Bimo Aria Fundrika | Khoirul Umar
ilustrasi pintu yang seram (gemini.ai)
Khoirul Umar

Aku pindah ke rumah kontrakan ini karena murah dan dekat tempat kerja. Bangunannya tua, catnya mengelupas, tapi masih layak. Pemiliknya seorang ibu paruh baya yang jarang bicara.

Waktu menyerahkan kunci, ia hanya berpesan singkat, nyaris berbisik, “Kalau dengar ketukan dari dinding kamar belakang… jangan dijawab.”

Aku tertawa kecil, mengira itu cuma candaan untuk menakut-nakuti penyewa baru.

Malam pertama berjalan biasa. Aku capek, makan seadanya, lalu tidur.

Sekitar jam dua dini hari, aku terbangun oleh suara tok… tok… tok.

Pelan, teratur, seperti orang mengetuk kayu dengan kuku. Sumbernya jelas dari dinding di sisi kepala tempat tidur. Dinding itu menghadap ke luar, ke arah pekarangan sempit yang berbatasan dengan tembok tetangga. Tidak ada pintu, tidak ada jendela.

Aku menahan napas. Mungkin tikus, pikirku. Atau pipa tua. Ketukan berhenti. Aku kembali tidur.

Malam kedua, suara itu datang lagi. Kali ini lebih keras.

Tok. Tok. Tok.

Ada jeda, lalu tok tok cepat, seolah-olah tidak sabar. Aku bangun, menempelkan telinga ke dinding.

Dingin. Padat. Tidak ada rongga.

Ketukan berhenti tepat saat telingaku menempel. Aku merinding. Ingat pesan ibu pemilik rumah, aku memilih diam.

Hari berikutnya, aku tanya tetangga sebelah. Bapak tua yang rumahnya berdempetan. Ia mengernyit ketika kusebut ketukan.

“Di dinding belakang?” tanyanya pelan. Aku mengangguk. Ia tidak menjawab, hanya mengunci pagar lebih rapat dari biasanya.

Malam ketiga, ketukan datang lebih awal, jam sebelas. Polanya berubah. Tiga ketukan pelan, dua ketukan cepat, satu ketukan panjang. Seperti sandi. Aku duduk di tepi ranjang, tangan gemetar.

Ponselku kuhidupkan, kubuka senter, kuarahkan ke dinding. Tidak ada apa-apa. Tapi di sela ketukan, aku mendengar sesuatu yang membuat dadaku serasa diremas—suara napas, berat, dekat sekali.

“Permisi,” bisik suara itu. Sangat pelan, tapi jelas. “Ada orang?”

Aku menutup mulut dengan tangan. Napasku tercekat. Suara itu bukan datang dari luar. Rasanya dari dalam dinding. Dari balik tembok yang tidak punya ruang.

Aku mengingat pesan itu lagi: jangan jawab.

Ketukan berhenti. Napas menghilang. Malam itu aku tidak tidur.

Pagi harinya, aku menemukan bekas tipis di dinding. Seperti goresan kuku, membentuk garis-garis pendek. Aku mencoba menghapusnya, tapi bekas itu seperti menyatu dengan cat lama. Aku menutupinya dengan poster.

Malam keempat, ketukan datang lebih kasar. Duk. Duk. Duk. Seolah-olah sesuatu menghantam dari dalam. Poster di dinding bergetar, ujungnya terlepas. Aku mundur sampai punggungku menempel lemari. Lalu suara itu kembali, lebih jelas, lebih dekat.

“Tolong jawab,” katanya. “Aku di sini.”

Aku menutup telinga. Air mata mengalir tanpa kusadari. Di sela ketukan, terdengar gesekan—seperti sesuatu menyeret diri di balik tembok. Bau lembap, amis, memenuhi kamar. Aku muntah di lantai.

Ketukan berhenti mendadak. Sunyi. Terlalu sunyi.

Aku memutuskan pergi ke rumah pemilik kontrakan keesokan paginya. Ibu itu mendengarkanku tanpa ekspresi. Saat kuceritakan suara dan bekas di dinding, wajahnya mengeras. “Kamu belum menjawab, kan?” tanyanya. Aku menggeleng cepat.

“Bagus,” katanya. “Tetap begitu.”

Aku mendesak penjelasan. Ia menghela napas panjang. Dulu, katanya, rumah itu pernah ditempati seorang pria yang menyekat kamar belakang untuk “proyek”. Tetangga sering dengar ketukan, tapi tidak ada yang berani menegur. Suatu malam, rumah itu kebakaran kecil. Api padam, tapi pria itu menghilang. Sejak itu, ketukan muncul. Setiap penyewa yang menjawab… tidak bertahan lama.

“Tidak bertahan bagaimana?” tanyaku, suaraku pecah.

Ibu itu menatapku lama. “Mereka jadi bagian dari dinding,” katanya lirih.

Aku pulang dengan kaki gemetar. Malam kelima, aku bersiap pindah. Kardus-kardus tersusun di ruang tamu. Aku berniat tidur sebentar sebelum subuh, lalu pergi. Ketukan datang lagi, paling keras sepanjang minggu. DUK! DUK! DUK! Dinding bergetar. Retakan halus muncul dari balik poster yang sudah jatuh.

“Jawab,” suara itu kini serak, marah. “Aku sudah menunggu.”

Retakan melebar. Dari celahnya, sesuatu hitam mengalir seperti bayangan kental. Aku mundur, terjatuh. Ketukan berubah jadi hantaman. Aku menjerit, menutup mulutku sendiri agar tidak menjawab apa pun.

Di tengah kekacauan itu, ponselku bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal. Hanya satu kalimat: JANGAN JAWAB.

Aku merangkak keluar kamar, menyeret kardus terdekat sebagai penghalang. Ketukan berhenti tepat saat aku menutup pintu kamar belakang. Sunyi kembali. Bau amis menghilang. Aku menunggu sampai subuh, duduk di lantai dengan lampu menyala.

Aku pindah hari itu juga.

Beberapa minggu kemudian, aku lewat depan rumah itu. Ada penyewa baru. Anak muda, ceria, menenteng gitar. Aku ingin memperingatkan, tapi lidahku kelu. Dari luar, rumah itu tampak biasa. Senja turun, lampu kamar belakang menyala.

Malamnya, saat aku sudah jauh di tempat lain, ponselku bergetar lagi.

Nomor tak dikenal.

Pesan baru: Tok. Tok. Tok.

Aku mematikan ponsel. Menutup mata. Dan berjanji pada diri sendiri—apa pun yang terjadi, dari dinding mana pun, jangan pernah menjawab ketukan dari dinding itu.