Sekar Anindyah Lamase | Natasya Regina
Lula Lahfah (Instagram/lulalahfah)
Natasya Regina

Suasana duka tengah menyelimuti keluarga Lula Lahfah dan sang kekasih, Reza Arap, ruang digital justru dipenuhi spekulasi yang berkembang tanpa dasar.

Kepergian mendadak Lula Lahfah pada usia 26 tahun memicu berbagai dugaan liar di media sosial, mulai dari isu penyalahgunaan obat-obatan terlarang hingga tuduhan overdosis.

Rumor tersebut menyebar cepat melalui kolom komentar dan unggahan warganet, menciptakan narasi yang jauh dari fakta.

Padahal, pihak kepolisian dan keluarga telah memberikan penjelasan yang justru mengarah pada kondisi kesehatan almarhumah.

Spekulasi di Media Sosial yang Tak Berdasar

Sejumlah akun warganet mengaitkan wafatnya Lula dengan isu sensitif seperti penggunaan pods mengandung narkoba hingga Whip Pink Gas atau yang dikenal sebagai happy balloon.

Tuduhan tersebut ramai dibicarakan meski tidak disertai bukti apa pun. Situasi ini membuat publik semakin terpecah antara empati dan rasa ingin tahu yang berlebihan.

Padahal, di saat bersamaan, keluarga masih berusaha menerima kenyataan pahit atas kepergian orang tercinta.

Polisi Pastikan Tidak Ada Indikasi Narkoba

Menanggapi isu yang terus bergulir, Polres Metro Jakarta Selatan bergerak cepat dengan merilis hasil olah Tempat Kejadian Perkara.

Berdasarkan laporan resmi yang ditandatangani Kapolres Metro Jakarta Selatan, tidak ditemukan tanda-tanda pesta narkoba maupun penggunaan zat terlarang di apartemen tempat Lula ditemukan.

Hasil pemeriksaan justru menunjukkan fakta sebaliknya. Di lokasi, penyidik menemukan bukti bahwa Lula tengah menjalani perawatan medis.

"Di lokasi ditemukan obat-obatan dan surat rawat jalan dari RSPI (Rumah Sakit Pondok Indah)," tulis laporan kepolisian tersebut.

Tidak Ditemukan Tanda Kekerasan pada Tubuh Korban

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Iskandarsyah, turut mempertegas hasil pemeriksaan awal terhadap jenazah.

Ia memastikan tidak ada indikasi kekerasan maupun kejanggalan fisik lainnya yang mengarah pada tindak kriminal.

"Tidak ada tanda kekerasan," ujar Iskandarsyah saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (24/1/2026), dikutip dari Suara.com.

Terkait langkah lanjutan berupa autopsi, pihak kepolisian menyampaikan bahwa keluarga memilih untuk tidak melanjutkan prosedur tersebut.

Meski demikian, koordinasi dengan pihak rumah sakit tetap dilakukan untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.

"Dari keluarga ada permohonan untuk tidak diautopsi. Tapi kami masih koordinasi dengan pihak rumah sakit," tambah Iskandarsyah.

Penjelasan Ayah Kandung Soal Riwayat Penyakit

Bantahan paling tegas terhadap isu overdosis datang dari ayah kandung Lula Lahfah, Muhammad Feroz. Usai prosesi pemakaman, Feroz mengungkap bahwa putrinya memiliki riwayat penyakit pencernaan yang cukup serius.

Ia menjelaskan bahwa Lula telah lama mengidap GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease serta mengalami masalah pada bagian usus. Kondisi tersebut bahkan sempat memburuk saat pergantian tahun baru.

"Kalau firasat sih enggak, cuma kan yang kita tahu semua ya waktu tahun baru dia sempat masuk ke rumah sakit beberapa hari. Itu memang dia punya GERD ya, itu udah yang sering kambuh," kata Feroz.

Komplikasi Penyakit yang Selama Ini Ditahan Sendiri

Lebih lanjut, Feroz mengungkap bahwa putrinya juga mengalami pembengkakan di usus. Sayangnya, keluhan tersebut kerap disimpan sendiri oleh Lula dan tidak disampaikan secara terbuka kepada keluarga.

"Sering kambuh, terus dia juga ada pembengkakan di usus. Itu yang sering dia keluhin, tapi dia enggak keluh ke keluarga. Dia keluhnya sama teman-temannya, teman dekatnya. Dia bilang sakit banget," tutur Feroz.

Ia menduga kuat bahwa komplikasi dari penyakit tersebut menjadi penyebab utama kematian Lula. Rasa nyeri di bagian kiri tubuh yang kerap dirasakan almarhumah disebut sering datang tiba-tiba dan cukup menyiksa.

"Mungkin komplikasi dari situ. Saya kira sakit. Ya semua tahulah pas tahun baru dia di rumah sakit," imbuhnya.

Menahan Rasa Sakit Demi Tak Membuat Keluarga Khawatir

Pengakuan sang ayah menggambarkan bagaimana Lula berusaha tampil kuat di hadapan keluarganya. Ia memilih menahan rasa sakit atau hanya berbagi cerita dengan teman dekat, sehingga keluarga tidak menyadari kondisi sebenarnya.

"Tapi kita enggak tahu gitu loh. Kalau kita tahu mungkin kita suruh dia berobat lah, tapi kenapa dia enggak gitu. Ya itu mungkin akhirnya dia tahan, dia tahan, dia tahan akhirnya tadi malam itu," ucap Feroz.

Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, keluarga mengira Lula menjalani aktivitas seperti biasa. Tidak ada tanda mencurigakan hingga komunikasi terputus sejak siang hari.

"Kita enggak tahu, jadi dia normal seperti biasa kan, malam tidur, pagi aktivitas. Ya udah cuma ya hari itu sampai siang enggak ada kabar," tuturnya.

Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Apartemen

Kekhawatiran memuncak ketika pintu apartemen Lula yang terkunci dari dalam akhirnya dibuka paksa oleh pihak manajemen atas permintaan asisten rumah tangga.

Di dalam kamar, Lula ditemukan telah meninggal dunia di atas kasur, berselimut, mengenakan kaus putih dan celana pendek hitam.

Dokter pribadi yang datang ke lokasi, dr. Rizki Nirwandhi Putra, memastikan kematian Lula pada pukul 19.23 WIB, Jumat (23/01/2026).

Fakta Medis Akhiri Isu Miring

Dengan adanya bukti berupa obat-obatan dan surat rawat jalan dari rumah sakit, serta penjelasan langsung dari pihak kepolisian dan keluarga, berbagai isu miring di media sosial terbukti tidak benar.

Kepergian Lula Lahfah dipastikan murni disebabkan oleh kondisi kesehatan yang memburuk, bukan akibat overdosis atau penggunaan zat terlarang seperti yang ramai dispekulasikan.

Duka mendalam pun kini menyelimuti keluarga, sahabat, dan para penggemar yang mengenalnya sebagai sosok ceria di dunia digital.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS