"Penyalin Cahaya" adalah film asal Indonesia yang disutradarai oleh Wregas Bhanuteja. Film ini rilis pada tahun 2022 dan berhasil menyabet banyak penghargaan, termasuk Piala Citra untuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia.
Film ini bercerita tentang Sur (Shenina Cinnamon), seorang mahasiswi yang tiba-tiba kehilangan beasiswanya karena beredar foto dirinya dalam keadaan mabuk di sebuah pesta teater kampus. Anehnya, Sur tidak mengingat apapun tentang malam itu. Ia yakin ada yang tidak beres.
Dengan rasa penasaran sekaligus frustrasi, Sur mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Melalui temannya, Amin (Chicco Kurniawan), yang bekerja di tempat fotokopi. Ia mengakses berbagai dokumen, foto, dan rekaman CCTV untuk mencari petunjuk. Dari sana, Sur akhirnya mengetahui bahwa ia adalah korban kekerasan seksual, dan pelakunya bukanlah orang sembarangan.
Pelaku berada di lingkaran komunitas teater kampus, sebuah kelompok yang dihormati banyak pihak. Sur pun menghadapi dilema besar, membongkar kenyataan yang menyakitkan ini berarti melawan orang-orang yang punya posisi penting, bahkan berpengaruh dalam hidupnya.
Di tengah upaya mencari kebenaran, Sur juga harus berhadapan dengan lingkungan kampus yang lebih memilih diam demi menjaga nama baik.
Review Film Penyalin Cahaya
"Penyalin Cahaya" memang pantas disebut sebagai film yang berani. Film ini membuka perbincangan tentang isu yang sering dianggap tabu di masyarakat Indonesia, yakni kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dan bagaimana sistem seringkali lebih memihak pelaku daripada korban.
Akting Shenina sebagai Sur layak diacungi jempol. Ia berhasil menggambarkan sosok anak muda yang kebingungan, marah, tetapi tetap berusaha mencari jalan keluar. Aktingnya terasa natural dan membuat penonton mudah berempati pada perjuangannya.
Dari segi visual, film ini memiliki gaya sinematografi yang khas. Suasana gelap, warna-warna kusam, dan latar tempat yang sempit menggambarkan tekanan psikologis yang dialami Sur. Bahkan mesin fotokopi dalam film ini menjadi simbol yang kuat tentang bagaimana fakta bisa direproduksi, dihapus, atau bahkan dipalsukan oleh pihak yang berkuasa.
Namun, meskipun film ini kuat dari segi tema dan pesan, ada hal yang cukup mengganggu di pertengahan cerita. Alih-alih fokus pada pencarian pelaku kekerasan seksual yang menjadi inti cerita, alurnya justru terasa melebar ke banyak arah.
Sur memang berusaha mencari tahu siapa pelaku sebenarnya, tapi di pertengahan film, cerita seperti kehilangan fokus. Penonton disuguhi terlalu banyak konflik tambahan. Memang, semua isu itu relevan dengan tema besar tentang kekuasaan dan manipulasi, tapi efek sampingnya membuat film terasa penuh sesak.
Akibatnya, intensitas konflik utama terasa kurang tajam di bagian tengah film. Fokus Sur sebagai korban yang mencari keadilan seakan sedikit kabur di balik tumpukan isu lain yang juga ingin diangkat oleh naskahnya.
Meski begitu, "Penyalin Cahaya" tetaplah film yang berani dan bermakna. Film ini bukan sekadar hiburan, tetapi karya yang memantik diskusi tentang kekerasan seksual, budaya tutup mulut, dan bagaimana sistem sering memihak pelaku yang punya kekuasaan.
Film ini mengingatkan kita bahwa korban sering kali dibungkam dengan berbagai cara, baik secara langsung maupun tidak langsung, oleh lingkungan yang lebih mementingkan citra daripada keadilan.
"Penyalin Cahaya" adalah film yang patut diapresiasi karena keberaniannya membongkar isu yang kerap diabaikan. Meskipun di pertengahan cerita alurnya terasa terlalu melebar dan membuat fokus pencarian pelaku menjadi kabur, secara keseluruhan film ini tetap berhasil menyampaikan pesan penting tentang ketidakadilan terhadap korban kekerasan seksual.
Bagi kamu yang ingin menonton film Indonesia dengan tema sosial yang kritis, "Penyalin Cahaya" adalah pilihan yang tepat. Meski tidak sempurna, film ini tetap meninggalkan kesan mendalam dan membuka mata tentang kenyataan gelap di balik institusi yang seharusnya aman.
Baca Juga
-
Warung Mekar Jaya, Menikmati Gurihnya Nasi Genjes Khas Kota Malang
-
Ulasan Buku The Art of Stoicism, Misi Pencarian Makna tentang Kehidupan
-
Fenomena Job Hugging, Tanda Loyalitas atau Karier Stagnan?
-
Mengubah Hobi Jadi Gaya Hidup Sehat Lewat Olahraga Futsal
-
Futsal dan Tren Urbanisasi: Solusi Ruang Terbatas di Lingkup Perkotaan
Artikel Terkait
-
Review Film O' Romeo (2026): Kisah Cinta Gangster Mumbai yang Puitis dan Brutal
-
Sinopsis This is I, Film Jepang Terbaru Haruki Mochizuki di Netflix
-
Kim Hye Yoon Hadapi Teror Waduk Misterius di Film Horor Whispering Water
-
Kristen Bell Gabung Film Live Action Sonic the Hedgehog 4 sebagai Amy Rose
-
Film Mumu: Hadirkan Emosi Tanpa Dialog yang Kuat dan Menguras Air Mata
Ulasan
-
Ketika Misi Putus Berubah Jadi Boomerang di Novel Algoritme Rasa
-
Drakor The Art of Sarah, Identitas Palsu yang Muncul Akibat Ambisi
-
Ulasan Novel Love Unwritten, Kisah Ibu Tunggal dan Miliarder yang Terluka
-
Review Film O' Romeo (2026): Kisah Cinta Gangster Mumbai yang Puitis dan Brutal
-
Jadi Pelajar Harus Sukses: Upaya Menggali Motivasi Belajar
Terkini
-
4 Hybrid Sunscreen Bikin Wajah Cerah, Pudarkan PIH, dan Proteksi Sinar UV
-
Tren Mobil Listrik vs Mobil Bensin: Mana yang Lebih Layak untuk Indonesia?
-
Robohnya Musala di Kampung Kami
-
Implikasi Psikologis People Pleasing dalam Buku Berani Tidak Disukai
-
Tradisi Megengan Kediri: Kenduri Jawa Menyambut Bulan Ramadan