Lintang Siltya Utami | Angelia Cipta RN
Poster Film Rajah 2026 (YouTube/Eight Sense Film)
Angelia Cipta RN

Film horror Indonesia memang selalu menyajikan kisah menarik ataupun budaya, salah satunya adalah Rajah. Film yang dijadwalkan akan tayang pada 26 Februari 2026 ini mengambil genre horor-fantasi dengan balutan kisah yang tak biasa.

Disutradarai oleh R Jiwo Kusumo, film berbau mistis dengan balutan budaya dan tradisi ini akan membawa para penonton merinding dengan setiap adegan yang terasa nyata.

Sinopsis Film Rajah

Teror yang datang ke dalam hidup Nilam dan Cakra tidak pernah mengetuk pintu lebih dulu. Ia hadir perlahan, menyusup lewat mimpi buruk, bayangan di sudut mata, hingga rasa sesak yang tak kunjung pergi meski matahari sudah tinggi.

Awalnya, mereka mengira semua itu hanyalah kelelahan dan tekanan hidup yang menumpuk. Namun ketika gangguan itu mulai meninggalkan bekas nyata luka, bisikan, dan peristiwa yang tak masuk akal keyakinan mereka runtuh satu per satu.

Kisahnya dimulai dengan sosok Nilam (diperankan Angel Lisandi) adalah perempuan yang hidupnya cenderung tenang, rasional, dan terbiasa mengandalkan logika. Sementara Cakra (dibintangi oleh Panji Zoni) lebih intuitif, mudah gelisah, namun berusaha menutupi ketakutannya demi terlihat kuat.

Keduanya tidak pernah menyangka bahwa kehidupan biasa yang mereka jalani akan berubah menjadi rangkaian teror gaib yang terasa terlalu personal. Seolah ada sesuatu yang mengenal mereka, memahami titik terlemah mereka, dan sengaja menekan di sana.

Hari-hari berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung. Bukan hanya suara-suara asing di malam hari, tetapi juga peristiwa ganjil yang terus berulang.

Barang bergerak sendiri, aroma menyengat muncul tanpa sebab, dan bayangan yang tak pernah sinkron dengan tubuh pemiliknya. Setiap gangguan terasa semakin dekat, semakin berani, dan semakin berbahaya. Teror itu tidak lagi sekadar menakuti, melainkan mengincar.

Dalam kepanikan dan kebingungan, takdir mempertemukan Nilam dan Cakra dengan Malawangsa (Samuel Rizal), sosok misterius yang tampak mengetahui lebih banyak daripada yang ia ucapkan.

Bersama Birsha (Aditya Zoni), Malawangsa membuka kemungkinan yang selama ini mereka tolak bahwa apa yang mereka hadapi bukan sekadar gangguan gaib biasa, melainkan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tua.

Kehadiran Malawangsa dan Birsha membawa arah baru dalam pencarian jawaban. Mereka tidak datang sebagai penyelamat, melainkan sebagai pengingat bahwa tidak semua teror bisa diusir dengan doa singkat atau keberanian sesaat.

Ada sejarah, ada kesalahan masa lalu, dan ada konsekuensi yang kini kembali menuntut balas. Setiap petunjuk yang terungkap justru menambah lapisan ketakutan baru, membuat Nilam dan Cakra sadar bahwa mereka telah terseret ke dalam pusaran yang sulit dihentikan.

Di tengah kekacauan itu, muncul Tribuana (Ditha Samantha), seorang pelatih tari tradisional Jawa yang awalnya tampak tak berkaitan dengan teror yang mereka alami. Namun perlahan, peran Tribuana menjadi kunci penting.

Melalui gerak, irama, dan filosofi tari yang ia ajarkan, tersimpan pemahaman tentang keseimbangan, pengorbanan, dan hubungan manusia dengan dunia tak kasat mata. Tari baginya bukan sekadar seni, melainkan bahasa kuno yang mampu membuka dan menutup gerbang tertentu.

Tribuana mengungkap bahwa teror yang memburu Nilam dan Cakra berkaitan dengan Petaka Zaman Edan sebuah malapetaka spiritual yang muncul ketika manusia melupakan batas, meremehkan nilai, dan mengabaikan keseimbangan hidup.

Iblis dan makhluk gaib hanyalah wajah luar dari ancaman tersebut. Bahaya sesungguhnya adalah kerusakan batin manusia yang memberi ruang bagi kegelapan untuk tumbuh.

Perjalanan mereka pun berubah menjadi perjuangan hidup dan mati. Setiap langkah bukan hanya soal bertahan dari serangan gaib, tetapi juga menghadapi ketakutan terdalam masing-masing.

Nilam dipaksa berhadapan dengan rasa bersalah yang lama ia pendam, sementara Cakra harus mengakui kelemahannya yang selama ini ia sembunyikan. Tidak semua rahasia ingin terbuka, dan tidak semua kebenaran bisa diterima tanpa harga.

Rajah, Bukan Sekedar Film Horror

Film ini menghadirkan horor yang tidak hanya mengandalkan visual menyeramkan, tetapi membangun ketegangan melalui atmosfer, emosi, dan konflik batin.

Ketakutan tidak datang tiba-tiba, melainkan merayap pelan, membuat penonton ikut merasa terjebak dalam situasi yang sama. Ancaman terasa nyata karena berakar pada kesalahan manusia, bukan semata-mata makhluk gaib yang abstrak.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Nilam dan Cakra bisa selamat, melainkan apa yang harus mereka korbankan untuk keluar dari jerat teror tersebut. Ketika Petaka Zaman Edan telah terlanjur bangkit, tidak ada jalan kembali tanpa meninggalkan sesuatu.

Film ini menjadi refleksi kelam tentang manusia, pilihan-pilihannya, dan konsekuensi yang tak pernah bisa benar-benar dihindari.

Sebuah kisah horor yang mencekam, emosional, dan menyisakan rasa tidak nyaman lama setelah cerita berakhir karena kegelapan, ternyata tidak selalu datang dari luar, melainkan tumbuh perlahan dari dalam diri manusia sendiri.