M. Reza Sulaiman | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Teman yang Tidak Diingat Orang Lain (ChatGPT)
Miranda Nurislami Badarudin

Aku punya teman. Namanya Raka. Atau setidaknya … aku selalu memanggilnya begitu.

Kami pertama kali bertemu di belakang kelas, dekat jendela yang engselnya suka bunyi “krek” setiap angin sore datang. Waktu itu aku lagi pura-pura serius mencatat pelajaran, padahal sebenarnya lagi menggambar kucing pakai seragam sekolah—yang jelas melanggar hukum estetika—Tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Kalau kucingnya pakai dasi, nilainya bisa naik.”

Aku menoleh. Seorang anak laki-laki duduk santai di kursi kosong yang—anehnya—selalu kosong setiap hari. “Siapa kamu?” tanyaku. “Raka,” jawabnya singkat, seolah namanya sudah terkenal seantero sekolah. Sejak saat itu, Raka jadi teman paling rajin muncul di saat-saat tidak penting. Dia ada saat pelajaran membosankan, saat aku makan bekal yang rasanya seperti eksperimen gagal, bahkan saat aku dihukum berdiri di depan kelas—dia ikut berdiri, padahal jelas-jelas tidak dipanggil.

Masalahnya satu—tidak ada yang pernah menyadari keberadaannya selain aku. Awalnya kupikir teman-teman cuma bercanda. Aku pernah sengaja memperkenalkan Raka ke mereka. “Ini Raka, dia anak baru,” kataku suatu hari. Teman sebangkuku mengernyit, “Kamu lagi ngomong sama siapa?”

Aku menunjuk ke arah Raka yang saat itu lagi melambaikan tangan dengan gaya terlalu percaya diri. “Ini loh—”
“Nam, kamu sehat?”
Aku menoleh lagi. Raka masih di sana. Dia malah tertawa kecil. “Kayaknya aku kurang populer,” katanya santai.

Sejak itu aku berhenti memperkenalkan Raka. Rasanya capek juga menjelaskan sesuatu yang bahkan orang lain tidak bisa lihat. Jadinya, kami seperti punya dunia sendiri—dunia kecil yang cuma cukup untuk dua orang dan satu jendela berderit. Raka itu aneh, tapi menyenangkan. Dia tahu banyak hal yang tidak pernah diajarkan di kelas. Tentang kenapa hujan kadang terasa seperti kenangan yang jatuh dari langit. Tentang kenapa orang bisa lupa pada hal-hal yang sebenarnya penting.

“Orang itu gampang lupa,” katanya suatu sore. “Apalagi kalau mereka tidak siap mengingat.”

Aku tidak terlalu paham, tapi aku mengangguk saja. Biasanya begitu kalau aku tidak mengerti sesuatu yang terdengar dalam. Kadang, Raka juga suka mengomentari hal-hal kecil yang tidak pernah kupikirkan. Seperti kenapa kipas angin di kelas selalu berputar lebih cepat saat guru tidak melihat. Atau kenapa suara langkah di koridor terdengar lebih nyaring saat hati sedang gelisah.

“Dunia itu lucu,” katanya suatu hari sambil menatap ke luar jendela. “Kadang yang tidak terlihat justru paling ramai.”
Aku tertawa. “Kayak kamu?”
Dia mengangkat bahu. “Mungkin.”

Hari-hari berjalan seperti biasa sampai suatu pagi aku bangun dengan perasaan ganjil. Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi aku tidak tahu apa. Di kelas, kursi dekat jendela terasa lebih kosong dari biasanya. Lebih … sunyi. Aku duduk, membuka buku, lalu tanpa sadar berkata, “Raka, kamu tahu nggak—”

Kalimatku berhenti—Raka tidak ada di sana. Aku menoleh ke kiri, ke kanan, bahkan sempat melihat ke bawah meja—ya, siapa tahu dia lagi sembunyi seperti kucing berseragam buatanku dulu—tapi tetap saja tidak ada siapa-siapa. Aneh. Biasanya dia selalu muncul tanpa diundang. Hari itu terasa panjang, terlalu panjang. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa sendirian di tempat yang biasanya tidak pernah benar-benar sepi.

Aku mencoba mengingat, sejak kapan terakhir kali aku berbicara dengannya? Kemarin? Atau beberapa hari lalu? Rasanya kabur, seperti mimpi yang baru saja bangun tapi langsung lupa bagian pentingnya. Sore harinya, aku memberanikan diri bertanya pada wali kelas. “Bu, dulu pernah ada murid bernama Raka di kelas ini?”

Beliau berpikir sejenak, lalu menggeleng, “Tidak ada. Dari dulu kelas ini isinya itu-itu saja.”

Aku mengangguk pelan, meski hatiku seperti dijatuhkan dari lantai dua tanpa pengaman. Tidak ada Raka. Tidak pernah ada Raka. Lalu … selama ini aku berbicara dengan siapa?

Aku pulang dengan langkah lambat. Angin sore datang seperti biasa, membawa suara “krek” dari jendela kelas yang masih terbuka. Dan di sanalah aku melihatnya. Sebuah tulisan kecil di bingkai jendela, nyaris tak terlihat kalau tidak diperhatikan: “Terima kasih sudah mengingatku.”

Tulisan itu … seperti tulisan tanganku sendiri. Aku menyentuhnya perlahan, seolah takut tulisan itu akan hilang jika disentuh terlalu keras. Rasanya hangat, aneh, seperti memegang kenangan yang baru saja kembali. Tiba-tiba sesuatu di dalam kepalaku seperti dibuka paksa.

Kenangan-kenangan yang tadinya kabur, perlahan kembali. Tentang aku yang dulu sering sendirian. Tentang aku yang menciptakan teman agar tidak merasa sepi. Tentang nama “Raka” yang entah kenapa terasa begitu akrab—karena itu adalah bagian dari diriku yang pernah hilang, yang dulu aku butuhkan untuk bertahan.

Aku terdiam lama. Bukan karena takut, tapi karena akhirnya mengerti—Raka bukan orang lain. Dia adalah cara aku menemani diri sendiri saat dunia terasa terlalu ramai tapi tetap sepi. Aku tersenyum kecil, “Makasih ya,” gumamku pelan.

Angin kembali bertiup. Jendela itu berbunyi sekali lagi—“krek”—seperti jawaban. Sejak hari itu, aku tidak pernah melihat Raka lagi. Tapi anehnya, aku tidak merasa kehilangan karena aku akhirnya tahu—kadang, teman yang paling berarti adalah yang membantu kita kembali menemukan diri sendiri—meski pada akhirnya dia harus dilupakan. Dan mungkin dilupakan bukan berarti benar-benar hilang. Hanya … selesai menjalankan tugasnya.