M. Reza Sulaiman | Oka Kurniawan
Cover cerita (chat gpt)
Oka Kurniawan

Hujan turun sejak sore, membasahi jalanan kecil yang menghubungkan kota dengan desa-desa terpencil. Langit berwarna abu-abu pekat, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar air. Damar memegang setir mobilnya dengan erat, matanya fokus menembus derasnya hujan.

Ia sudah mengikuti peta digital selama dua jam terakhir. Tujuannya jelas: sebuah rumah tua yang diwariskan oleh pamannya yang baru saja meninggal. Anehnya, alamat itu tidak pernah muncul di aplikasi peta mana pun. Ia mendapatkannya dari sebuah surat tua, lengkap dengan petunjuk arah yang ditulis tangan.

“Ambil jalan setelah pohon beringin besar, lalu lurus sampai menemukan jalan tanah. Ikuti sampai kau melihat rumah itu.”

Sederhana. Terlalu sederhana.

Namun semakin jauh ia melaju, semakin ia merasa ada yang tidak beres. Sinyal ponselnya hilang. Lampu jalan tidak lagi terlihat. Dan yang paling aneh, tidak ada satu pun kendaraan lain yang berpapasan dengannya sejak setengah jam terakhir.

Akhirnya, ia melihatnya.

Sebuah pohon beringin besar berdiri di pinggir jalan, batangnya bengkok dan akar-akarnya menjuntai seperti tangan yang mencoba meraih tanah. Damar memperlambat mobilnya, lalu berhenti tepat di depannya.

“Ini pasti tempatnya,” gumamnya.

Ia menoleh ke kanan. Ada jalan kecil, hampir tak terlihat, tertutup oleh semak-semak dan tanah basah. Damar menarik napas panjang, lalu memutar setir dan masuk ke jalan itu.

Beberapa menit kemudian, mobilnya berhenti. Di depannya berdiri sebuah rumah tua. Catnya mengelupas, jendelanya tertutup rapat, dan pintunya sedikit terbuka. Halamannya dipenuhi rumput liar yang tumbuh tidak beraturan.

Damar mematikan mesin mobil. Anehnya, hujan tiba-tiba berhenti.

Sunyi. Terlalu sunyi.

Ia keluar dari mobil, langkahnya hati-hati. Sepatu yang dikenakannya tenggelam sedikit ke dalam tanah basah. Matanya menelusuri setiap sudut rumah itu.

“Apa benar ini tempatnya?” pikirnya.

Ia mengeluarkan surat dari sakunya, membandingkan petunjuknya dengan rumah di depannya. Sama. Tidak ada keraguan.

Damar melangkah mendekat ke pintu. Pintu itu terbuka lebih lebar saat ia menyentuhnya, mengeluarkan suara berderit panjang. Di dalam gelap. Udara dingin langsung menyambutnya.

“Permisi…” katanya pelan, meski ia tahu tidak ada siapa pun.

Ia melangkah masuk. Lantai kayu berderit di bawah kakinya. Bau lembap memenuhi hidungnya. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan tua yang sudah pudar.

Namun, ada satu hal yang membuatnya berhenti. Semua lukisan itu menggambarkan rumah yang sama. Rumah ini. Dari berbagai sudut. Dari luar. Dari dalam. Dan… dari sudut yang seharusnya tidak mungkin dilihat.

Damar menelan ludah. “Siapa yang melukis ini…?” gumamnya.

Ia melangkah lebih dalam. Di ruang tengah, ada sebuah meja kayu tua dengan sebuah buku tebal di atasnya. Sampulnya hitam, tanpa judul.

Damar membuka buku itu perlahan. Halaman pertama kosong. Halaman kedua… juga kosong.

Namun saat ia membuka halaman ketiga, ia membeku. Di sana tertulis sesuatu. Tulisan tangan. Baru.

“Damar akhirnya datang.”

Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia membalik halaman berikutnya.

“Dia terlihat ragu saat masuk.”

Damar langsung menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun. Hanya pintu yang terbuka, dan kegelapan di luar. Ia kembali melihat buku itu, tangannya mulai gemetar. Halaman berikutnya.

“Dia mulai menyadari ada yang salah.”
“Dia akan mencoba pergi sebentar lagi.”

Damar menutup buku itu dengan keras.

“Siapa yang menulis ini?!” teriaknya.

Tidak ada jawaban. Namun dari lantai atas… terdengar suara langkah kaki. Pelan. Berat. Seperti seseorang berjalan perlahan di atas kayu tua.

Damar menatap tangga. Gelap. Tapi suara itu jelas. Seseorang ada di sana.

“Siapa pun itu, keluar!” teriaknya lagi.

Langkah kaki itu berhenti. Hening beberapa detik. Lalu—

“Kenapa kau datang…?”

Suara itu pelan. Dalam. Dan… mirip dengannya.

Damar membeku. “Siapa kau?” tanyanya dengan suara bergetar.

Tidak ada jawaban langsung. Namun perlahan, dari kegelapan di atas tangga… muncul sosok. Seorang pria. Dengan wajah yang sama. Dengan mata yang sama. Dengan ekspresi yang sama.

Itu adalah… dirinya sendiri.

Damar mundur beberapa langkah. “Ini tidak mungkin…” bisiknya.

Sosok itu tersenyum tipis. “Kau juga dulu bilang begitu,” katanya.

“Apa maksudmu?”

“Aku adalah kau… yang tidak pernah berhasil pergi dari sini.”

Damar menggeleng. “Tidak… ini tidak nyata…”

“Rumah ini tidak ada di peta karena rumah ini tidak berada di dunia yang sama dengan yang kau kenal,” lanjut sosok itu. “Setiap orang yang masuk… menjadi bagian dari cerita di dalamnya.”

Damar teringat buku di meja. “Jadi… semua itu…”

“Ditulis oleh mereka yang datang sebelum kita.” Sosok itu melangkah turun satu anak tangga. “Dan sekarang… giliranmu.”

Damar berbalik dan berlari menuju pintu. Namun saat ia mencapainya—tidak ada apa-apa. Pintu itu hilang. Yang ada hanyalah dinding kayu tua.

“Tidak… tidak… tidak!” ia memukul-mukul dinding itu panik.

Di belakangnya, suara langkah kaki kembali terdengar. Lebih dekat.

“Tidak ada jalan keluar,” kata sosok itu pelan.

Damar berlari ke jendela. Terkunci. Ia mencoba memecahkannya, tapi kaca itu tidak bergerak sama sekali. Seolah bukan kaca. Seolah hanya ilusi. Ia terjatuh ke lantai, napasnya terengah-engah.

“Kenapa aku?” bisiknya.

Sosok itu kini berdiri tepat di belakangnya. “Karena kau menemukannya.”

Damar perlahan menoleh.

“Dan sekarang… kau tidak akan pernah meninggalkannya.”

Lampu di rumah itu tiba-tiba padam. Gelap total.

Beberapa saat kemudian, cahaya redup kembali muncul. Namun, Damar sudah tidak ada. Di meja, buku hitam itu terbuka dengan sendirinya. Halaman baru terisi. Tulisan tangan yang sama.

“Damar mencoba melarikan diri… tapi gagal.”

Di halaman berikutnya—

“Ada seseorang lagi di luar.”

Dan jauh di luar sana, di jalan yang sama… seseorang menemukan pohon beringin besar, dan jalan kecil yang tidak pernah tercatat di peta mana pun. Menuju rumah yang… selalu menunggu.