Marion Jola, yang akrab disapa Lala, telah berkembang dari selebgram menjadi seorang penyanyi dengan suara dan gaya yang khas. Baru-baru ini, wanita berusia 24 tahun itu memberi pandangan terkait kecantikan.
Seperti dikutip dari video pendek unggahan akun Instagram @rumpi_gosip, lebih dalam Marion Jola, mengomentari sebutan "aura Magrib" yang disematkan oleh netizen kepada Fuji.
Menurut Marion, istilah aura Magrib menjadi pemahaman yang salah jika digunakan secara negatif oleh netizen. Sebab, Magrib merupakan simbol keindahan dan momen spiritual, di mana matahari terbenam, saat berbuka puasa, dan waktunya berdoa.
"Aku tuh ngelihat yang kayak Kak Fuji gitu-gitu, orang bilang aura Magrib gitu. Istilah menjijikannya zaman sekarang, bagiku ini lucu," ungkap Marion Jola dikutip dari akun @rumpi_gosip, Senin (17/6/2024).
โMagrib itu bukannya cakep ya? Iya ah, ya kan Magrib itu cakep, ada sunset. Magrib itu kalau misalnya di Muslim waktunya kita misalnya Magrib salat, untuk salat dan buka puasa,โ tambahnya saat ia diundang ke acara podcast YouTube Azka Corbuzier itu.
Marion Jola pun melanjutkan dengan nada kesal, kenapa keindahan tersebut dinilai sesuatu yang gelap dan kotor.
"Terus, kenapa tiba-tiba artinya jadi gelap, jadi kotor, cuma gara-gara mulut netizen nih," sambung Marion Jola.
"Karena Magrib aja dalam suatu agama itu waktu saat buka puasa dan waktu untuk berdoa. Aneh, sunset tuh waktu keluarnya pas Magrib," tandasnya.
Belakangan ini, istilah "aura Magrib" acapkali digunakan warganet untuk mengejek orang lain yang memiliki kulit gelap. Sejumlah selebgram yang kerap disebut memiliki aura Magrib adalah Fujianti Utami atau yang biasa disapa Fuji.
Menanggapi tayangan video pembelaan dari Marion Jola terhadap Fuji yang diledek netizen punya "aura Magrib" itu, mengundang ragam komentar warganet.
"Gue baru tau artinya Magrib zaman now itu untuk ngebully kulit. Astagfirullah, lu netizen harusnya malu sama Marion tuh dia aja tau Magrib itu indah banget waktunya buat buka puasa dan shalat. Malah jadi nyeleneh, kulit gelap. Miris ya," tulis @inovv_n***.
"Lagian kulit orang Indonesia emang normalnya kuning langsat dan sawo matang nggak sih? Emang cantik harus putih banget kayak bihun, apa gimana? Heran," sahut @dhea_***.
"Contoh seseorang yang selalu berpikir positif," timpal @infans***.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
4 Rekomendasi HP dengan Baterai Jumbo Terbaik dan Banyak Diburu di Awal 2026, Mulai Rp2 Jutaan
-
Poco F8 Series Rilis Hari Ini di Indonesia, Perkenalkan Konsep Baru Bertajuk "UltraPower Ascended"
-
Xiaomi Pad 8 Siap Meluncur di Pasar Global, Usung Chipset Kencang Snapdragon 8s Gen 4
-
4 Rekomendasi Tablet Dukung SIM Card Paling Worth It di 2026, Harga Terjangkau Mulai Rp 1 Jutaan
-
Huawei Nova 14 Pro Resmi Rilis di Indonesia: Andalkan Kamera Ultra Chroma, Harga Mulai Rp 8 Jutaan
Artikel Terkait
-
Rayakan Idul Adha seperti Fuji, Kecantikan Mayang Dipuji Mirip Mendiang Vanessa Angel
-
Beda dari Fuji, Mayang Diduga Tak Kurban Hewan Idul Adha Tahun Ini: Padahal Punya Gaji 3 Digit
-
Fuji Rayakan Idul Adha bersama Keluarga, Gala Bikin Salfok: Makin Gede Makin Ganteng!
-
Fuji Pamer Momen Idul Adha, Kata-kata Gala Sky di Makam Vanessa Angel Bikin Haru
-
Marion Jola Ikut Pasang Badan Fuji Disebut 'Aura Maghrib': Apa Itu, dan Benarkah Termasuk Body Shaming?
Entertainment
-
Bikin Tensi Naik! Ini 5 Biang Kerok Anime Hobinya Nge-Prank Teman Sendiri
-
Jennie BLACKPINK Resmi Kolaborasi dengan Tame Impala di Lagu Dracula
-
Sinopsis Mardaani 3, Film India Terbaru Rani Mukerji dan Janki Bodiwala
-
Sinopsis Can This Love Be Translated?: Saat Bahasa Kalbu Lebih Sulit dari Bahasa Asing
-
Live Action High School Family: Kokosei Kazoku Resmi Rilis Musim Gugur 2026
Terkini
-
Niat Cari Jajanan Kaki Lima, Turis di Tailan Malah Disuguhi Makanan di Acara Duka
-
Harga Terjun Bebas! 5 Flagship Ini Makin Masuk Akal Dibeli
-
4 Serum Anti-Aging Tanpa Pewangi dan Alkohol yang Gentle untuk Kulit Sensitif
-
Mengenal Legenda Putri Mandalika di Balik Tradisi Bau Nyale 2026 di Lombok Tengah
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme