Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang asing di tengah keluarga sendiri? Pengalaman yang menyesakkan ini akan Anda temui saat menyelami novel Lebih Putih Dariku karya Dido Michielsen.
Mengambil latar abad ke-19 hingga ke-20, buku ini bukanlah sekadar catatan sejarah yang kaku, melainkan sebuah memoar tentang luka mendalam Isah—seorang perempuan Jawa yang terjebak di antara dua dunia yang sama-sama tidak mengakuinya.
Sinopsis
Cerita bermula dari Piranti, yang kemudian dikenal sebagai Isah. Lahir dari rahim seorang pembatik di Keraton Yogyakarta, ia sebenarnya adalah putri seorang pangeran. Namun, statusnya sebagai "anak luar nikah" membuatnya diperlakukan layaknya pelayan di lingkungan keraton.
Lelah dengan diskriminasi dan sistem feodal yang membelenggu, Isah mengambil langkah berani: ia menolak perjodohan tradisional dan memilih bersanding dengan Gey, seorang perwira Belanda.
Isah berharap "dunia putih" bisa memberinya napas kebebasan yang selama ini ia dambakan. Namun, alih-alih meraih kemerdekaan, Isah justru terperosok ke dalam kekejaman kolonialisme yang jauh lebih dingin dan terencana.
Tragedi "Babu" bagi Anak Kandung Sendiri
Puncak kepedihan dalam novel ini tergambar saat Isah melahirkan dua putri cantik, Pauline dan Louisa. Bagi Isah, mereka adalah harapan; mereka "lebih putih darinya". Namun, mimpi itu hancur saat Gey memilih pulang ke Belanda untuk menikahi wanita sebangsanya. Isah ditinggalkan.
Lebih tragis lagi, demi masa depan anak-anaknya agar mendapatkan status sosial yang layak, ia harus rela melepaskan mereka untuk diadopsi oleh keluarga Belanda.
Momen paling mengiris hati adalah ketika Isah setuju bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga yang mengadopsi anak-anaknya.
Bayangkan, setiap hari ia merawat kedua buah hatinya dengan limpahan kasih sayang, namun tidak pernah diizinkan untuk membisikkan kata, "Aku adalah ibumu."
Di sini, Dido Michielsen mengajak kita melihat sisi gelap kolonialisme yang tidak hanya merampas tanah, tetapi juga mencuri hak paling mendasar dari seorang ibu.
Identitas yang Terhapus
Membaca novel ini menyadarkan kita bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Stigmatisasi, objektifikasi seksual, hingga penghilangan identitas yang dialami Isah adalah bentuk kekejaman psikologis yang sistematis.
Karakter pria dalam cerita ini mungkin tidak tampil kasar, namun secara perlahan mereka menghancurkan martabat Isah sebagai manusia.
Isah bukan sekadar potret perempuan abad ke-19. Jika ditarik ke masa kini, sosoknya mencerminkan perjuangan banyak perempuan yang masih terjepit oleh struktur sosial dan budaya yang membatasi ruang gerak mereka. Sejak halaman pertama, alur novel ini akan menghipnotis Anda melalui detail yang tajam namun liris.
Jika Anda mencari bacaan yang mampu membuka mata sekaligus menyentuh palung hati terdalam, Lebih Putih Dariku adalah pilihannya. Ini adalah refleksi tentang harga diri, perlawanan, dan cinta seorang ibu yang tak terbatas oleh warna kulit.
Bersiaplah untuk merasa sesak, kagum, dan terenyuh dalam waktu yang bersamaan. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!
Identitas Buku:
- Penulis: Dido Michielsen
- Penerjemah: Martha Dwi Susilowati
- Penerbit: Marjin Kiri
- Tahun Terbit: Juli 2025 (Cetakan keempat)
- Jumlah Halaman: 288
- Genre: Fiksi Sejarah
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Membaca Perjalanan Mustahil Samiam: Sebuah Petualangan Mencari Akar yang Mengusik Logika
-
Review Soewardi Soerjaningrat: Melacak Jejak Bapak Pendidikan di Belanda
-
Mahakarya Nobel Sastra: Elegi Darah dan Tanah di Ladang Sorgum Merah
-
Membaca Materialisme Budaya: Mengapa Babi Haram dan Sapi Disembah?
-
Bahagia Menurut Ki Ageng Suryomentaram, Plato hingga Al-Ghazali: Bedah Buku Filsafat Kebahagiaan
Artikel Terkait
-
Hidup Ini Brengsek dan Aku Dipaksa Menikmatinya: Potret Mati Rasa Puthut EA
-
Minimarket yang Merepotkan, Kisah Dokgo dan Empati di Balik Rak Minimarket
-
Berdaya Sebagai Perempuan di Buku Girl Stop Apologizing
-
Ulasan Novel Heartbreak Motel: Potret Kelam Luka Batin Seorang Aktris
-
Hangatnya Ikatan Ayah dan Anak dalam Novel One Big Family
Ulasan
-
Kukungan Emosi dalam Set Terbatas Film Kupeluk Kamu Selamanya
-
Menenun Kembali Persahabatan di Ujung Cakrawala Aldebaran
-
Resep Ketenangan di Pojok Kopi Dusun: Saat Modernitas Bertemu Tradisi di Kawasan Candi Muaro Jambi
-
Pahlawan Ekonomi Kreatif: Tetap Cuan Meski Tanpa Kerja Kantoran
-
Aku Punya Kendala Allah Punya Kendali: Sebuah Obat untuk Hati yang Lelah
Terkini
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
PC Tanpa Ribet Kabel? Acer Aspire C24 AIO Tawarkan Desain Tipis dan Ringkas
-
5 Pilihan HP Samsung dengan Bypass Charging, Anti Overheat Saat Nge-Game
-
Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
-
Berburu Hidden Gem Modest Fashion di Tengah Kota: Last Stock Sale 2026 Resmi Dibuka!