Duduk di antara penonton talkshow dari sebuah band independen, saya mendengar cerita mereka, bagaimana gigs jadi napas untuk bertahan, sementara tepuk tangan terasa lebih besar dari honor yang diterima.
Saat itu saya sedang berada di sebuah kafe di tengah kota Yogyakarta, terdengar suatu band indie yang menceritakan perjalanan mereka merintis dari nol. Mereka berbicara tentang mencari panggung di sudut kota dan bertahan dengan acara yang seringkali cuma memberi honor seadanya, dan bahkan kadang hanya menyediakan makan siang sebagai bayaran.
Melihat cara mereka bercerita, terasa bahwa kisah itu bukan hanya milik satu band saja. Mereka menyebut teman-teman musisi lain juga pernah mengalami hal yang sama.
Kisah tersebut mengisahkan pengalaman serupa, datang ke venue dengan harapan mendapat panggung layak, tapi pulang hanya membawa uang bensin, atau sekotak makan yang sudah dingin sebelum manggung dimulai.
Mereka menuturkan bagaimana beberapa rekan musisi lainnya juga harus memainkan dua sampai tiga gigs dalam sehari, bukan karena jadwal sedang padat, tapi karena honor per panggung tak pernah cukup untuk menutup kebutuhan hidup.
Ada pula yang bercerita tentang panggung kecil di pojok kafe, di mana suara gitar kalah dengan mesin espresso, tapi tetap dijalani karena takut kehilangan kesempatan tampil. Sembari mereka bercerita, saya merasa seperti sedang membaca potret yang lebih besar tentang dunia musik independen.
Realita tersebut seakan menjelaskan bahwa dunia musik independen merupakan dunia yang hidup dari idealisme, tapi bertahan dari kompromi demi kompromi. Mereka ingin membuat musik yang jujur, yang lahir dari isi kepala mereka sendiri, tanpa harus mengikuti selera pasar atau permintaan berbagai pihak.
Namun, di sisi lain timbul ketimpangan untuk bisa terus berjalan, mereka harus menerima kondisi yang jauh dari kata ideal, melantunkan irama yang tak selalu didukung, menerima bayaran yang tak sepadan, atau mengambil banyak panggung kecil hanya demi menutup kebutuhan harian.
Lebih jauh, ironi tersebut juga menjelaskan bahwa panggung adalah tempat mereka bermimpi besar, tapi juga ruang tempat mereka belajar menelan realita pelan-pelan. Meski begitu, mata mereka tetap berbinar ketika berbicara soal musik, seolah segala kompromi itu tak mampu memadamkan alasan utama kenapa mereka memulai semuanya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Tanam Mangrove dan Berkarya, Kolaborasi Seniman dan Penulis di Pantai Baros
-
4 Rekomendasi Social Space di Jogja untuk Nongkrong dan Diskusi Santai
-
Lagu Digunakan Tanpa Izin, Band Wijaya 80 Laporkan Pelanggaran Hak Cipta
-
Menunggu Hari Perempuan Bisa Benar-Benar Aman dan Nyaman di Konser Musik
-
Diduga Selingkuh Lagi, Jennifer Coppen Singgung Sosok Jule di Live
Artikel Terkait
-
Rayakan 20 Tahun Berkarya, RADWIMPS Ajak 14 Musisi Ternama di Album Baru
-
Tabola Bale Meledak, Siprianus Raih AMI Award dan Jadi Wajah Musik Timur
-
Dipha Barus Lantang Suarakan Viva Palestina Usai Menang Piala AMI Awards 2025
-
Baskara Putra Borong 5 Piala AMI Awards 2025, Sebut Trofi Cuma Buat Pajangan di Rumah
-
Momen Raisa Ngibrit Hindari Wartawan di Red Carpet AMI Awards 2025
Kolom
-
8 Cara Melupakan Mantan Dengan Cepat Tanpa Drama, Mulai dari Jangan Menyalahkan Diri Sendiri!
-
Baca Buku Bisa Jadi Cara Ampuh Healing Inner Child, Gen Z Wajib Coba!
-
Melawan Budaya Patriarki dari Rumah Sendiri: Perlawanan Sunyi ala Gen Z
-
Angka Fantastis, Bukti Minim: Layakkah Nadiem Divonis Korupsi?
-
Dilema Penulis Zaman Now: Menulis Buku atau Menjadi Konten Kreator?
Terkini
-
Lebih dari Sekadar Aspal: Menenun Kembali Harapan di Tanah Sumatera
-
Pemulihan Infrastruktur Sukses, Senyum Aceh Balik Kembali
-
Menyambung Nadi, Memulihkan Asa: Wajah Kemanusiaan di Balik Pemulihan Infrastruktur Aceh
-
4 Body Serum Anti-Aging Harga Rp40 Ribuan, Rahasia Kulit Kencang dan Cerah
-
Gema Langkah di Lorong yang Tak Pernah Ada