M. Reza Sulaiman | Maria Kristiani
Ilustrasi Ratih menyediakan secangkir teh untuk suami yang telah meninggal (Sumber: Gemini AI)
Maria Kristiani

Hujan turun sejak magrib. Tipis, seperti air cucian beras yang dibuang pelan-pelan ke halaman belakang rumah. Di dapur, teh melati mendidih terlalu lama sampai aromanya berubah pahit dan getir. Tari berdiri di depan kompor sambil menatap air yang berputar di dalam panci kecil.

“Tehnya jangan terlalu pekat,” suara Bimo seperti muncul lagi di kepalanya. “Perutku sakit kalau kau bikin begini.”

Tari diam. Tangannya tetap menuang air panas ke cangkir retak yang selalu dipakai lelaki itu setiap malam. Setelah itu, ia memasukkan dua sendok gula, persis seperti kebiasaan lama yang belum bisa hilang meski Bimo sudah mati tiga minggu lalu.

Orang-orang kampung masih membicarakan mobil hangus yang ditemukan dekat jurang. Polisi bilang rem blong, mobil jatuh, lalu terbakar sebelum ada yang sempat menolong. Bahkan saat melayat, beberapa tetangga masih berbisik pelan di ruang tamu sambil mencium bau dupa yang terlalu pekat.

“Kasihan sekali suamimu, Tari.”

“Iya. Cepat sekali perginya.”

Tari hanya mengangguk waktu itu. Bibirnya kering dan matanya terasa panas karena kurang tidur. Ia bahkan tidak menangis saat melihat abu jenazah Bimo dimasukkan ke dalam guci kecil berwarna putih.

Namun, setiap pukul sembilan malam, Tari tetap membuatkan teh. Ia meletakkan cangkir itu di meja ruang tamu seperti dulu. Kadang ia duduk sebentar di sofa sambil mendengar suara hujan memukul genting, lalu berbicara pelan meski tahu tidak ada siapa-siapa di sana.

“Tehnya sudah jadi.”

Sunyi.

Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan seperti langkah kaki di lorong sempit. Setiap pagi, cangkir itu selalu kosong. Awalnya Tari mengira dirinya sendiri yang membuang isi teh itu karena lupa. Akhir-akhir ini pikirannya memang sering kabur seperti kaca berembun. Ia bisa berdiri lama di depan lemari tanpa tahu apa yang dicari. Bisa menatap nasi dingin di meja makan sampai lalat hinggap di bibir piring.

Namun, pada malam ketujuh, ia mendengar denting kecil dari ruang tamu. Suara sendok diaduk perlahan di dalam cangkir.

Ting.

Ting.

Ting.

Tari membeku di depan pintu dapur. Tenggorokannya mendadak kering dan pahit. Ada bau aneh menyusup pelan ke dalam hidungnya, bukan bau hujan atau kayu lapuk. Bau rambut terbakar.

“Siapa?” suaranya pecah kecil.

Tidak ada jawaban.

Ia tidak berani masuk sampai suara itu berhenti sendiri. Kakinya terasa dingin meski lantai belum lama dipel. Saat akhirnya ia memberanikan diri melihat ke ruang tamu, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya secangkir teh yang tinggal separuh dan sendok kecil yang masih bergerak pelan.

Paginya, cangkir itu kembali kosong. Di bawah tatakannya ada abu hitam menempel seperti sidik jari gosong. Tari menyentuh abu itu dengan ujung kuku, lalu buru-buru mencuci tangannya berkali-kali. Bau hangusnya tidak hilang.

Orang pertama yang ia curigai adalah Yadi, adik Bimo. Lelaki itu terlalu sering datang sejak kematian kakaknya. Kadang membantu memperbaiki genting bocor, kadang hanya duduk diam sambil merokok di teras. Namun, matanya selalu bergerak mengawasi isi rumah seperti sedang mencari sesuatu.

“Mas Bimo dulu suka teh manis sekali, ya?” katanya suatu malam.

Tari tidak menjawab. Ia hanya terus mengaduk teh sampai sendok membentur dinding cangkir terlalu keras.

“Kau kenapa lihat-lihat rumah terus?” tanya Tari tiba-tiba.

Yadi tersenyum kecil. “Tidak lihat apa-apa.”

Lelaki itu selalu memakai sarung tangan kulit hitam bahkan saat udara panas membuat tengkuk basah oleh keringat. Ia billing kulit tangannya alergi debu. Detail kecil itu terus mengganggu pikiran Tari. Terlebih lagi, setiap Yadi datang, bau hangus di rumah terasa semakin kuat.

Beberapa malam kemudian, Tari terbangun karena suara langkah kaki dari loteng. Bukan suara tikus atau kayu memuai terkena hujan. Langkah itu berat dan lambat, seperti seseorang berjalan sambil menyeret sesuatu.

Tok.

Tok.

Tok.

Tari bangun sambil meraih pisau dapur. “Siapa di atas?” teriaknya.

Tidak ada jawaban selain suara hujan di luar rumah. Lampu loteng berkedip lemah saat ia naik. Udara di atas terasa pengap dan panas meski hujan masih turun deras. Lalu, ia menemukan Yadi tergantung di balok kayu. Tubuh lelaki itu berputar pelan. Lidahnya menjulur pucat dengan mata terbuka setengah. Sarung tangan hitamnya hilang. Kulit kedua tangannya melepuh parah seperti pernah terbakar hidup-hidup.

Tari muntah di lantai loteng sampai tenggorokannya terasa robek. Polisi datang sebelum subuh dan menyebutnya bunuh diri. Di saku celana Yadi ditemukan secarik kertas kecil bertuliskan, “Aku cuma membantu membersihkan.”

Hanya itu.

Teori Tari runtuh begitu cepat. Jika bukan Yadi yang meminum teh setiap malam, lalu siapa? Sejak kematian lelaki itu, rumah menjadi lebih sunyi dari biasanya. Sunyi yang terasa berat seperti kain basah menutup wajah. Kadang Tari merasa ada seseorang berdiri di belakangnya saat mencuci piring.

“Nambah gula lagi Clar,” bisik suara itu pelan (jika terbawa dari memori nama samaran draf lama Anda).

Tari menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Kadang ia mendengar suara Bimo batuk dari kamar mandi. Pendek, serak, dan sangat dekat. Kadang gagang pintu bergerak sendiri di tengah malam seperti ada tangan yang mencoba masuk. Suatu malam listrik mendadak mati. Rumah tenggelam dalam gelap yang lembap dan pekat. Tari meraba meja dapur mencari lilin ketika suara batuk itu terdengar lagi.

Batuk Bimo.

Pendek. Serak.

Dekat sekali.

Tari menoleh perlahan. Seorang laki-laki duduk di meja makan dengan tubuh hangus sebagian. Kulit pipinya turun seperti lilin meleleh, tetapi mata itu tetap mata Bimo.

“Kenapa?” suara Bimo terdengar seperti kayu basah dibakar.

Tari tidak menjerit. Ia hanya berdiri diam sambil mencengkeram lilin sampai cairan panasnya menetes ke jari. Saat itu ia langsung tahu bahwa yang datang bukan sekadar hantu. Melainkan rasa bersalah yang akhirnya menemukan bentuk.

Tiga minggu lalu, mobil itu memang tidak mengalami kecelakaan biasa. Tari sendiri yang memotong selang rem mobil Bimo. Ia sudah terlalu lelah hidup bersama lelaki yang pulang membawa bau perempuan lain dan tangan berat. Malam sebelum Bimo pergi, mereka bertengkar di dapur sampai cangkir teh dilempar ke dinding.

“Kau bahkan tidak bisa bikin teh yang benar.”

Kalimat itu kecil dan bodoh. Namun, sesuatu dalam diri Tari patah malam itu. Yadi mengetahui semuanya, lalu membantu membersihkan garasi serta membakar alat-alat yang dipakai. Itulah alasan kedua tangannya melepuh. Bimo menatap cangkir di meja makan.

“Asin,” katanya lirih.

Tari baru sadar air matanya jatuh ke dalam teh sejak tadi. Lampu tiba-tiba kembali menyala dan kursi di depan meja sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya secangkir teh yang masih mengepul pelan. Namun, ketika Tari mendekat, ia melihat pantulan wajah Bimo di permukaan teh itu. Lelaki itu tersenyum tipis. Dan untuk pertama kalinya sejak kematiannya, tehnya belum disentuh sama sekali.