Neon sign berkedip-kedip tidak beraturan di luar The Wonderland Candy Bar, melemparkan bayangan aneh ke trotoar yang retak. Dulunya, tempat ini penuh keceriaan anak-anak, tawa, dan aroma permen kapas. Kini, yang tersisa hanyalah reruntuhan kenangan di pinggiran kota. Banyak rumor yang beredar tentang kecelakaan, hilangnya orang-orang, dan animatronik yang bergerak sendiri.
Di sisi lain, pekerjaan kian sulit dicari sehingga Alex butuh uang. Sebagai penjaga malam baru, ia memulai shift pukul tengah malam. Hal yang ia bawa hanya senter dan gantungan kunci berkarat.
Interiornya menyerupai labirin berwarna pudar dengan properti yang sudah berdebu. Lollipop raksasa menghiasi dinding dan mesin arcade berdengung pelan. Di panggung tengah berdiri bintangnya: Chuckle si Kanguru, Turbo si Tupai, Doyle si Angsa, dan Mr. Taz si Harimau. Mesin canggih era '80-an itu dirancang untuk menyanyi dan menari. Chuckle memegang mikrofon dengan kantong besar dan senyum yang bodoh. Turbo memegang biji di ekor lebatnya. Doyle membeku dalam pose honk dengan sayap terentang. Mr. Taz adalah yang paling besar; mata kuningnya tajam seolah mengikuti setiap gerakan.
Alex duduk di ruang keamanan yang sempit dengan monitor berkedip. "Ini pekerjaan yang mudah," gumamnya sambil meminum kopi dingin.
Ternyata, jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Dengung pelan dari ventilasi mungkin berasal dari AC. Ia mengecek kamera: ruang pesta kosong, dapur pun gelap, dan di panggung juga tidak ada gerakan. Namun, di kamera 1A, kepala Chuckle miring sedikit. Alex mengedip.
"Glitch," katanya sembari mengabaikan hal itu.
Pukul 01.00, keheningan terasa menyesakkan. Tawa anak-anak samar terdengar—terdistorsi dan metalik. Padahal, audionya kosong. Bayangan melesat di kamera lorong. Jantungnya berdegup kencang. Ia memutar kotak musik di meja sesuai catatan penjaga sebelumnya: "Putarlah terus, atau mereka akan gelisah." Siapa "mereka"? Animatronik tentunya. Legenda bilang roh anak-anak korban kebakaran menghuni mereka. Alex tertawa; ia pikir itu hanya mitos kota.
Pukul 02.00, listrik berkedip. Kali ini, kameranya mengarah ke Turbo yang sudah turun dari panggung; cakarnya bergetar.
"Mustahil."
Ia menekan tombol pintu sebelah kiri untuk menutupnya. Suara cakar mendekat.
Suara Turbo pecah di speaker: "Kacang untuk semua! Hehe!"
Seketika suara itu berubah menjadi jeritan. Kemudian, Alex mengintip lorong yang kosong. Ia lega untuk sesaat, lalu suara honk Doyle menggelegar dari ventilasi sebelah kanan. Senternya menangkap bulu mengkilap. Mata Doyle merah menyala; paruhnya membuka lalu menutup.
Panik mulai menyerang. Alex memantau kamera secara gila-gilaan. Mr. Taz masih di panggung, tetapi ekornya bergoyang.
Catatan memperingatkan: "Mereka berburu pada malam hari. Chuckle melompat, Turbo merayap, Doyle terbang rendah, sedangkan Taz mengintai."
Alex memutar kotak musik itu lagi; melodi yang lemah menjadi penghalang yang rapuh.
Pukul 03.00, tawa pun mendekat. Di ruang pesta, kantong Chuckle terbuka; isinya bukan bayi kanguru, melainkan gigi tajam. Ia melompat turun dan setiap lompatannya menggema keras. Alex teringat sejarah kelam bar itu. Pada tahun 1987, terjadi kerusakan listrik saat pesta ulang tahun. Percikan dari mesin permen kapas memicu kebakaran. Lima anak terjebak dan menjerit tenggelam oleh lagu animatronik. Pemilik kemudian menutupinya dan memprogram ulang bot dengan suara korban. Alex menyesal karena awalnya tidak percaya.
Dentuman terdengar di pintu. Wajah Chuckle menempel di kaca dengan senyum melebar tak wajar.
"Main petak umpet di kantongku!" suaranya seperti anak kecil bercampur statis.
Lalu, Alex menyalakan lampu—cahayanya menyilaukan. Chuckle mundur, tetapi Turbo sudah berada di ventilasi sembari mencicit gila.
"Tangkap aku kalau bisa!" Alex menutup ventilasi itu dengan jantung yang terus berdegup.
Pukul 04.00, listrik mulai menipis karena pintu boros daya. Doyle mengitari kamera dengan sayap mengepak diam. Ia menukik ke jendela kantor; paruhnya mengetuk seperti bor. Alex berteriak. Senter menyorot noda darah di bulunya yang sudah mengering. Khayalan? Tidak, ini nyata. Animatronik bukan sekadar mesin; mereka memiliki ingatan dan mereka lapar.
Mr. Taz kembali bergerak. Langkahnya lambat namun pasti. Raungannya menggetarkan gedung:
"Selamat datang di Wonderland, kesenangan tidak pernah berakhir!" yang kemudian berubah menjadi "Rasa sakit tidak pernah berakhir."
Alex mengecek jam; kurang dua jam lagi. "Aku harus bertahan," pikirnya.
Turbo masuk lebih dulu setelah gril ventilasi jatuh. Mata kecilnya menyala, ia menerjang dengan biji ekornya yang kini tajam. Alex mengayunkan senter dan menghantam kepala tupai itu. Percikan api beterbangan, tetapi Turbo berhasil menggigit lengan Alex. Darah mengalir. Alex melemparnya kembali ke ventilasi kemudian menguncinya. Rasa sakit membakar, tetapi adrenalin Alex mulai naik.
Chuckle menghantam pintu; kantongnya membengkak seolah ada yang hidup di dalamnya.
"Sembunyi di dalamku selamanya!"
Alex mengabaikannya dan fokus ke kamera. Doyle berada di dapur; suara honk-nya berubah menjadi tangisan. Mr. Taz mengintai di lorong; belangnya menyatu dengan bayangan.
Pukul 05.00, daya tinggal 20%. Luka Alex berdarah deras dan pandangannya mulai kabur. Bisikan terdengar dari speaker: suara anak-anak memohon, "Tolong kami... mereka memakai kami..." Bot tersebut adalah wadah jiwa yang terperangkap untuk membalas dendam pada yang hidup.
Mr. Taz tiba-tiba muncul di pintu sebelah kiri. Cakar besarnya menghantam dan mata kuningnya mengunci Alex. "Waktunya grand finale!" Untungnya, Alex menutup pintu tepat waktu, tetapi daya tinggal 10%. Doyle menyerang dari sebelah kanan dengan sayap yang menghantam. Alex menyalakan lagi lampu lorong; Doyle menjerit lalu mundur.
Chuckle dan Turbo mencoba bekerja sama. Chuckle mengalihkan perhatian, sementara Turbo menyelinap. Alex menyergap Turbo di udara, kemudian menghantamkannya ke meja. Tubuh tupai itu ambruk dan matanya meredup, tetapi desah suara anak terdengar: "Bebas..."
Satu jatuh, yang lain makin ganas. Mr. Taz mengaum dan seisi kantor dihancurkan. Suara Doyle berubah menjadi jeritan. Tawa Chuckle bergema di mana-mana.
Pukul 05.30, daya semakin kritis. Alex memutar kotak musik mati-matian, tetapi melodinya seakan melambat. Pintu gagal ditutup dan Mr. Taz menerobos dengan rahang terbuka lebar. Alex menghindar, mengambil kabel yang terlepas dari meja, lalu menyodorkannya ke mulut Taz. Arus listrik menyambar. Harimau itu kejang, bulunya berasap, lalu roboh. Suara anak laki-laki berbisik, "Terima kasih..."
Doyle kembali menyerbu. Alex mengalihkannya dengan senter, lalu melilitkan kabel ke lehernya. Bulu berhamburan dan Doyle akhirnya terjatuh. Tangis anak perempuan memudar: "Terima kasih, aku sudah tidak sakit lagi."
Sekarang tinggal Chuckle. Kanguru itu melompat masuk; kantongnya menganga seperti lubang hitam. Di dalam, ada bayangan anak-anak yang hilang. "Bergabunglah bersama kami!" Alex mundur ke sudut, tetapi cahaya fajar perlahan menyelinap. Alarm jam 06.00 pun berbunyi.
Chuckle membeku di udara karena mati daya. Alex pun ambruk. Ia berdarah, tetapi beruntung masih hidup. Namun, saat ia keluar dengan kaki terseret, tawa samar terdengar dari panggung. Bar itu belum selesai. The Wonderland Candy Bar mengklaim penjaganya, satu demi satu. Alex langsung berhenti bekerja hari itu, tetapi mimpi buruknya terus datang—mata yang mengawasi, menunggu korban berikutnya.
Bertahun-tahun kemudian, bar itu masih berdiri dan neon sign-nya masih berkedip. Jika ada anak-anak yang berkunjung ke sekitar bar itu, mereka pasti akan hilang. Setiap malam, animatronik itu bergerak. Chuckle, Turbo, Doyle, Mr. Taz—mereka ingat. Mereka pemburu. Permen Wonderland memang manis, tetapi rahasianya beracun.
Baca Juga
-
1 Jam Bersama Batsy
-
Review Film The Voice of Hind Rajab: Klaustrofobia Emosi di Ruang Panggilan
-
Review Film Coraline: Remastered 3D yang Seram dan Bikin Merinding!
-
Review Film Mercy: Paranoia Teknologi dan Keadilan Instan yang Menyeramkan!
-
Review Sengkolo: Petaka Satu Suro, Film Horor Brutal yang Kuras Emosi Aulia Sarah
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Publik Figur dan Moral Publik: Sampai Mana Kita Berhak Menuntut Sempurna?
-
Lula Lahfah Sempat Curhat Soal Kesehatan ke Keanu Agl Sebelum Meninggal
-
Review Film Utusan Iblis: Saat Kesunyian Menjadi Senjata Horor Psikologis Terbaik
-
Novel Saman: Pendobrakan Tabu Sosial di Tengah Politik Indonesia
-
5 Rekomendasi Film Sambut Akhir Pekan, Sebelum Dijemput Nenek