Mudik sudah menjadi tradisi yang mendarah daging bagi keluarga kami. Setiap tahunnya, kami selalu mengunjungi saudara-saudara ibu yang berada di Provinsi Sumatra Barat. Jumlah saudara di sana begitu banyak hingga membuat saya menganggap diri sendiri sebagai seorang anak yang pelupa.
Ketika ibu mengenalkan saudaranya, saya mengangguk seolah akan mengingatnya sepanjang hayat. Kurang lebih seperti ini cara ibu mengenalkannya, “Nak, ini Mak Uncu, Mak Adang, Mak Etek, Mak Uwo, Mak Angah, Mak Uniang.” Sulit rasanya menghafalkan wajah-wajah mereka yang hanya terlihat satu tahun sekali.
Selain itu, ada cerita yang lebih konyol sekaligus seram. Pada tahun 2023, saya bersama keluarga pergi mudik pertama kali melalui jalur darat. Kami mengajak Novi, tetangga satu perumahan, untuk menjadi sopir selama perjalanan. Ia pernah berkendara ke daerah kami sebelumnya. Kampung halaman kami dan Novi terletak di provinsi yang sama, hanya saja jaraknya berbeda beberapa puluh kilometer.
Biasanya ketika akan menempuh perjalanan jauh, saya selalu meminta ayah memberi tahu lokasi yang akan dituju. Lalu, aplikasi navigasi langsung saya buka. Hal itu dilakukan agar tidak salah rute. Namun, berbeda dengan kondisi saat ini. Ayah dan ibu merasa tidak perlu menggunakannya, karena Novi sudah paham betul rute yang akan dilewati.
Saya sempat berdebat dengan ayah dan ibu sebelum berangkat untuk tetap menggunakan navigasi selama perjalanan, tetapi mereka bersikeras untuk mengikuti jalur yang dilalui Novi dengan alasan yang sama. Akhirnya, saya memutuskan untuk diam dan mengikuti saja apa yang direncanakan, walaupun muncul sedikit rasa merajuk.
Perjalanan mudik pun tiba, ketika bertolak ke pelabuhan hingga menyeberang pulau dan keluar dari Gerbang Tol Kramasan di Palembang semuanya masih baik-baik saja. Saat itu, tol di Sumatra yang menuju kampung halaman saya saat itu baru selesai dibangun hingga Palembang. Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan melalui Jalan Lintas Sumatra.
Hari semakin malam. Sepanjang jalan gelap gulita karena nyaris tanpa penerangan. Bahkan, saya tak tahu bagaimana awalnya kami tersesat, karena selama di perjalanan tidur pulas. Mungkin ini adalah satu-satunya cara yang saya lakukan untuk melampiaskan rasa kesal saat itu.
Saat terbangun, sekeliling sudah gelap gulita. Setelah melihat jam, rupanya sudah pukul 3 pagi dan kami belum juga menemukan jalan yang tepat. Orang tua saya pun memutuskan berhenti di Rumah Makan Padang sebagai tempat peristirahatan sembari mengisi perut. Kami juga melakukan salat malam di musala setelahnya.
Saya merasa janggal dengan peristiwa yang kami alami. Keanehan itu kemudian terungkap dari cerita ibu yang menyeramkan. Ibu bercerita bahwa di sepanjang jalan sempat terjadi kecelakaan. Beberapa truk sawit melintas, tetapi selebihnya jalanan terasa sangat sepi, seolah-olah tidak ada kendaraan lain yang melewati jalur itu. Alhasil, saya pun menduga sepanjang malam kami telah melintasi jalan di tengah hutan belantara atau kawasan hutan sawit yang entah di mana ujungnya.
Setelah kami bertanya kepada karyawan rumah makan tersebut, barulah terungkap bahwa ternyata kami masih berada di Jambi. Sejak malam hingga dini hari, kami rupanya berputar-putar di wilayah yang sama. Kami juga sempat heran saat membayar ke kasir, tagihannya mencapai Rp200.000, padahal makanan yang kami pesan tidak banyak.
Kejanggalan itu membuat saya makin gelisah. Terlebih lagi setelah keluar dari sana, terlintas di pikiran saya untuk memeriksa kaki setiap orang di rumah makan itu. Jangan-jangan mereka semua makhluk jadi-jadian. Akhirnya, kami beranjak ke rute yang tepat setelah terbit mentari.
Tahun berikutnya, kami mudik tanpa Novi. Ada sedikit kekecewaan di lubuk hati orang tua saya karena sikapnya yang seolah paling tahu segalanya. Namun anehnya, selama perjalanan mudik kali ini kami sama sekali tidak tersesat. Kami juga tidak pernah lagi menemukan jalanan maupun rumah makan seperti yang dulu.
Kadang terlintas pikiran yang membuat merinding, jangan-jangan Novi yang waktu itu ikut bersama kami juga… sudahlah. Saya tidak ingin melanjutkan ceritanya. Cukup sampai di sini dan terima kasih.
Baca Juga
-
Korban Keracunan Jadi Tumbal Statistik: Benarkah MBG Berhasil Terlaksana?
-
Kesehatan Mental Generasi Muda: Antara Tantangan dan Layanan Pemerintah
-
Analisis Linguistik: Evaluasi Struktur Bahasa Ikrar Pelajar Indonesia
-
Guncang Panggung! Teater Nala di SMA Negeri 1 Purwakarta Tuai Apresiasi
-
Minuman Beralkohol vs Kopi Gula Aren: Gen Z Lawan Emisi Bikin Industri Miras Gigit Jari
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Persahabatan Pelangi dan Awan Kecil
-
Ramadan Lebih Berkah! 3 Cara Cerdas Manfaatkan Teknologi saat Jalani Puasa
-
Subscription Fatigue: Ketika Hidup Menjadi Versi Trial yang Mencekik Saldo
-
Membedah Obsesi Manusia dalam Novel Annie Bot Karya Sierra Greer
-
4 Pelembap Red Algae untuk Kulit Lebih Kenyal dan Kencang Sepanjang Hari