M. Reza Sulaiman | Oka Kurniawan
Cover cerita (chat gpt)
Oka Kurniawan

Di sebuah kota yang tak pernah tercatat di peta mana pun, ada satu hal yang membuatnya berbeda dari tempat lain di dunia: tak seorang pun memiliki bayangan.

Kota itu disebut Nerathis oleh mereka yang tinggal di sana, meskipun tak ada yang benar-benar tahu dari mana nama itu berasal. Matahari tetap terbit setiap pagi, menyinari jalanan berbatu yang bersih dan bangunan tinggi berarsitektur aneh, tetapi cahaya itu tidak pernah menciptakan bayangan. Orang-orang berjalan, bekerja, tertawa, bahkan menangis—tanpa jejak gelap yang mengikuti langkah mereka.

Bagi warga Nerathis, itu adalah hal yang biasa. Mereka lahir tanpa bayangan, tumbuh tanpa pernah mempertanyakannya. Namun, tidak bagi seorang pemuda bernama Arka.

Sejak kecil, Arka merasa ada sesuatu yang hilang. Ia sering duduk di tepi jendela rumahnya, memperhatikan cahaya matahari yang menyapu lantai kayu, mencoba mencari sesuatu yang tak pernah muncul. “Kenapa kita tidak punya bayangan?” tanyanya suatu hari kepada ibunya.

Ibunya hanya tersenyum tipis. “Karena kita tidak membutuhkannya.”

Jawaban itu tak pernah memuaskan Arka.

Semakin dewasa, rasa penasarannya semakin besar. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang tidak disadari orang lain—pantulan di kaca, cahaya di genangan air, bahkan sorot lampu di malam hari. Semuanya terasa tidak lengkap. Seolah dunia ini hanya setengah nyata.

Suatu malam, ketika kota mulai sepi dan hanya lampu-lampu jalan yang menyala redup, Arka memutuskan untuk keluar. Ia berjalan menyusuri gang-gang sempit yang jarang dilalui orang. Di salah satu sudut kota, ia menemukan sesuatu yang tidak biasa: sebuah pintu tua yang setengah tertutup, terbuat dari kayu gelap dengan ukiran yang rumit.

Pintu itu seolah memanggilnya.

Dengan ragu, Arka mendorongnya. Engselnya berderit pelan, membuka jalan menuju ruangan gelap di dalam. Tidak ada lampu, hanya sedikit cahaya dari luar yang masuk melalui celah pintu.

Dan di sanalah Arka melihatnya.

Sebuah bayangan.

Bayangan itu tidak melekat pada apa pun. Ia berdiri sendiri di lantai, samar namun jelas. Seperti siluet manusia yang kehilangan tubuhnya.

Jantung Arka berdegup kencang. Ia melangkah mendekat.

“Siapa kamu?” bisiknya.

Bayangan itu bergerak.

Tidak seperti bayangan biasa yang mengikuti gerakan objek, bayangan ini berdiri, lalu perlahan menoleh ke arah Arka. Meski tidak memiliki mata, Arka merasa sedang ditatap.

“Kamu... akhirnya datang,” suara itu terdengar, bukan melalui telinga, melainkan langsung di pikirannya.

Arka mundur selangkah. “Apa kamu... bayangan?”

“Dulu, aku milik seseorang. Sama seperti yang lain.”

“Yang lain?” Arka mengerutkan kening. “Tapi di kota ini tidak ada bayangan.”

Bayangan itu bergetar, seolah tertawa tanpa suara. “Tidak ada... atau diambil?”

Kata-kata itu membuat tubuh Arka merinding.

“Diambil? Oleh siapa?”

Bayangan itu tidak langsung menjawab. Ia bergerak mendekat, semakin gelap dan jelas bentuknya. “Kota ini dibangun di atas kehilangan. Dulu, setiap orang memiliki bayangan. Tetapi bayangan menyimpan sesuatu yang tidak diinginkan—kenangan, rasa takut, bahkan kebenaran.”

Arka terdiam, mencoba memahami.

“Mereka yang berkuasa saat itu,” lanjut bayangan, “memutuskan untuk menghapus semua itu. Bayangan dipisahkan dari pemiliknya, disegel, disembunyikan... agar kota ini tetap ‘sempurna’.”

“Tidak mungkin…” Arka menggeleng. “Kalau itu benar, kenapa tidak ada yang tahu?”

“Karena tanpa bayangan, manusia kehilangan sebagian dari dirinya. Mereka lupa. Mereka tidak lagi mempertanyakan.”

Arka teringat ibunya. Jawaban singkatnya. Senyum yang terasa... kosong.

“Lalu kamu?” tanya Arka. “Kenapa kamu masih di sini?”

“Aku tertinggal. Atau mungkin... aku menunggu seseorang yang masih ingin tahu.”

Bayangan itu mengulurkan sesuatu—bukan tangan, melainkan bentuk samar yang menyerupainya.

“Jika kamu ingin melihat kebenaran,” katanya, “sentuh aku.”

Arka ragu.

Ia tahu setelah ini hidupnya tidak akan sama. Tetapi rasa penasarannya lebih kuat daripada rasa takut.

Perlahan, ia mengulurkan tangannya.

Saat jari-jarinya menyentuh bayangan itu, dunia di sekitarnya berubah.

Cahaya memudar, dan Arka mendapati dirinya berdiri di kota yang sama—namun berbeda. Orang-orang berjalan dengan bayangan panjang di kaki mereka. Wajah mereka lebih hidup, lebih penuh emosi. Ada tawa yang tulus, tetapi juga tangis yang nyata.

Ia melihat seorang anak kecil terjatuh dan menangis, lalu dipeluk oleh ibunya. Bayangan mereka saling bertaut di tanah, seperti menyatu.

“Ini... Nerathis yang dulu,” suara bayangan itu terdengar lagi.

Arka berjalan lebih jauh, hingga ia melihat sesuatu yang mengerikan: sekelompok orang berpakaian hitam berdiri di tengah alun-alun, mengelilingi sebuah mesin besar yang memancarkan cahaya terang.

Satu per satu, warga dipaksa berdiri di depan mesin itu.

Dan bayangan mereka... dicabut.

Arka menahan napas. Ia melihat bayangan itu terpisah dari tubuh, berontak seperti makhluk hidup, sebelum akhirnya ditarik masuk ke dalam mesin.

Wajah-wajah warga berubah kosong setelahnya.

“Ini awalnya,” kata bayangan itu pelan. “Sejak saat itu, kota ini kehilangan separuh jiwanya.”

Tiba-tiba, semuanya kembali gelap.

Arka kembali ke ruangan tadi, terengah-engah.

“Kenapa kamu menunjukkan ini padaku?” tanyanya.

“Karena kamu berbeda. Kamu masih mencari.”

Arka mengepalkan tangannya. “Kalau begitu, kita harus mengembalikannya. Bayangan-bayangan itu.”

Bayangan itu diam sejenak, lalu berkata, “Itu tidak mudah. Mesin itu masih ada. Dan mereka yang menjaganya tidak ingin kebenaran terungkap.”

Arka menatap bayangan itu dengan tekad. “Aku tidak peduli. Kota ini tidak lengkap. Kami... tidak lengkap.”

Untuk pertama kalinya, bayangan itu tampak berubah—seolah tersenyum.

“Kalau begitu, perjalananmu baru saja dimulai.”

Di luar, fajar mulai menyingsing. Cahaya pertama hari itu masuk ke dalam ruangan, menyentuh lantai tempat Arka berdiri.

Dan untuk sesaat—hanya sesaat—Arka melihat sesuatu di bawah kakinya.

Sebuah bayangan kecil.

Ia menatapnya, jantungnya berdebar.

Mungkin harapan belum sepenuhnya hilang.

Dan di kota tanpa bayangan, langkah pertama menuju kebenaran akhirnya tercipta.