Sekar Anindyah Lamase | Anggia Khofifah P
100 Meters (IMDb)
Anggia Khofifah P

Film anime 100 Meters (Hyakuemu) kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan pencapaian impresif di kancah global. Dikutip dari Anime News Network, GKIDS dan Netflix mengumumkan bahwa film adaptasi manga karya Uoto ini berhasil masuk dalam daftar Top 10 film non-Inggris Netflix secara global.

Pada periode 29 Desember hingga 4 Januari, 100 Meters menempati peringkat keenam dengan total sekitar 15 juta penayangan, sekaligus menjadi satu-satunya film anime yang berhasil masuk daftar tersebut. Selain itu, film ini juga menembus jajaran Top 10 film mingguan di wilayah Hong Kong, Jepang, Thailand, dan Taiwan.

Netflix mulai menayangkan 100 Meters secara global pada 31 Desember dengan audio bahasa Jepang dan subtitle bahasa Inggris. Perilisan ini menjadi momentum penting bagi film tersebut, mengingat sebelumnya 100 Meters hanya diputar di bioskop Jepang sejak 19 September. Pada akhir pekan pembukaannya, film ini meraih posisi kedelapan box office Jepang dan mencatat pendapatan sekitar 102,6 juta yen dalam tiga hari pertama penayangan.

Perjalanan internasional film ini terbilang panjang dan prestisius. 100 Meters menggelar world premiere di Annecy International Animation Film Festival pada 12 Juni, bahkan sempat masuk dalam program Work in Progress pada edisi 2024. Film ini juga diputar oleh GKIDS di Amerika Serikat pada Oktober, termasuk pemutaran khusus di Los Angeles serta pemutaran East Coast Premiere di New York yang dihadiri langsung oleh sutradara Kenji Iwaisawa. Pada 2025, film ini meraih penghargaan runner-up Best Animated Film dari Florida Film Critics Circle Awards, memperkuat reputasinya sebagai karya animasi berkualitas tinggi.

Disutradarai oleh Kenji Iwaisawa, yang sebelumnya dikenal lewat ON-GAKU: Our Sound, 100 Meters diproduksi oleh Rock 'n' Roll Mountain dengan dukungan Pony Canyon, TBS TV, dan ASMIK Ace.

Naskah ditulis oleh Yasuyuki Muto, sementara desain karakter dan arahan animasi ditangani Keisuke Kojima. Musik digarap oleh Hiroaki Tsutsumi, dengan lagu tema Rashisa dibawakan oleh band populer Official HiGE DANdism, yang semakin memperkuat nuansa emosional film ini.

Dari sisi cerita, 100 Meters mengangkat tema rivalitas, ambisi, dan pencarian jati diri melalui olahraga atletik. Kisahnya berfokus pada Togashi, seorang pelari berbakat yang sejak kecil selalu memenangkan lomba lari 100 meter dengan mudah. Kehidupannya berubah ketika ia bertemu Komiya, murid pindahan yang memiliki tekad besar tetapi minim teknik. Togashi kemudian mengajarinya, sekaligus menanamkan obsesi untuk menang apa pun risikonya.

Bertahun-tahun kemudian, keduanya kembali bertemu sebagai rival di lintasan, memaksa mereka menghadapi sisi terdalam dari ambisi dan makna passion mereka masing-masing. Deskripsi cerita ini juga sejalan dengan penjelasan resmi Annecy International Film Festival yang menyoroti konflik batin dan perkembangan karakter kedua tokoh utama.

Film ini diadaptasi dari manga Hyakuemu karya Uoto yang terbit di aplikasi Magazine Pocket milik Kodansha dari 2018 hingga 2019. Meski manganya relatif singkat dan tidak berlanjut ke sekuel, adaptasi animenya justru memperoleh pengakuan luas.

Menurut Screen Rant, 100 Meters berhasil meraih skor sempurna 100% Fresh di Rotten Tomatoes berdasarkan ulasan kritikus, serta skor audiens 92% dari lebih dari 50 ulasan. Bahkan disebutkan bahwa film ini mampu melampaui film anime lain pada 2025 dalam penilaian kritikus, sebuah pencapaian yang jarang terjadi.

Kesuksesan 100 Meters ini terbilang mengejutkan mengingat promosi globalnya relatif minim. Namun, antusiasme penonton terus meningkat seiring dengan pujian terhadap animasi hand-drawn yang ekspresif dan narasi emosionalnya.

Akun resmi Netflix Anime di platform X turut membagikan kabar pencapaian ini dan memicu respons positif dari penggemar di seluruh dunia.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS