M. Reza Sulaiman | Oka Kurniawan
Cover cerita (chat gpt)
Oka Kurniawan

Langit sore itu berwarna aneh—bukan jingga seperti biasanya, melainkan perpaduan ungu pucat dan abu-abu yang tampak seperti lukisan yang belum selesai. Raka berdiri di depan jendela kamarnya, menatap jauh ke arah horison. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Ia tidak tahu apa, tapi perasaan itu menggelitik pikirannya sejak pagi.

Semua bermula tiga hari lalu, ketika ia pertama kali mendengar suara itu.

Awalnya hanya seperti bisikan angin. Halus, samar, hampir tak terdengar. Raka mengira itu hanya imajinasinya saja—mungkin akibat terlalu lama begadang mengerjakan tugas. Namun, suara itu kembali terdengar keesokan harinya. Kali ini lebih jelas. Seperti seseorang memanggil namanya dari kejauhan.

“Raka ...”

Ia langsung menoleh, tapi tak ada siapa pun di sekitarnya. Rumah itu sunyi. Kedua orang tuanya sedang pergi ke luar kota, dan ia tinggal sendirian.

“Raka ... dengarkan aku ...”

Suara itu tidak berasal dari arah tertentu. Seolah muncul dari dalam kepalanya sendiri.

Sejak saat itu, hidup Raka berubah.

Ia mulai mendengar suara itu lebih sering. Setiap malam, tepat pukul 02.13, suara itu muncul. Kadang memanggil namanya, kadang hanya berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Namun, anehnya, meski tak memahami kata-katanya, Raka merasa seolah ia mengerti maknanya.

Suara itu ... meminta bantuan.

Malam keempat, Raka akhirnya memberanikan diri untuk menjawab.

“Siapa kamu?” bisiknya pelan.

Hening.

Kemudian, suara itu kembali.

“Aku ... tidak punya nama seperti yang kau miliki ... tapi aku tahu siapa dirimu.”

Raka tertegun. Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Kamu di mana?” tanya Raka.

“Aku ... berada di tempat yang tidak pernah ada.”

Jawaban itu membuat bulu kuduk Raka merinding.

Sejak malam itu, percakapan mereka menjadi lebih intens. Suara itu mulai menjelaskan sedikit demi sedikit tentang dirinya—tentang dunia yang ia huni.

Dunia yang tidak pernah ada.

Menurut suara itu, ada dimensi lain yang berdampingan dengan dunia manusia. Namun, dimensi tersebut bukanlah dunia dalam arti biasa. Ia tidak memiliki waktu yang berjalan lurus, tidak memiliki ruang yang tetap, dan tidak memiliki bentuk yang pasti.

“Di sini ... segala sesuatu bisa ada dan tidak ada dalam waktu yang sama,” katanya suatu malam.

Raka sulit memahaminya. Tapi rasa penasaran membuatnya terus mendengarkan.

“Lalu kenapa kamu memanggilku?” tanya Raka.

“Karena ... hanya kamu yang bisa mendengarku.”

“Kenapa aku?”

“Karena ... kau pernah melihat celahnya.”

Raka terdiam. Kata-kata itu terasa asing, namun juga ... akrab.

Ia mencoba mengingat sesuatu. Sesuatu dari masa kecilnya.

Dan tiba-tiba, sebuah ingatan muncul.

Saat ia berusia tujuh tahun, Raka pernah tersesat di hutan kecil dekat rumah neneknya. Ia ingat saat itu ia melihat sesuatu yang aneh—sebuah “retakan” di udara. Seperti kaca yang pecah, tapi tidak benar-benar ada. Dari retakan itu, muncul cahaya aneh dan suara-suara yang tak bisa ia jelaskan.

Ia pingsan setelah itu.

Saat bangun, ia sudah berada di rumah. Semua orang menganggap ia hanya kelelahan dan berhalusinasi.

Namun sekarang ... suara itu membuat semuanya terasa nyata.

“Itu bukan mimpi, kan?” bisik Raka.

“Bukan,” jawab suara itu. “Itu adalah pintu.”

“Pintu ke duniamu?”

“Ya.”

Raka menelan ludah.

“Dan sekarang ... pintu itu terbuka lagi.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, sesuatu benar-benar terjadi.

Kamar Raka yang biasanya tenang tiba-tiba terasa ... bergeser. Dinding-dindingnya tampak seperti berdenyut pelan, seolah bukan benda padat. Udara menjadi lebih dingin, dan suara dengungan halus memenuhi ruangan.

Di sudut kamar, muncul retakan itu.

Persis seperti yang ia ingat.

Retakan itu perlahan membesar, membentuk celah bercahaya. Dari dalamnya, muncul kilatan warna-warna yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—warna yang tidak memiliki nama.

“Raka ...” suara itu kini terdengar lebih jelas dari sebelumnya. “Aku di sini.”

Raka mundur selangkah. Tubuhnya gemetar.

“Masuklah,” kata suara itu.

“Apa?” Raka terkejut. “Masuk ke sana?”

“Jika kau ingin tahu kebenarannya ... jika kau ingin menghentikan apa yang akan terjadi ... kau harus datang.”

“Menghentikan apa?”

Hening sejenak.

Kemudian suara itu menjawab dengan nada yang berbeda. Lebih berat. Lebih ... putus asa.

“Dunia kalian ... perlahan akan menjadi seperti dunia ini.”

Raka membeku.

“Apa maksudmu?”

“Retakan itu ... tidak hanya satu. Mereka mulai muncul di banyak tempat. Jika tidak dihentikan ... batas antara dua dunia akan hilang.”

Raka menatap celah itu. Cahaya di dalamnya berdenyut seperti jantung.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Kau hanya perlu datang ... dan melihat.”

Raka ragu.

Segala logika dalam dirinya menolak. Tapi ada sesuatu yang lebih kuat—sebuah dorongan yang tak bisa ia jelaskan.

Perlahan, ia melangkah mendekati celah itu.

Udara di sekitarnya terasa berat. Suara-suara aneh mulai terdengar—bisikan, gema, dan sesuatu yang seperti ... tangisan.

Ia mengulurkan tangan.

Saat ujung jarinya menyentuh cahaya itu, tubuhnya langsung ditarik masuk.

Dunia di sekitarnya berubah.

Raka terjatuh di tempat yang tidak memiliki arah. Tidak ada atas, tidak ada bawah. Ia melayang di ruang yang penuh dengan serpihan cahaya dan bayangan.

“Di mana aku?” teriaknya.

“Di sini,” jawab suara itu.

Namun kali ini ... suara itu tidak lagi hanya suara.

Di depannya, perlahan terbentuk sosok.

Bukan manusia. Bukan makhluk yang bisa dijelaskan.

Ia berubah-ubah—kadang seperti bayangan, kadang seperti cahaya, kadang seperti sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan.

“Ini ... bentuk asliku,” katanya.

Raka menatap dengan campuran takut dan takjub.

“Kenapa kamu memanggilku?” tanya Raka lagi.

“Karena kau adalah jembatan.”

“Apa maksudnya?”

“Antara dunia kami ... dan dunia kalian.”

Raka menggeleng. “Aku tidak mengerti.”

Makhluk itu mendekat. Tidak berjalan, tapi ... berpindah.

“Retakan itu muncul karena keseimbangan terganggu. Dunia kami ... mulai runtuh. Dan saat itu terjadi ... dunia kalian akan ikut terseret.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” suara Raka bergetar.

Makhluk itu terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu.

“Kau harus menutup pintunya.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan tetap berada di sini.”

Raka tertegun.

“Apa?”

“Jika kau tetap di sini ... pintu itu akan tertutup selamanya.”

“Lalu aku tidak bisa kembali?”

Makhluk itu tidak menjawab.

Dan dari situ, Raka mengerti.

Ia menatap ke arah kegelapan di sekitarnya. Dunia yang tidak pernah ada. Dunia yang perlahan hancur.

Lalu ia teringat rumahnya. Orang tuanya. Hidupnya.

Dan suara itu ... yang kini tidak lagi terdengar asing.

Raka menarik napas panjang.

“Kalau aku tidak melakukannya ... apa yang terjadi?”

“Dunia kalian akan menjadi seperti ini.”

Hening.

Beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Kemudian, Raka tersenyum tipis.

“Kalau begitu ... aku tahu jawabannya.”

Ia melangkah menjauh dari celah yang mulai mengecil.

Cahaya itu perlahan memudar.

Dan untuk pertama kalinya, suara itu ... terdengar sedih.

“Terima kasih ... Raka.”

Segalanya menjadi gelap.

Di dunia manusia, kamar Raka kembali seperti semula. Tidak ada retakan. Tidak ada cahaya aneh.

Hanya keheningan.

Dan sejak malam itu ... tidak ada lagi suara yang memanggil dari dunia yang tidak pernah ada.