Sejak tiga bulan pernikahan, seperti ada sebuah jarak yang menganga antara istriku dan ibuku. Jarak itu begitu kurasakan. Kadang, tanpa sepengetahuannya, kudengar suara isak tangisnya dari balik pintu kamar. Suara pilu yang penuh beban. Aku hanya diam berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Mungkin sangat pantas jika aku disebut suami bodoh.
Aku melihat sebuah pemandangan yang tidak sedap pagi itu. Istriku dan Ibu bertengkar di dapur. Pertengkaran itu dipicu oleh aroma masakan. Sayur lodeh yang dimasak istriku ternyata tidak sesuai dengan selera ibuku. Suara Ibu begitu keras sehingga membuat istriku mundur dari dapur. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya agar butiran air mata tidak jatuh membasahi gaun yang dikenakannya. Aku hanya terpaku dari balik jendela ruang tamu. Mungkin aku pantas disebut suami yang bebal.
Aku buka pintu kamar secara perlahan. Perempuan berwajah persegi yang mengenakan kacamata berbentuk cat-eye itu sedang menangis tersedu-sedu. Tubuhnya tertelungkup di tempat tidur. Wajahnya ditenggelamkan dalam balutan selimut.
Kaki ini melangkah perlahan mencoba mendekati. Kubelai dengan lembut kepalanya yang masih mengenakan jilbab berwarna ungu.
“Maafkan atas sikap Ibu,” suaraku lirih seakan tak berdaya. Wajah yang sedang layu itu menatapku dengan tatapan nanar. Hanya suara isakan tangis yang keluar dari bibirnya. Tubuhku dipeluknya erat. Butiran air mata membasahi kaus putihku.
Pertama kali aku mengenalnya, aku sudah menerima segala kekurangan yang ia miliki. Memasak bukanlah salah satu keahliannya. Usia pernikahan kami masih terlalu muda untuk ukuran seumurannya. Ada jarak usia yang terpaut jauh antara aku dan dia. Bagiku, ia adalah perempuan yang sempurna di balik kekurangannya. Ketidakpiawaiannya dalam hal memasak bukanlah sebuah cela. Kesempurnaan seorang istri bukanlah diukur dari seberapa lihainya ia meracik bumbu, meski aroma masakan yang disajikannya tidak sesempurna masakan Ibu atau restoran. Bagiku, seorang istri adalah bentuk nyata dari kesempurnaan bidadari.
Di awal pernikahan, kami memutuskan untuk tinggal satu rumah dengan ibuku. Selama menjalani kehidupan rumah tangga, aku melihat kesungguhan sikapnya dalam memperlakukan ibuku seperti ibunya sendiri.
Pada suatu hari, istriku memasak sayur lodeh kesukaanku. Dia meracik bumbu sesuai petunjuk di buku resep. Sayur lodeh yang dibuatnya kucicipi, aromanya sedap sekali. Namun, ketika ibuku ikut mencicipi, tiba-tiba raut wajah beliau berubah masam. Ternyata menurut Ibu, sayurnya belum terlalu matang. Selain itu, Ibu melarang istriku memasak sayur lodeh lagi. Bahkan, Ibu bersikeras meracik sendiri bumbunya. Ucapan Ibu terasa sangat menyakitkan di telinga istriku. Akhirnya, Ibu memutuskan agar istriku berhenti memasak. Segala urusan dapur menjadi tanggung jawab Ibu. Semenjak itu, istriku merasa belum sempurna menjadi seorang istri karena salah satu kewajibannya tidak bisa ia penuhi.
Istriku berusaha legawa dengan keputusan Ibu demi kebaikan rumah tangga kami. Sebagai suami, kucoba tenangkan hatinya. Keikhlasannya membuatku semakin jatuh cinta pada bidadari bermata bening itu.
Hingga pada suatu hari, rasa putus asa mendatangi istriku. Pernah ia memintaku untuk mengantarkannya pulang ke rumah orang tuanya. Mendengar permintaan itu, aku sangat terpukul. Saat itulah aku merasa sangat bodoh dan tidak berdaya. Namun, aku juga menyadari kegelisahan yang dirasakan Ibu. Pengalaman pahitlah yang membuatnya menderita hingga luntur rasa percayanya pada orang lain, bahkan kepada menantunya sendiri.
Aku menuliskan sebuah pesan pada selembar kertas berwarna merah muda. Kertas itu aku lipat, lalu kumasukkan ke dalam amplop merah hati bergambar jantung yang terbelah dua. Kutaruh kertas itu di atas meja riasnya.
Istriku, hampir satu tahun usia pernikahan kita. Sungguh, aku tidak dapat memungkiri bahwa sepi yang dulu menjadi teman akrabku, kini menjelma menjadi kebahagiaan saat hati menghajatkan hadirmu di sisi. Aku akui bahwa aku hanyalah lelaki biasa dengan cinta yang biasa. Oleh karena itu, aku butuh hadirmu untuk menjadikan cinta ini tidak lagi biasa.
Istriku, aku sadari bahwa dalam dirimu melekat kekurangan. Namun, aku ingin kau tahu bahwa ketika rembulan tidak purnama, malam tetap terhiasi teduh cahayanya. Begitu pula inginku, walau tak sempurna, ketulusan dan keikhlasanmu tetap menjadi hiasan hidupku.
Istriku, dalam setiap untaian doaku selalu kusebut namamu. Istri yang salihah, yang cantik parasnya, semoga selalu bersamaku membangun rumah tangga hingga akhir nanti.
Istriku, maafkanlah aku jika sebagai lelaki aku belum bisa menjadi peneduh dalam dukamu. Aku belum pernah melihatmu sesedih ini hanya karena aroma masakan yang tidak sepadan dengan selera Ibu. Kau harus menerima kata-kata pedas darinya. Aku berharap kau selalu sabar menghadapi Ibu. Aku yakin semua ini tidak akan menyurutkan langkah kita untuk melayari bahtera ini. Suatu saat nanti, kau pasti dapat meluluhkan hati Ibu.
Salam sayang, suamimu.
Mata ini mengintip dari balik pintu kamar. Aku perhatikan wajah istriku larut dalam emosi saat membaca suratku. Setetes air mata bening jatuh perlahan. Aku berharap surat ini dapat membantunya memahami "bahasa" ibuku.
Di saat kami sedang menikmati suasana pagi, terdengar alunan suara gemericik air kolam di halaman. Sepasang mata ini disuguhi pemandangan taman kecil depan rumah dengan koleksi bunga milik Ibu yang berjejer rapi.
Suasana tenang itu buyar seketika saat bibir istriku bergetar. Wajahnya layu kembali, seakan ada beban yang tertanam sangat dalam. Sebagai suami, aku merasa bersalah. Apakah surat itu tidak cukup? Ia kemudian mengajukan pertanyaan yang seharusnya kujawab sejak awal pernikahan kami.
"Kenapa setiap masakan yang aku masak selalu saja tidak sesuai selera Ibu?"
Demi kelanggengan keluarga, aku memutuskan untuk membuka tabir rahasia itu.
“Perlu kamu ketahui bahwa dulu Ibu adalah seorang juru masak di sebuah restoran terkenal di Solo. Ibu bercerita padaku tentang sayur masakannya yang menjadi favorit pelanggan. Ibu bahagia setiap kali masakannya habis tak tersisa. Saat itu aku masih kelas enam SD."
"Hingga suatu hari, terjadi petaka yang tak terduga."
"Rumah makan tempat Ibu bekerja menggelar acara syukuran. Banyak tamu pemilik restoran yang datang. Ibu diminta memasak aneka masakan daerah, mulai dari gulai ayam, garang asem, gudeg Jogja, opor ayam, hingga sayur lodeh. Semua disajikan dengan cantik di atas meja jati besar. Tamu-tamu berbusana batik khas Solo menikmati masakan itu dengan lahap. Namun, setelah acara usai, para tamu merasakan keanehan di perut mereka. Mereka mengalami diare massal, bahkan ada yang pingsan karena menahan sakit. Pesta itu berubah menjadi bencana."
"Ibu tidak tahu kenapa masakannya berubah menjadi racun. Ibu mencurigai salah satu rekan kerjanya yang iri karena Ibu selalu mendapat bonus prestasi. Pemilik restoran, Pak Ching Ho, melakukan investigasi. Ibu sangat ketakutan hingga berlutut memohon ampun. Melihat kejujuran Ibu, akhirnya Pak Ching Ho menghentikan kasus hukumnya, tetapi Ibu diberhentikan tanpa pesangon. Semenjak peristiwa traumatis itu, Ibu menjadi sangat berhati-hati dalam memilih sayur dan bumbu masakan. Itulah alasan mengapa Ibu sangat cerewet padamu di dapur.”
Mendengar ceritaku, ia memelukku erat. Sebuah kata terucap dari bibirnya yang tipis, “Maafkan aku atas ketidaktahuanku. Aku pikir ada sebuah syarat untuk mencintaimu.”
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Lama Dinanti, The Angel Next Door Spoils Me Rotten Season 2 Umumkan Jadwal Tayang
-
Bertemu Kembali dengan Adrian dan Pocong Tinggi di Dekat Pemakaman
-
3 Alasan Wajib Nonton Honour, Drakor Thriller Hukum Adaptasi Serial Populer Swedia
-
4 OOTD Versatile ala Woochan ALLDAY PROJECT, Kasual ke Mid Formal Style
-
Sejak Kapan Gaji Minimum Jadi Benefit? Potret Buram Dunia Kerja Kita