Desa Rinjani, sebuah permata tersembunyi di kaki gunung, selalu memancarkan aura ketenangan. Namun, ketenangan itu memiliki ritme aneh, terutama pada sore hari. Selepas waktu Asar, seolah ada isyarat tak terlihat, satu per satu pintu rumah di Desa Rinjani mulai tertutup rapat. Jendela-jendela yang tadinya terbuka lebar, kini diselubungi tirai tebal. Jalanan yang semula ramai oleh anak-anak bermain layangan dan ibu-ibu bercengkerama, mendadak sepi. Hanya embusan angin yang sesekali berbisik di antara pepohonan, membawa serta nuansa misteri yang kental.
Aku, Arana, seorang peneliti budaya yang sedang melakukan observasi di desa tersebut, merasa penasaran dengan kebiasaan unik ini. Beberapa kali aku mencoba bertanya kepada penduduk, namun jawaban yang kudapat selalu samar.
"Sudah jadi kebiasaan, Nduk," ujar Mbah Karni, wanita sepuh dengan kerutan dalam di wajahnya, sembari menuntun cucunya masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dari dalam.
"Angin sore di sini tidak baik," tambah Pak Suryo, pandai besi desa, sambil tergesa-gesa menutup gerbang bengkelnya. Penjelasan itu terasa seperti selubung tipis yang menutupi kebenaran yang lebih gelap.
Suatu hari, aku memutuskan untuk tidak ikut "menutup diri". Aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah Asar, saat bayangan pepohonan mulai memanjang dan langit berubah warna menjadi oranye keemasan, aku sengaja duduk di teras rumah kontrakan yang kusewa.
Aku mengamati setiap rumah yang satu per satu mengatupkan diri, seperti kelopak bunga yang layu di penghujung hari. Suasana menjadi hening. Terlalu hening. Bahkan suara burung pun seolah-olah ikut menghilang.
Kemudian, dari kejauhan, kudengar sebuah suara. Bukan suara angin, bukan pula suara hewan. Itu adalah suara seperti desahan panjang, seperti seseorang yang sedang menarik napas berat. Suara itu berulang, ritmis, dan semakin lama semakin mendekat. Aku mencoba melacak asal suara itu. Sepertinya berasal dari arah sawah yang terhampar luas di ujung desa, berbatasan langsung dengan hutan lebat.
Aku memberanikan diri berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di tepi sawah. Udara mulai terasa dingin dan bulu kudukku meremang. Suara desahan itu kini lebih jelas, bercampur dengan suara gemeresik dedaunan kering yang seolah-olah diinjak-injak sesuatu yang tak terlihat. Semakin dekat aku dengan batas hutan, semakin pekat pula aura mencekam yang kurasakan.
Tiba-tiba, di balik rerimbunan semak belukar yang tinggi, kulihat sesosok bayangan. Tinggi dan kurus, dengan rambut panjang tergerai yang menutupi wajahnya. Ia bergerak perlahan, seolah melayang di atas tanah, menuju ke arah desa.
Jantungku berdebar kencang. Aku tahu persis apa yang sedang kulihat. Itu adalah "penghuni" yang sering dibicarakan penduduk desa dalam bisikan-bisikan mereka. Sosok yang mereka yakini sebagai penyebab mengapa pintu-pintu harus ditutup rapat sebelum Magrib.
Sosok itu terus bergerak, semakin mendekat. Aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang setiap kali ia melangkah. Lalu, ia berhenti di tepi jalan, tepat di depan rumah-rumah yang tertutup rapat. Ia mengangkat tangannya yang kurus, menunjuk ke arah salah satu rumah, seolah-olah sedang mencari sesuatu. Suara desahan itu kini terdengar seperti rintihan, penuh kesedihan dan penyesalan.
Aku terkesiap saat ia tiba-tiba menoleh ke arahku. Mata hitamnya yang kosong menatapku lurus, seolah menembus jiwaku. Aku terpaku, tidak bisa bergerak. Ketakutan melumpuhkanku. Sosok itu tidak melakukan apa-apa, hanya terus menatapku dengan tatapan tanpa emosi. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mencoba menarikku, sebuah kekuatan tak kasatmata yang ingin mendekat. Sangat berat rasanya untuk melangkah.
Namun, sebelum ia sempat mendekat, kumandang azan Magrib tiba-tiba memecah kesunyian. Suara azan yang merdu itu seolah-olah menjadi tameng tak terlihat. Sosok itu tampak terkejut, sedikit mundur, lalu perlahan menghilang di balik kegelapan hutan. Aku terengah-engah, berusaha menenangkan detak jantungku yang berpacu. Aku tahu, aku baru saja menyaksikan alasan sebenarnya mengapa penduduk Desa Rinjani mengunci diri.
Keesokan harinya, aku kembali bertanya kepada Mbah Karni. Kali ini, aku menceritakan apa yang kulihat. Mbah Karni menghela napas panjang, tatapannya menerawang.
"Dulu, Nduk," katanya pelan, "ada seorang gadis desa yang meninggal karena bunuh diri di hutan itu, tepat setelah Asar. Ia merasa kesepian, tak ada yang mendengar keluh kesahnya. Sejak saat itu, arwahnya gentayangan, mencari teman, mencari seseorang yang mau mendengar. Ia tidak bermaksud jahat, hanya ingin ditemani."
Mbah Karni melanjutkan, "Jika ada yang berani menatapnya atau menyahut panggilannya di waktu Magrib, arwah itu akan mencoba masuk dan mendiami tubuhnya. Itulah mengapa kami menutup pintu rapat-rapat, bukan karena takut, tapi untuk melindungi diri dan menghormati arwahnya agar tidak semakin tersesat."
Aku mengerti sekarang. Ketakutan itu bukan sekadar tahayul, melainkan sebuah bentuk perlindungan dan penghormatan terhadap sebuah kisah tragis yang terpendam dalam ingatan kolektif desa. Sejak saat itu, setiap kali mendengar azan Magrib, aku selalu memastikan pintu dan jendelaku tertutup rapat, bukan lagi karena penasaran, melainkan karena rasa hormat dan pemahaman.
Baca Juga
-
Review Buku Wonderful Muslimah Karier: Sukses Berkarya Tanpa Melupakan Syariat
-
Satu Babak Patah Hati dan Langkah Baru dalam Novel I Love U, Bu Nurlia
-
Teror di Perlintasan Mati: Misteri Masinis Tanpa Kaki di Tengah Malam
-
Biografi Imam al-Bukhari: Menelusuri Jejak Ketelitian Sang Penulis Kitab Shahih
-
Lebih dari Menahan Lapar, Ini Hikmah Puasa Menurut Buku 'Puasa: Kado Spesial untuk Allah'
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Sinopsis Border 2, Film India yang Dibintangi Sunny Deol dan Varun Dhawan
-
4 Rice Cooker Digital Multifungsi dengan Fitur Lengkap untuk Sehari-hari
-
Bebas Aktif atau Bebas Selektif? Menyoal Kursi Indonesia di Forum Trump
-
Sifat Baik Daruz
-
Wajib Militer, Lee Jung Ha Absen dari Peran Kim Bong Seok di Moving Season 2