Lalu, kudapati Sean berdiri sambil menatapku lekat dengan mata segaris dan ekspresi suram, seakan menegaskan jati dirinya yang bukan (lagi) seorang manusia. Tangannya terborgol, pakaiannya terkena percikan darah, dan dia digelandang oleh dua orang polisi sehingga memutus pandangan kami.
Ini tentang dunia yang tidak mudah dipahami ....
“Seingatku, kamu ada kebun di depan rumah kan, Sean?”
Sean menoleh ke belakang, di mana aku mengekorinya berjalan. “Iya sih dulu. Tapi sudah dipindah ke belakang rumah. Biar nggak horor.”
“Memangnya berhantu ya?” tanyaku.
Sean tertawa. Dia kemudian berhenti dan berjalan beriringan denganku. “Aku pernah bilang kan. Dulu pas aku pulang kuliah malam, ada suara perempuan manggil dari kebun depan. Padahal nggak ada siapapun.”
Aku mengangguk.
Sean sendiri adalah teman satu angkatan di SMA yang kukenal sejak masa orientasi sekolah. Pada akhirnya, kami tidak sekelas, tetapi masih sering berkomunikasi seputar materi pelajaran hingga tutorial menggambar karena aku payah.
“Eh, ada acara di rumahmu?” tanyaku saat melihat beberapa mobil dan motor terparkir di depan rumahnya. Padahal seingatku, dulu tempat itu adalah kebun.
Sean mengedikkan bahu. “Acara makan-makan, kumpul keluarga. Gitulah.”
“Nggak apa-apa aku datang?”
“Aman.”
Jujur, aku tiba-tiba lupa alasan bertamu ke rumah Sean. Tiba-tiba kami sudah berjalan kaki beriringan dan masuk ke dalam rumah Sean. Tampaklah beberapa orang yang tidak kukenali.
“Lho, Sean. Ini siapa?” tanya seorang perempuan paruh baya yang memakai kebaya ungu.
Aku diam dan memilih menyalami orang-orang di situ. Sean kemudian mempersilakan aku duduk di sofa sebelum dia turut duduk di sampingku.
“Temanku, Bude. Namanya Friska.”
“Oh, teman SMA yang pernah kamu kasih bibit mandevilla ungu itu ya?” imbuh perempuan lain yang kutahu adalah ibunya Sean.
“Iya, Buk,” jawab Sean singkat.
Kudapati semua orang memandangku penuh arti. Heh, apa?!
Sean kemudian menyodorkan sepiring kudapan yang berisi sate telur puyuh bakar, kue bikang, kue pukis, kue lapis, hingga ketan kukus dan bubuk kedelai. Melihatku tercenung sebelum menerima piring tersebut, Sean kemudian terkekeh geli.
“Santai. Ini halal kok. Kami order di katering Mak Sum, dekat SMA kita dulu.”
Aku mengangguk dan mulai memakan kudapan itu, berusaha mengabaikan tatapan lekat dari orang-orang di tempat ini atau sesekali melihat ke satu lukisan abstrak yang tergantung di satu sudut tembok.
“Mau lihat kebun?” tawar Sean setelah piringku kosong. “Bunga bangkaiku mekar lho.”
Aku mengangguk semangat dan beranjak mengekorinya yang berjalan ke belakang rumah. Hingga keberadaan kebun yang menghijau dan berhias beberapa bunga warna-warni menyambut mataku.
Setahuku, Sean dari dulu hobi menanam bunga atau bahkan sayuran. Dia juga menjual hasil panennya di toko online, bahkan mendalami ilmu kultur jaringan hingga rekayasa genetika di kampus. Mungkin karena itulah, dia kerap diejek sebagai ‘banci’ karena kesukaannya pada tanaman dan beberapa bunga hias. Manusia memang aneh. Apa salah kalau ada lelaki yang hobi berkebun bahkan menanam bunga?
“Jadi, gimana kabar mandevilla ungu yang kukasih ke kamu, Fris?” tanya Sean memecah keheningan.
Aku nyengir malu. “Mati. Lupa disiram.”
“Bibit moringanya tumbuh?”
Lagi-lagi aku nyengir. “Tumbuh subur. Tapi dipatahin sama sepupuku yang masih bocil waktu mereka main ke rumah.”
Kupikir Sean bakal mengamuk. Rupanya dia hanya tertawa terbahak-bahak. Barangkali dia ingat kalau aku payah di bidang menggambar dan berkebun. Sean dulu pernah memberikan bibit pohon moringa, bunga mandevilla, dan tanaman hias lain yang berujung apes di tanganku. Padahal, aku sudah mengikuti instruksinya dalam perawatan tanaman, mulai dari penyiraman, takaran pemupukan, dan penempatannya agar terkena sinar matahari.
Tetap saja, mati. Tidak bakat sekali aku berkebun.
“Berasa adem kan disini?” celetuk Sean sebelum mendekati barisan sawi pokcoy. Ternyata, ada siput di salah satu polybag-nya. “Disini dulu aja gimana? Kamu kelihatan nggak nyaman di dalam sana.”
Aku mengangguk. “Budhemu tadi seram. Matanya kayak mau keluar.”
Sean terkekeh. “Dikira kita ada hubungan kali. Dasar pikiran emak-emak.”
Aku tertawa sebelum memutuskan untuk berkeliling kebun. Tempat ini teduh dan sejuk karena penuh tanaman. Di sebelah utara ada barisan sayuran yang ditanam dalam polybag. Tersusun atas sawi pokcoy, sawi caisim, cabai rawit, cabai merah, kubis, selada, bayam, bayam Brasil, kangkung, kemangi, bahkan varian tomat.
Kemudian, di sebelah selatan barulah khusus area tanaman hias dan bunga. Aneka warna mawar, melati, janda bolong, suplir, semak ekor tupai, rumpun bunga telang, pandan wangi, bawang dayak, pakis-pakisan, mandevilla ungu, bunga sepatu, hingga sederet anggrek. Yang membuat takjub tentu saja anggrek bulan yang terkenal mahal.
“Itu Jenggot Musa,” celetuk Sean saat aku mengamati tanaman di pot gantung. “Nama ilmiahnya aku lupa.”
Tanaman itu mirip dengan benang wol yang berantakan. Tidak ada daun, murni hanya ‘benang wol’ putih yang tampak kusut. Pot gantung membuatnya terkesan jatuh yang justru menambah daya tariknya.
“Lihat, bunga bangkai-ku mekar,” katanya semangat. “Harusnya itu dulu tempat jeruk lemon. Eh, malah numbuh bunga bangkai.”
“Wah, keren,” kataku. “Tapi baunya busuk wey.”
Sean tertawa. “Namanya juga bunga bangkai.”
Kulihat bunga bangkai itu setinggi dua puluhan senti di atas tanah. Mekar dengan perpaduan warna merah marun hampir cokelat dan beraroma menyengat yang membuatku menutup hidung.
Kulihat Sean tersenyum lebar dengan sorot mata bahagia. Lelaki ini seperti menemukan harta karun berharga. Kalau dipikir-pikir, mekarnya bunga bangkai ini juga langka dan tidak terduga.
“Kamu tahu, Fris, hanya karena aku hobi berkebun bunga, dikata aku bukan lelaki,” gumam Sean lirih. “Memang nggak boleh ya, kalau lelaki punya florist?”
Aku diam sejenak. “Asal kamu kerja halal, nggak mencuri, itu nggak apa-apa, Sean.”
Terkadang, Sean bercerita bahwa dia diejek atas hobinya yang dibilang sebagai hobi perempuan. Atau karena sifatnya yang cenderung pendiam dan introvert, dia dihina dan disindir terang-terangan. Sean juga bilang sempat ingin mengubah identitas, atau yang paling ekstrem melakukan bunuh diri. Tentu saja aku melarangnya dan mencoba memberinya motivasi untuk bangkit. Kini, terbukti dia sukses menjalankan usaha florist di salah satu kota besar, bahkan memiliki banyak karyawan.
“Aku keluar sebentar ya,” pamit Sean tiba-tiba. “Betulan cuman sebentar.”
Aku mengiyakan saat Sean berlari terburu-buru dengan ekspresi misterius. Jujur, aku belum pernah melihat ekspresinya tadi. Di mana sorot matanya bak mata serigala dan bibir yang mengatup rapat-rapat. Seolah-olah ekspresi bahagia saat melihat bunga bangkai yang mekar tadi tidak pernah ada.
Cukup lama aku berada di kebun ini. Entah mengamati tetumbuhan yang subur, atau sekadar menunggui laba-laba yang membungkus kupu-kupu mungil yang terperangkap di sarangnya. Hingga teriakan panik ibu Sean terdengar.
“Friska! Gawat! Sean mengebom kafe!”
Heh?! Huru-hara macam apa ini?
Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, ibu Sean langsung menarik tanganku berlari. Kami menyusuri tepian jalan aspal dan berhenti di depan sebuah kafe yang porak-poranda. Ada asap mengepul tinggi dan percikan darah di segala penjuru lokasi. Banyak korban jatuh bergelimpangan. Petugas medis membawa para korban ke dalam ambulans. Ada yang masih bernapas di atas brankar, ada yang terbungkus kantong jenazah.
Lalu, kudapati Sean berdiri sambil menatapku lekat dengan mata segaris dan ekspresi suram, seakan menegaskan jati dirinya yang bukan (lagi) seorang manusia. Tangannya terborgol, pakaiannya terkena percikan darah, dan dia digelandang oleh dua orang polisi sehingga memutus pandangan kami.
Orang-orang berteriak histeris. Dan bunyi alarm berhasil membuatku bangun dari tempat tidur. Dengan pikiran yang kembali pada entah kejadian apa tadi, tetapi kesadaran membawa kembali fakta bahwa Sean kini sudah menetap di Jakarta.
“Itu bukan Sean. Entah siapa, entah apa,” bisikku seraya mengusap wajah kasar. “Sepertinya aku lupa berdoa.”
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Memori 1989: Titik Balik Hidup dan Genggaman
-
Bye Kusam! 4 Cleanser Glycolic Acid Angkat Sel Kulit Mati untuk Kulit Cerah
-
4 Pelembap Lokal Madecassoside Atasi Redness dan Dehidrasi Kulit Sensitif
-
Ulasan Novel Muslihat Berlian: Perburuan Masa Depan yang Keseleo!
-
Digelar di Tokyo, Crunchyroll Anime Awards Edisi ke-10 Hadirkan 32 Kategori