ujung lorong.
Pak Lurah yang mendengar pertanyaan itu sejenak terdiam. Wajahnya berubah kaku sebelum menjawab dengan suara pelan, “Ah, itu... Kamar itu lebih baik tidak dipakai. Sudah lama tidak ada yang tidur di sana.”
Kami semua merasa aneh, tetapi tidak ada yang berani bertanya lebih lanjut. Setelah Pak Lurah pergi, kami mulai menata kamar masing-masing. Namun, rasa penasaran soal kamar itu terus menggelayuti pikiran kami. Malam pertama berjalan dengan cukup tenang, meski ada beberapa dari kami yang mengaku mendengar suara-suara aneh seperti ketukan di jendela atau suara langkah kaki yang samar. Aku mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman itu, meyakinkan diriku bahwa semua hanya imajinasi.
Hingga malam ketiga, sesuatu yang lebih menakutkan terjadi. Saat sedang bersiap tidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari arah kamar di ujung lorong. Kami semua terperanjat dan berkumpul di ruang tengah.
“Kalian dengar tidak?” tanya Yudi, salah satu dari kami yang paling berani.
“Ada yang mengetok pintu kamar itu,” sahut Diah, suaranya terdengar gemetar.
Aku dan Yudi saling berpandangan, lalu memutuskan untuk memeriksa. Kami berjalan pelan menuju kamar tersebut dengan senter di tangan. Sesampainya di depan pintu, aku bisa merasakan hawa dingin yang merambat di kulitku. Yudi perlahan-lahan meraih gagang pintu dan menariknya. Pintu itu terbuka dengan sendirinya, mengeluarkan suara berderit nyaring.
Di dalam, kamar itu gelap dan lembap, namun tidak kosong. Di sudut ruangan, terlihat sebuah ranjang tua dengan kelambu yang usang. Dan di atas ranjang itu, duduklah sosok nenek tua; wajahnya keriput dan matanya menatap tajam ke arah kami. Jantungku berdegup kencang. Sosok itu tidak bergerak, tetapi matanya yang kelam seolah-olah menembus kami, seakan menyimpan amarah yang tak terkatakan.
"Nenek... siapa?" tanyaku terbata-bata, berharap itu hanya salah satu warga desa.
Namun, nenek itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk pelan, menggumamkan sesuatu yang tidak kami mengerti. Seketika, udara di sekitar kami terasa semakin berat. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mengimpit dadaku, membuatku sulit bernapas. Yudi menarik tanganku, memaksa kami untuk mundur dan menutup pintu dengan keras. Kami semua terdiam di ruang tengah, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Namun, malam itu belum berakhir.
Di tengah malam, terdengar lagi suara ketukan, kali ini lebih keras dan berulang. Kami semua terjaga dan merasa ketakutan. Ketika kami mencoba mengintip dari balik pintu, terlihat sosok nenek itu berdiri di ujung lorong, menatap lurus ke arah kami. Senyum tipis terukir di wajahnya, membuat darah kami membeku.
"Nenek itu... dia penghuni kamar terakhir," bisik Lia dengan suara gemetar.
Tidak ada yang tahu pasti siapa dia, tetapi cerita dari warga sekitar mulai terkuak. Nenek itu dulunya adalah penjaga rumah ini, namun meninggal dalam kesepian di kamar itu; tidak ada yang menemukannya selama berhari-hari. Kini, arwahnya masih bersemayam di sana, menghantui setiap orang yang berani mengusik ketenangannya.
Malam-malam berikutnya penuh teror. Ketukan, langkah kaki, suara bisikan, semuanya datang tanpa henti. Setiap malam, nenek itu muncul, semakin mendekat ke kamar kami. Hingga suatu malam, kami menyadari bahwa dia tidak hanya ingin menakut-nakuti—dia menginginkan sesuatu dari kami. Atau... mungkin dia ingin salah satu dari kami menggantikannya di kamar terakhir.
Malam itu adalah malam kelima kami di rumah tua tersebut. Suasana semakin mencekam. Setelah kejadian malam sebelumnya, kami semua sepakat untuk tidur di ruang tengah bersama-sama. Tidak ada yang berani tidur sendirian lagi, apalagi mendekati kamar terakhir di ujung lorong.
Namun, meski kami berkumpul di satu tempat, teror itu tidak mereda. Sekitar tengah malam, angin kencang tiba-tiba berembus dari arah lorong, meski semua jendela sudah tertutup rapat. Tirai yang menggantung di jendela tiba-tiba berkibar dengan keras, dan suhu ruangan mendadak menjadi dingin menusuk tulang.
"Ada yang aneh," bisik Andi, salah satu teman laki-lakiku. Wajahnya terlihat pucat, keringat dingin membasahi dahinya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat yang berasal dari lorong. Kami semua saling berpandangan, rasa takut mulai mencengkeram hati. Suara itu semakin mendekat, berderap perlahan, seolah-olah ada sesuatu yang berat sedang menyeret dirinya ke arah kami. Langkah-langkah itu berhenti tepat di depan pintu ruang tengah, dan tiba-tiba, pintu itu terbuka dengan keras.
Di depan kami, berdirilah sosok nenek itu lagi, lebih jelas dan lebih menakutkan dari sebelumnya. Wajahnya pucat seperti mayat, matanya kosong, dan tubuhnya yang ringkih membungkuk dengan rambut panjang yang acak-acakan. Kali ini, dia tidak hanya berdiri diam. Dia bergerak, melangkah masuk ke ruangan dengan gerakan lambat dan menyeramkan.
"Ada yang harus menggantikan aku..." bisiknya lirih, suaranya dingin, bergema di dalam kepala kami.
Aku merasa tubuhku membeku. Nenek itu melangkah mendekat. Kulitnya keriput seperti kertas tua yang hampir robek, bibirnya kering dan hitam, tetapi yang paling menyeramkan adalah matanya—dua cekungan gelap yang dalam, seakan-akan siap menelan siapa pun yang menatapnya.
“Lari!” Yudi berteriak, menarik kami semua dari keterpakuan.
Kami berhamburan menuju pintu depan, tetapi pintu itu tidak bisa dibuka. Seolah-olah terkunci oleh kekuatan tak terlihat. Lia menangis ketakutan, tangannya gemetar saat mencoba membuka kunci pintu, tetapi sia-sia. Nenek itu semakin dekat. Sementara itu, langkah-langkah berat terus terdengar dari belakang, seolah-olah ada sesuatu yang mengikuti si nenek. Kami berbalik dan terkejut—di lorong, muncul bayangan-bayangan hitam, samar tetapi jelas. Mereka bergerak seperti kabut yang berputar.
“Aku tidak bisa pergi… kecuali ada yang tinggal di sini… di kamar terakhir,” bisik nenek itu lagi, kali ini dengan suara serak yang lebih keras.
Tiba-tiba, lampu minyak yang kami gunakan padam, dan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan total. Di tengah kegelapan, terdengar suara gemerisik yang aneh, seperti kain usang yang diseret di lantai. Aku bisa merasakan kehadirannya begitu dekat. Napasnya yang berat terdengar di belakang leherku. Rasa dingin menyelimuti tubuhku, dan tiba-tiba, sebuah tangan yang kasar dan dingin meraih bahuku.
Aku berteriak dan melompat mundur. Dalam kegelapan, kami hanya bisa mendengar suara jeritan, bisikan, dan langkah kaki yang semakin mendekat. Kami semua tersudut di ruang tengah tanpa jalan keluar. Di tengah kekacauan itu, Diah tiba-tiba jatuh ke lantai. Matanya terpejam, wajahnya pucat pasi. Kami mencoba menggoyang-goyangkannya, namun ia tidak merespons. Di tubuhnya muncul bekas-bekas luka kecil seperti cakaran. Tiba-tiba, Diah membuka matanya—tetapi itu bukan lagi Diah yang kami kenal. Matanya yang sebelumnya penuh keceriaan kini kosong, gelap, dan dingin.
“Aku harus tinggal di sini,” gumamnya dengan suara yang bukan miliknya. Suaranya terdengar serak dan berat, seperti suara nenek itu.
Kami semua mundur, terpaku oleh ketakutan. Diah bangkit perlahan, lalu mulai berjalan ke arah kamar terakhir di ujung lorong. Kami hanya bisa menatap dengan ngeri ketika ia membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam, seolah-olah tubuhnya dikendalikan oleh sesuatu. Begitu pintu tertutup, suasana menjadi hening. Tak ada lagi langkah kaki, tak ada bisikan. Namun, ketakutan itu tetap menggantung di udara.
Dan sejak saat itu, Diah tidak pernah kembali seperti dulu. Ia selalu duduk di dalam kamar terakhir itu, menatap keluar dengan mata kosong, seolah-olah sedang menunggu sesuatu—atau mungkin orang lain untuk menggantikannya.
Rumah itu tetap kosong, tetapi setiap malam, suara langkah kaki berat dan bisikan lirih masih terdengar dari dalamnya. Dan di kamar terakhir, ada seseorang yang masih menunggu, mencari korban berikutnya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Anime Chainsmoker Cat Resmi Diumumkan, Kisah Beastman Kucing Pecandu Rokok
-
Anomali Maarten Paes, Naik Kelas Bergabung Raksasa Dunia saat Kompatriotnya Turun Kasta
-
4 Exfoliating Toner Lokal Glycolic Acid untuk Kulit Mulus Tanpa Cekat-Cekit
-
4 Inspirasi OOTD Clean Look ala Shuhua i-dle, Simpel tapi Chic Banget!
-
4 Serum Rambut Mengandung Ginseng untuk Rambut Lebih Sehat dan Anti Rontok