M. Reza Sulaiman | Oka Kurniawan
Panggilan dari Dasar Laut Terdalam. (Dok. Nano Banana/Gemini AI)
Oka Kurniawan

Di pesisir selatan yang jarang dijamah manusia, terdapat sebuah desa nelayan bernama Karang Tiris. Desa itu hidup dari laut—menggantungkan nasib pada ombak, angin, dan sesuatu yang tidak pernah mereka ucapkan dengan lantang. Laut di sana berbeda; airnya lebih gelap, lebih dalam, dan terlalu ... sunyi.

Para nelayan Karang Tiris memiliki satu larangan yang tidak pernah dilanggar: “Jangan melaut saat laut benar-benar tenang.” Bagi orang luar, larangan itu terdengar aneh. Bukankah laut yang tenang adalah waktu terbaik untuk berlayar? Namun, bagi warga Karang Tiris, laut yang terlalu tenang adalah pertanda bahwa sesuatu di dasar sana ... sedang bangun.

Rafa, seorang penyelam muda yang baru kembali dari kota, tidak percaya pada hal-hal seperti itu. Ia datang dengan membawa peralatan modern dan ambisi besar: meneliti palung laut di sekitar desa yang katanya belum pernah tersentuh manusia.

“Ini peluang besar,” katanya kepada Pak Darma, kepala desa. “Kalau benar sedalam yang kalian bilang, bisa jadi ini salah satu titik terdalam di wilayah ini.”

Pak Darma hanya menggeleng pelan. “Nak, bukan soal dalam atau tidaknya, tetapi soal apa yang ada di bawah sana.”

Rafa tersenyum tipis. “Saya percaya sains, Pak. Bukan cerita.”

Pak Darma tidak membalas, ia hanya berkata, “Kalau laut tiba-tiba tenang ... jangan turun.”

Dua hari kemudian, kesempatan itu datang. Pagi itu, laut benar-benar tenang; tidak ada ombak, tidak ada angin. Permukaannya seperti cermin hitam yang luas. Para nelayan tidak melaut, mereka hanya berdiri di tepi pantai, menatap laut dengan wajah tegang. Namun, bagi Rafa, ini adalah momen sempurna. Ia mengenakan perlengkapan selamnya, memeriksa tabung oksigen, dan menaiki perahu kecil.

“Rafa! Jangan!” teriak seorang nelayan.

Rafa hanya melambaikan tangan. “Santai saja! Saya cuma sebentar.”

Perahu itu meluncur pelan ke tengah laut. Semakin jauh dari pantai, suasana semakin sunyi. Tidak ada suara burung, tidak ada riak air, hanya keheningan yang terasa ... berat. Rafa menghentikan perahunya. Ia melihat ke bawah. Airnya gelap. Tidak seperti laut biasa yang memantulkan cahaya biru atau hijau, ini ... hitam, seperti lubang tanpa dasar.

“Menarik ...” gumamnya. Ia pun melompat.

Air laut langsung menelan tubuhnya. Dingin, lebih dingin dari yang ia perkirakan. Rafa mulai turun perlahan mengikuti tali pengaman yang ia pasang. Cahaya matahari masih terlihat di atasnya, namun semakin dalam ia turun, cahaya itu memudar dan gelap mulai mengambil alih. Lampu di helmnya menyala. Sorotan cahaya menembus air memperlihatkan partikel kecil yang melayang, namun tidak ada ikan, tidak ada karang, tidak ada kehidupan.

“Kenapa kosong begini ...” bisiknya. Ia terus turun. 10 meter, 20 meter, 50 meter. Tekanan mulai terasa, namun Rafa tetap melanjutkan. Hingga tiba-tiba ia melihat sesuatu di kejauhan: sebuah bayangan besar. Sangat besar.

Rafa membeku. Bayangan itu tidak bergerak, namun bentuknya ... tidak wajar. Terlalu luas, terlalu gelap, seolah menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Rafa mengarahkan lampunya. Dan saat cahaya itu menyentuh bayangan tersebut, bayangan itu bergerak. Perlahan, sangat perlahan. Dan dari dalam kegelapan itu, muncul dua titik cahaya. Mata. Besar, menyala redup, dan menatap langsung ke arah Rafa.

Jantung Rafa berdegup kencang. “Ini ... makhluk apa ...”

Tiba-tiba, suara terdengar, bukan melalui telinga, tetapi langsung di dalam kepalanya.

“Ka ... mu ... men ... de ... ngar ...”

Rafa terkejut. “Apa itu ...?”

“Ka ... mi ... me ... nung ... gu ...”

Suara itu berat, dalam, dan terasa seperti datang dari dasar laut itu sendiri. Rafa panik. Ia mencoba naik, namun tubuhnya terasa berat seolah air di sekitarnya menahan. Dan bayangan itu semakin mendekat.

“Ti ... dak ... bo ... leh ... pe ... rgi ...”

Lampu Rafa berkedip. Napasnya mulai tidak teratur. Dan dalam kepanikannya, ia melihat sesuatu yang lebih mengerikan. Di sekitar bayangan itu ada banyak bentuk lain; lebih kecil, lebih samar, namun jelas bukan ikan. Lebih seperti ... manusia, dengan tubuh pucat, melayang, dan mata kosong. Mereka mengelilingi makhluk besar itu. Dan perlahan mereka menoleh ke arah Rafa.

“Ber ... ga ... bung ...”

Rafa menjerit dalam air. Ia menarik tali pengamannya sekuat tenaga dan entah bagaimana ia berhasil naik. Rafa terbangun di perahunya. Tubuhnya basah, napasnya tersengal. Ia langsung melihat ke laut. Tenang, seperti tidak terjadi apa-apa.

“Ini ... cuma halusinasi ...” bisiknya. Namun, saat ia menyentuh helmnya, ada sesuatu di sana. Bekas seperti jejak tangan, dari dalam.

Rafa kembali ke desa, namun sejak hari itu ia berubah. Ia menjadi pendiam, sering melamun, dan setiap malam ia berjalan ke pantai, berdiri diam menatap laut. Pak Darma memperhatikannya. “Dia sudah mendengar,” katanya pelan.

Suatu malam, Deni, seorang nelayan muda, mengikuti Rafa. Ia melihat Rafa berdiri di bibir pantai. Air laut menyentuh kakinya dan ia berbicara, namun bukan dengan manusia.

“Aku ... siap ...”

Deni merinding. “Rafa?”

Rafa menoleh. Matanya tidak sama lagi; gelap, dalam, dan saat ia berbicara suaranya bukan miliknya.

“Mereka ... memanggil ...”

Lalu, Rafa melangkah ke laut perlahan tanpa ragu. Deni berlari mencoba menghentikannya. “Rafa! Jangan!” Namun, Rafa terus berjalan. Air mencapai dada, leher, dan akhirnya ia tenggelam tanpa perlawanan, tanpa suara. Hanya ... hilang.

Sejak malam itu, laut di Karang Tiris tidak pernah sama. Kadang saat laut benar-benar tenang, warga desa mengaku mendengar suara dari bawah air. Memanggil, berbisik, menawarkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan beberapa orang mulai menghilang satu per satu tanpa jejak, hanya meninggalkan langkah kaki di pasir yang berakhir di laut.

Para tetua desa kini hanya bisa berdoa, karena mereka tahu itu bukan sekadar laut. Itu adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang lapar, dan sesuatu yang kini ... sudah mulai bangun. Jika kau suatu hari berdiri di tepi laut yang terlalu tenang dan kau merasa ada yang memanggil namamu, jangan jawab. Jangan mendekat. Karena sekali kau mendengar panggilan itu, kau tidak akan pernah benar-benar kembali.