Musala Al-Ikhlas berdiri sederhana di ujung kampung kami, seolah-olah sengaja diletakkan paling akhir agar orang-orang yang datang membawa lelah bisa menurunkannya perlahan. Dindingnya kusam, cat hijau pucatnya mengelupas seperti kulit tua. Atapnya bocor tiap musim hujan, meneteskan air tepat di sudut saf depan. Sajadahnya sudah menipis, serat-seratnya terurai, mirip kesabaran warga yang terlalu sering diuji, tetapi tidak pernah benar-benar habis.
Namun, di sanalah kami belajar mengaji, berdoa, dan menaruh segala kepenatan hidup. Anak-anak mengeja huruf hijaiyah dengan suara cadel. Orang-orang tua menghela napas panjang selepas salat, seolah-olah musala itu satu-satunya tempat mereka bisa jujur pada rasa letih sendiri.
Aku ingat betul sore itu.
Langit kelabu, angin kering membawa debu dari jalan tanah. Warga berkumpul di teras musala, duduk melingkar di bangku kayu dan tikar lusuh. Bau kopi hitam bercampur tanah kering dan peluh. Suasana yang biasanya hangat terasa tegang, seperti ada sesuatu yang hendak diambil secara paksa.
"Kalau mau direnovasi total, ya harus dibongkar dulu," kata Haji Dulah sambil menyilangkan tangan. Nada suaranya tenang. Terlalu tenang untuk sebuah keputusan besar.
Ustaz Irfan duduk di pojok, memeluk map lusuh berisi proposal renovasi. Kertas-kertasnya sudah berkali-kali direvisi, penuh coretan dan harapan yang ditulis hati-hati.
"Tetapi dananya belum masuk, Ji," ujar Ustaz Irfan pelan, hampir seperti berbisik.
Haji Dulah tersenyum tipis. "Tenang, Ustaz. Donatur itu orang besar. Katanya dananya siap. Dua miliar lebih. Kita jangan ragu sama orang yang berniat bantu rumah Allah."
Sebagian warga mengangguk. Anggukan yang lahir dari kelelahan: lelah melihat musala makin reyot, lelah bermimpi punya tempat ibadah yang layak. Sebagian lain diam. Aku termasuk yang diam, diam yang sebenarnya ingin menjerit, tetapi tidak tahu bagaimana caranya.
Ustaz Irfan bukan orang kaya. Ia hanya guru ngaji kampung yang hidup dari honor seadanya. Sepedanya tua, sandalnya tipis, dan bajunya sering itu-itu saja. Namun, musala ini adalah hidupnya. Setiap azan keluar dari mulutnya seperti doa yang diserahkan bulat-bulat kepada langit, tanpa syarat.
"Kalau bangunan lama masih berdiri," lanjut Haji Dulah, "mana mungkin bantuan turun? Donatur maunya proyek baru. Bersih. Modern."
Kalimat itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ditolak. Dan sering kali, yang paling berbahaya memang bukan kebohongan, melainkan sesuatu yang terdengar benar.
Hari itu, palu pertama menghantam tembok musala.
Suara retaknya keras, menggema sampai ke dada. Aku melihat Ustaz Irfan memejamkan mata saat dinding itu runtuh. Debu mengepul, menyesakkan, seperti doa-doa yang tercecer ke udara. Sejak hari itu, azan tidak lagi berkumandang. Musala kami berubah menjadi puing dan harapan.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dana tidak kunjung datang.
Nomor donatur yang katanya "sedang di luar negeri" tidak lagi aktif. Pesan hanya centang satu. Haji Dulah mulai jarang muncul. Jika pun datang, jawabannya selalu sama, diucapkan dengan nada datar.
"Sabar. Ini ujian."
Ujian yang terasa terlalu berat untuk sekadar disuruh sabar.
Suatu malam, aku melihat Ustaz Irfan duduk sendirian di bekas mihrab yang tinggal puing. Cahaya lampu rumah tetangga memantul lemah di wajahnya. Ia memandangi sajadah tua yang selamat dari reruntuhan, seolah-olah itu satu-satunya saksi yang masih setia.
"Ustaz..." aku ragu menyapa.
Ia menoleh dan tersenyum lemah. "Saya gagal, ya?"
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada palu mana pun.
"Ini bukan salah Ustaz."
"Tetapi saya yang mengizinkan musala ini dirubuhkan," katanya lirih. "Saya percaya terlalu mudah. Saya kira niat baik selalu datang dari hati yang bersih."
Sejak musala roboh, Ustaz Irfan berubah. Ia menjadi lebih pendiam dan lebih sering menunduk. Salat berjamaah berpindah ke rumah warga secara bergilir. Anak-anak mengaji di teras, diterangi lampu seadanya, sesekali terdiam ketika hujan turun.
Suatu sore, Haji Dulah akhirnya datang. Wajahnya kusut, tetapi masih berusaha tenang.
"Ustaz, kita ini sama-sama korban," katanya. "Saya juga ditipu."
Ustaz Irfan berdiri. Tangannya gemetar.
"Kalau begitu," suaranya serak, "kenapa sejak awal Bapak memaksa kami merobohkan musala?"
Haji Dulah terdiam. Tidak ada jawaban. Hanya angin yang lewat di antara puing-puing, membawa debu dan diam yang memalukan.
Malam itu, Ustaz Irfan jatuh sakit. Demam tinggi. Bukan karena cuaca, melainkan karena rasa bersalah yang menggerogoti pikirannya. Istrinya menangis di samping ranjang, sementara warga berdoa dengan mata sembap.
Beberapa hari kemudian, Ustaz Irfan bangun. Ia tampak lebih kurus, tetapi lebih tenang.
"Kita bangun lagi," katanya pada warga yang berkumpul. "Bukan dengan janji, tetapi dengan tangan kita sendiri."
Tidak ada tepuk tangan, tetapi ada anggukan. Ada tekad yang akhirnya kembali ke tempatnya.
Warga mulai menyumbang sedikit demi sedikit. Seribu, dua ribu, semen satu sak. Tidak megah, tidak instan, tetapi nyata. Haji Dulah tidak pernah muncul lagi.
Aku melihat musala itu tumbuh perlahan. Dari fondasi kecil, dinding setengah jadi, hingga akhirnya berdiri kembali; lebih sederhana dari rencana awal, tetapi lebih jujur.
Di hari pertama azan kembali berkumandang, Ustaz Irfan menangis.
"Rumah Allah memang bisa roboh," katanya kepada kami, "tetapi iman tidak boleh ikut runtuh."
Dan sejak hari itu, aku belajar satu hal: kehilangan tidak selalu menghancurkan, terkadang ia hanya mengajarkan kita untuk membangun dengan cara yang lebih benar.
Catatan penulis: Cerita ini diadaptasi dari kisah nyata.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Ketika Misi Putus Berubah Jadi Boomerang di Novel Algoritme Rasa
-
Implikasi Psikologis People Pleasing dalam Buku Berani Tidak Disukai
-
Tradisi Megengan Kediri: Kenduri Jawa Menyambut Bulan Ramadan
-
Kerja Tanpa Upah, Risiko Tanpa Perlindungan: Realitas Ibu Rumah Tangga
-
Ramadan dan Generasi Scroll: Mencari Hening di Tengah Notifikasi