Pernah merasa kalau hidup hanya habis untuk bekerja, tidur, lalu bekerja lagi? Istilah "budak korporat" mungkin terdengar lucu di media sosial, tetapi realitas di baliknya sering kali menyakitkan. Berangkat dari keresahan yang nyata, unit garage rock/punk asal Bogor, The Kampret, merilis amunisi terbaru mereka bertajuk "Sambatku".
Di bawah naungan Barvill Entertainment, label rekaman asal Banjarbaru, lagu ini hadir bukan sekadar untuk meramaikan tangga lagu, melainkan sebagai wadah katarsis bagi para pejuang nafkah yang merasa tenaganya diperas habis.
Bukan Sekadar Konten, Ini Realitas 14 Jam Kerja
Lagu "Sambatku" lahir dari pengalaman personal yang sangat melelahkan. Personel The Kampret memotret bagaimana waktu manusia dikuras habis demi kepentingan ekonomi yang tidak seimbang. Bayangkan, bekerja 14 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa libur—sebuah kondisi yang jauh dari kata manusiawi, namun sering kali dianggap normal dengan dalih "loyalitas".
"Lagu ini adalah suara jujur saya saat merasa diperas habis-habisan hanya untuk menyambung hidup. Kerja dari pagi sampai malam tanpa jeda itu bukan produktivitas, itu perbudakan modern," ungkap perwakilan The Kampret.
Melalui lirik yang lugas seperti, "Sikat habis batas aturan normal / Tujuh hari penuh rasa sebal," band ini memvalidasi perasaan jutaan pekerja di Indonesia yang merasa terjebak dalam sistem yang tidak peduli pada kesehatan mental mereka.
Musik sebagai "Obat" Rasa Muak
The Kampret memilih jalur garage rock dengan distorsi gitar yang kasar sebagai bahasa perlawanan mereka. Tidak ada harmoni yang manis di lagu ini karena kemarahan atas ketidakadilan memang tidak butuh polesan.
Kritik sosial mereka juga menyentil jurang ketimpangan yang semakin lebar: "Beda kelas jurang ketimpangan / Gengsi bangsat realitas kehidupan." Lirik ini menjadi pengingat bahwa banyak orang harus bekerja sampai batas maksimal raga hanya untuk bertahan hidup di tengah gengsi dan tekanan sosial.
Rilis Akhir Februari
"Sambatku" diharapkan mampu menjadi kawan bagi siapa saja yang merasa lelah dengan rutinitas yang membunuh kreativitas. Lagu ini akan tersedia di seluruh platform musik digital mulai 27 Februari 2026.
Mengeluh atau "sambat" bukan berarti kita lemah. Terkadang, mengakui bahwa kita lelah adalah langkah pertama untuk menolak tunduk pada sistem yang tidak manusiawi. Jadi, sudahkah kamu sambat hari ini?
Barvill Entertainment adalah Label rekaman independen berbasis di Banjarbaru yang fokus mendukung musisi-musisi dengan karya yang jujur dan berani menyuarakan isu sosial. Kami percaya musik adalah alat komunikasi paling efektif untuk perubahan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Dari Harga Beras hingga Jam Kerja: Semua Berawal dari Keputusan Politik
-
Meraba Realita Musisi Independen yang Hidup dari Gigs Berbayar Seadanya
-
Era Baru D'Masiv: Jadi Band Indie, Siap Rilis Album Internasional
-
Nggak Semua Orang Harus Dengerin Musik Indie buat Dianggap Punya Selera
-
Asosiasi Sopir Logistik Curhat ke DPR: Jam Kerja Tak Manusiawi Bikin Penggunaan Doping dan Narkoba
Entertainment
-
Ada Rio Dewanto, Sinopsis Kuyank: Petaka Cinta dan Teror di Kalimantan
-
4 Film yang Membuka Mata tentang Bahaya Child Grooming
-
Kontrak Berakhir, BoA Hengkang dari SM Entertainment usai 25 Tahun Bersama
-
Teuku Rassya Matangkan Persiapan Pernikahan, Usung Adat Aceh dan Jepang
-
Usai Baca Buku Aurelie Moeremans, Jessica Iskandar Ungkap Cerita Pribadi
Terkini
-
Kasus Kekerasan Seksual, Bagaimana Media Menulis Berpihak Kepada Penyintas?
-
Ketika AI Disalahgunakan: Masihkah Media Sosial Aman bagi Perempuan?
-
Lara dan Raka: Tentang Kopi Pahit dan Tatapan yang Tidak Memaksa
-
Raka dan Lara: Di Antara Aroma Kopi dan Tatapan Pertama
-
Duo Striker Brazil Jalani Naturalisasi, Bisa Jadi Opsi Lini Depan Timnas Indonesia?