M. Reza Sulaiman | Tisna Ady Tanamal
Tak Masalah Jadi Orang Baik (Dok Pribadi/Tisna Ady Tanamal)
Tisna Ady Tanamal

Semua bermula ketika saya kembali berkunjung ke perpustakaan umum di daerah saya setelah sekian lama. Saat itu, saya bermaksud menemukan buku berjudul Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya karya Dr. Kasmir, tetapi tidak ketemu. Sebagai gantinya, agar saya tidak keluar dari gedung itu dengan tangan hampa, saya meraih buku ini, Quiet Impact: Tak Masalah Jadi Orang Introver karya Sylvia Loehken. Pada awalnya, saya tidak bermaksud untuk benar-benar membacanya. Namun, ternyata buku ini cukup menarik. Saya pun mempelajarinya dengan santai, sedikit demi sedikit, dan menuliskan ulasannya di sini.

Dewasa ini, kita tentu sudah sering mendengar istilah introver dan ekstrover, atau bahkan ambiver. Istilah-istilah tersebut sudah begitu akrab kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Namun, apakah kita sudah memaknainya secara benar? Atau jika Anda adalah seorang introver, apakah Anda sudah benar-benar memahami apa yang Anda butuhkan, bukan sekadar apa yang Anda inginkan? Buku ini akan memandu Anda untuk menemukan jawaban atas dua pertanyaan tersebut.

Bab 1: Mengapa Diam

Pada bab ini, penulis menekankan bahwa introversi, sifat pemalu, dan hipersensitivitas adalah tiga kualitas berbeda yang tidak serta-merta saling terhubung. Hal yang paling saya sukai dari bab ini adalah analogi yang digunakan penulis, yakni ekstrover diibaratkan sebagai kincir angin, sementara introver diibaratkan sebagai baterai dalam cara mereka mendapatkan energi.

Maksudnya, sebagaimana kincir angin yang berputar makin cepat seiring dengan semakin kencangnya angin bertiup, demikian pula ekstrover yang memperoleh energi dari kontak dengan orang banyak dan dari aktivitas. Sementara itu, introver yang diibaratkan sebagai baterai memerlukan ketenangan dan keheningan untuk mengisi ulang energinya. Ada pula istilah lucu bernama flexi-introverts, yaitu kelompok introver yang dapat dengan mudah menyesuaikan diri layaknya ekstrover, atau yang oleh Helgoe (2008) disebut sebagai “introver yang senang bergaul” alias introver yang fleksibel.

Saking sukanya saya pada cara penulis menganalogikan ekstrover dan introver, timbul keinginan kuat untuk membagikan gagasan itu kepada orang lain. Kepada sahabat saya, Santoso, pada suatu kesempatan nongkrong di rumah teman sembari menunggu waktu berbuka, saya uraikan gagasan tentang kincir angin dan baterai itu. Sebagai tanggapan, Santoso berucap seperti ini:

“Saya sih tipe orang yang cukup suka bersosialisasi, Pak. Hanya saja, dalam banyak hal yang lain, saya menunjukkan kecenderungan seorang introver.”

“Hm, kebetulan sekali,” kata saya. “Di buku ini juga disebutkan tentang flexi-introverts, yaitu introver yang senang bergaul.”

“Nah, itulah saya,” pungkas Santoso.

Bab 2: Kekuatan-Kekuatan Sosok Introver: Harta yang Terpendam

Pada bab ini, Anda akan dihadapkan pada daftar kekuatan-kekuatan pribadi yang umumnya dimiliki oleh seorang introver. Kekuatan-kekuatan tersebut antara lain kewaspadaan, penguasaan substansi, konsentrasi, kemampuan mendengarkan, sikap tenang, berpikir analitis, kemandirian, kegigihan, keterampilan menulis, dan empati. Penulis juga memberi catatan bahwa dengan mengembangkan serta menerapkan kekuatan-kekuatan pribadi ini, seorang introver diharapkan mampu meningkatkan komunikasi sekaligus memungkinkan dirinya menjalani hidup secara autentik.

Pikir saya yang paling menarik dari bab ini adalah subbab berpikir analitis. Di sini, berdasarkan teori Olsen Laney (2002), introver digolongkan dalam dua tipe berdasarkan sisi otak bagian mana yang lebih dominan. Yang pertama adalah introver otak kanan, yaitu orang-orang pendiam dengan dominasi korteks sebelah kanan yang cenderung mengolah informasi secara subjektif dan intuitif, atau yang lazim disebut dengan naluri atau gut feeling. Yang kedua adalah introver otak kiri, yaitu orang-orang pendiam dengan dominasi korteks sebelah kiri, yang mana adalah populasi yang paling menggambarkan stereotip introver: mereka hanya memerlukan sedikit kontak sosial dan cenderung berorientasi objek serta teori.

Nah, setelah membaca teori Olsen Laney tersebut, saya jadi bertanya-tanya: “Saya ini tipe introver yang mana?” Karena baik tipe sebelah kanan maupun sebelah kiri sama-sama menggambarkan kecenderungan saya.

Bab 3: Kebutuhan-Kebutuhan Sosok Introver: Hambatan-Hambatan Sosok Introver

Jika pada bab sebelumnya kita disuguhi uraian mengenai sepuluh kekuatan pribadi yang biasa dimiliki oleh seorang introver, maka pada bab ini pembahasannya adalah kebalikannya. Selain kekuatan pribadi, seorang introver juga memiliki daftar kelemahan atau hambatan, antara lain rasa takut, perhatian berlebihan terhadap detail, rangsangan berlebihan, sikap pasif, kecenderungan melarikan diri, terlalu mengandalkan otak, membohongi diri sendiri, fiksasi, menghindari kontak, dan menghindari konflik. Penulis menekankan pentingnya mengenali hambatan-hambatan ini agar seorang introver tidak melemah atau bahkan mempersulit kehidupannya sendiri.

Ketika saya menelusuri uraian di bab ini, saya berhenti cukup lama di subbab menghindari kontak. Berikut ini adalah cuplikan dari halaman 84 yang membuat saya terdiam dan berpikir:

“... sosok pendiam berisiko masuk dalam sebuah situasi ekstrem, yaitu isolasi sosial. Mereka tersingkir dengan sendirinya, dengan seluruh pikiran dan emosi mereka. Akibatnya, rangsangan-rangsangan yang penting serta koreksi-koreksi dari orang lain hilang dari kehidupan profesional dan kehidupan pribadi mereka. ...”

Nah, saat ini saya merasa sedang berada di dalam situasi semacam itu. Yang anehnya, saya merasa nyaman. Tentu saja situasi ini bisa berkembang menjadi situasi yang berisiko jika saya tidak segera mengupayakan pemecahannya. Jadi, apakah saya merasa beruntung karena telah menemukan buku ini? Mungkin saja.

Bab 4: Rumah Adalah Istana Saya: Membentuk Ruang Pribadi Anda

Apakah seorang introver sebaiknya memilih pasangan hidup yang juga introver? Tentu saja tidak. Bab ini memberikan wawasan mengenai hal tersebut. Namun, bagian yang paling saya sukai dari bab ini adalah pembahasan tentang cara menangani anak, baik yang introver maupun ekstrover. Hal ini penting karena anak dari masing-masing tipe memiliki kebutuhan khusus dalam hal komunikasi dan pengembangan pribadi. Penulis juga menambahkan catatan bahwa jika setiap orang tua mampu mengenali bakat dan kebutuhan pribadi mereka sendiri, maka mereka akan lebih mampu memberikan dukungan yang tepat bagi anak-anaknya.

Bab 5: Publik dan Kemanusiaan: Membentuk Lingkungan Kerja Anda

Apakah seorang introver cenderung payah dalam kerja sama tim? Tentu saja tidak. Introver memiliki kemampuan yang sama untuk bekerja dalam sebuah tim sebagaimana ekstrover. Perbedaannya terletak pada cara dan penekanan yang digunakan. Pada bab ini, penulis menyertakan beberapa tips bagi para introver. Salah satu di antaranya berjudul Berkomunikasi Demi Karier: Lima Prinsip per Hari. Apa saja lima prinsip yang dimaksud? Tentu saja tidak akan disebutkan di sini agar Anda penasaran dan termotivasi untuk membaca bukunya secara langsung.

Apakah isi buku ini hanya terdiri dari lima bab? Sebenarnya masih ada empat bab lainnya yang antara lain membahas cara membangun dan mengembangkan kontak (bab 6), berunding (bab 7), berbicara di depan umum (bab 8), serta berbicara dalam rapat (bab 9). Bab-bab tersebut sangat menarik dan tentu saja tidak hanya dibutuhkan oleh seorang introver.

Selain itu, pada bagian akhir buku, penulis juga menyajikan sebuah rangkuman dari apa yang, menurut istilah penulis sendiri, disebut sebagai bagian paling penting dan bahan paling berharga, yang dirangkum dalam tujuh poin. Apakah saya perlu menyebutkannya? Tentu saja tidak. Bisa dikatakan, tujuh poin tersebut merupakan intisari dari buku ini. Jadi, jika Anda penasaran, bacalah bukunya sekarang.

Sebenarnya saya meminjam buku ini dari perpustakaan umum hanya untuk kurun waktu seminggu. Kini sudah masuk minggu ketiga dan saya harus segera mengembalikannya. Apakah saya akan kena omel atau denda? Bisa jadi. Toh, saya tetap akan mengembalikannya. Dan yang paling penting, saya benar-benar sudah membacanya.

Saya merekomendasikan buku ini untuk siapa pun: introver yang ingin lebih mengenal dirinya, ekstrover yang ingin memahami rekannya, para orang tua yang ingin memahami anak-anaknya, serta siapa pun yang ingin melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Semoga ulasan ini berguna. Salam membaca!

Identitas Buku

  • Judul: Quiet Impact: Tak Masalah Jadi Orang Introver
  • Penulis: Sylvia Loehken
  • Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun terbit: 2016
  • Tebal: 305 halaman
  • ISBN: 978-602-06-3407-4
  • Kategori: Pengembangan Diri