M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi brankar rumah sakit (Unsplash/Frederick Koberl)
Tika Maya Sari

Konon, selalu ada cerita mistis di setiap rumah sakit tanpa pandang bulu semewah dan secanggih apapun tempatnya. Mungkin inilah yang dialami oleh Ibuku, disalah satu rumah sakit besar di Kota T, di malam kakek harus dirawat.

“Belum dapat kamar?” tanya Bulek Riani.

“Belum. Bapak masih dalam perawatan gawat darurat. Dan kakakmu masih mengurusi berkas-berkas administrasi dengan Randi,” jawab Ibuk.

Jadi, ceritanya kakekku mengalami serangan jantung sehingga dilarikan ke rumah sakit terbesar di kota T. Beliau segera mendapatkan perawatan intensif di UGD, tetapi bapakku dan Paklek Randi selaku anak laki-laki masih harus mengurus dan melengkapi aneka berkas administratif supaya kakek lekas mendapatkan kamar perawatan pasca keluar dari UGD.

Di momen itu, aku memang tidak ikut ke rumah sakit. Sebab aku baru mendengar kabar tersebut di petang selepas pulang kerja. Jadilah aku dan adik-adik tetap tinggal di rumah kami di kabupaten K.

Nah, malam semakin larut, udara semakin turun. Tampak staff rumah sakit masih bertugas seakan tanpa lelah, walau beberapa dari mereka tampak kuyu dan mengantuk. Beberapa pengunjung rumah sakit yang notabenenya keluarga pasien, juga mulai surut. Entah sekedar keluar membeli kopi hangat, atau memang sudah pada pulang.

Ruang tunggu hanya diisi kekosongan, dan percakapan satpam yang berpatroli.

“Oh, Bapak sudah dapat kamar. Ini jam berapa, Ri?” tanya Ibuk ketika melihat kakek sudah berada di kursi roda dan didorong oleh seorang staff.

“Jam dua malam, Mbak,” jawab Bulek Riani.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan perawatan intensif di UGD, kakek akhirnya mendapatkan kamar rawat. Jadilah, kakek dipindahkan ke bangsal yang agak ke dalam. Maaf, aku lupa apa nama kamarnya. Pokoknya, kamar itu berada agak ke dalam, dan harus melewati lorong temaram yang agak bikin merinding. Dan bangsal tersebut berada tidak jauh dari ruangan yang disinyalir adalah kamar jenazah.

“Nduk sayang, jangan menangis ya,” gumam Bulek Riana guna menenangkan Sofi, anaknya yang berusia dua tahunan.

Bulek Riani juga turut mengelus kepala bocah itu, yang tiba-tiba menangis. Entah rewel karena mengantuk atau entah apa. Sedangkan Ibuk justru terheran-heran sewaktu melihat ada sosok lelaki bertubuh tinggi tegap dan agak berisi sedang mendorong brankar. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, dan melewati lorong gelap dengan santai.

“Mungkin staff rumah sakit ada jadwal memberi obat atau makanan,” gumam Ibuk.

Sofi kian menangis histeris, dengan ekspresi ketakutan. Akhirnya, dia dibawa keluar oleh Bulek Riana.

Esok harinya, Ibuk dan Bulek Riani sedang istirahat di ruang tunggu bersama beberapa keluarga pasien lain. Namanya juga emak-emak, ya jadilah mereka akrab satu sama lain sampai mengobrol panjang lebar.

“Oh, ini jam makan pasien ya?” tanya Ibuk sewaktu melihat dua orang staff sedang mendorong brankar. “Itu staffnya mendorong brankar makanan.”

“Jam makan pasien?” Ibu-ibu berkerudung cokelat mengerutkan kening. “Itu bukan brankar makanan, Bu. Itu brankar jenazah.”

“Brankar jenazah?” tanya Ibuk memastikan.

“Iya. Jenengan lihat kan kalau brankar itu tertutup kain putih?”

Ibuk mengangguk.

“Itu berarti ada yang meninggal, dan dibawa ke ruang jenazah. Tapi kalau tidak tertutup, berarti mau menjemput jenazah di bangsal.”

Ibuk terdiam sejenak, seraya mengingat sesuatu. “Jadi, hanya staff rumah sakit yang diizinkan mendorong brankar tersebut ya?”

Ibu berkerudung cokelat mengangguk.

“Dan mereka semua memakai seragam kerja begitu? Warna putih?”

Ibu berkerudung cokelat kembali mengangguk. “Iya, Bu. Semua staff disini pakai seragam begitu. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Ibuk seraya tersenyum.

Ibuk kemudian mengajak Bulek Riani keluar sebentar guna menghirup udara segar. Maklum, Ibuk tidak kuat AC dan bakal mabuk kalau terlalu lama terpapar hawa dingin AC. Alhasil, kini mereka berdua duduk di bawah pohon ketapang di halaman rumah sakit, dimana Bapakku dan Paklek Randi sedang meneguk kopi.

“Kok keluar, Dik?” tanya Bapakku.

“Aku mabuk AC,” jawab Ibuk kemudian menerima uluran kopi hitam dari bapakku. “Bapak masih istirahat di dalam ditemani Riana. Kami gantian.”

Bapakku mengangguk, dan kini berbincang dengan Paklek Randi. Sementara Ibuk merasakan hawa dingin di tengkuknya dengan aneh.

“Ni, semalam waktu Bapak akhirnya dapat kamar, kamu lihat ada orang mendorong brankar lewat lorong gelap itu, kan?” tanya Ibuk berbisik.

“Lihat, Mbak. Yang pakai busana hitam itu kan? Auranya aneh dan sangar.”

“Iya aneh. Kalau seluruh staff pakai seragam putih, kok dia pakai busana hitam ya? staff betulan atau….”

Ibuk dan Bulek Riani lantas saling bertukar pandang.

Jika seluruh staff rumah sakit selalu mengenakan seragam putih, lantas siapakah sosok berbusana hitam yang mendorong brankar semalam? Brankar bertutupkan kain putih yang melintasi lorong gelap dini hari tadi? Lalu, apakah sebenarnya Sofi menangis histeris karena ketakutan melihat sosok misterius tersebut.

Bahkan selepas beberapa tahun, Ibuk masih tidak tahu apakah sosok tersebut merupakan staff rumah sakit, atau entitas lain. Walau Ibuk senantiasa berpikir positif. Mungkin, staff rumah sakit sedang melepas seragam dan bertukar busana gelap. Mungkin juga, staff tersebut hendak pulang tetapi malah mendapat tugas tambahan. Dan semua kemungkinan positif.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kehadiran sosok misterius berbusana hitam dini hari itu, diiringi dengan hawa dingin menusuk dan kengerian aneh, berhasil menjadi ingatan menyeramkan.