Hayuning Ratri Hapsari | Leonardus Aji Wibowo
Grindboys (dari kiri) Mahesa Ywanda, Rico Lubis, Gofar Hilman (Instagram/pergijauh)
Leonardus Aji Wibowo

Kalau tiba-tiba ada yang nyeletuk “bhap”, ”zhambb”, atau “jujurr” di tongkrongan, besar kemungkinan itu bukan asal bunyi. Bisa jadi, orang itu sedang berbicara dengan bahasa Grindboys.

Fenomena bunyi-bunyian yang kini akrab di telinga anak muda berawal dari tongkrongan lama yang kemudian naik kelas menjadi podcast. Grindboys digawangi oleh tiga nama: Gofar Hilman, Rico Lubis, dan Mahesa Ywanda yang akrab dipanggil Wancoy. Mereka bukan sekadar host, tapi representasi obrolan nongkrong yang apa adanya.

Ketiganya sudah saling kenal sejak SMA. Relasi itu membuat obrolan di Grindboys terasa cair dan tidak dibuat-buat. Saat podcast ini tayang, penonton seperti diajak duduk satu meja, mendengar candaan, celetukan absurd, hingga diskusi serius yang sewaktu-waktu dipatahkan oleh lelucon receh.

Rico Lubis sering menjadi sumber lahirnya bunyi-bunyian ikonik. Dengan gaya spontan dan refleks cepat, ia kerap menyelipkan suara seperti bhap, zhammb, moengkinn, atau jujurr. Bunyi-bunyian ini sebenarnya tidak punya arti baku, tetapi selalu muncul di momen yang pas untuk memecah suasana atau menyentil pernyataan yang terlalu serius.

Di sisi lain, Gofar Hilman memegang peran penting sebagai penyeimbang. Ia kerap membuka topik, menjaga alur obrolan, sekaligus memberi konteks agar pembicaraan tetap nyambung. Gofar sering menjadi “jangkar” ketika obrolan melebar, membuat Grindboys tetap terasa seperti podcast, bukan sekadar kekacauan suara.

Sementara itu, Mahesa Ywanda atau Wancoy hadir sebagai pemantik humor yang tajam. Komentar-komentarnya sering terdengar polos, tapi justru menjadi punchline yang menguatkan dinamika bertiga. Interaksi Wancoy dengan Rico dan Gofar menciptakan ritme khas yang sulit ditiru.

Yang menarik, bahasa Grindboys menyebar tanpa paksaan. Banyak anak muda mulai menirukan bunyi-bunyian itu di tongkrongan SMA, kampus, hingga grup chat. Kata “jujurr” kini dipakai untuk menegaskan perasaan dengan nada bercanda. “Moengkinn” menjadi simbol ragu yang santai. Bahkan kata “alias” dipelintir maknanya menjadi kebalikan, sekadar untuk lucu-lucuan.

Fenomena ini juga ramai dibahas di media sosial. Potongan video Grindboys sering viral, dijadikan meme, atau sound TikTok. Dari ruang digital, bahasa itu kembali ke dunia nyata dan hidup di obrolan sehari-hari.

Bahasa Grindboys bekerja bukan karena arti, tapi karena konteks. Ia hidup di momen yang tepat dan di lingkaran sosial yang paham. Salah tempat, bunyi itu bisa garing. Tapi di tongkrongan yang pas, satu “zhammb” saja sudah cukup bikin semua tertawa.

Pada akhirnya, Grindboys menunjukkan bahwa bahasa bisa lahir dari kebersamaan. Rico Lubis dengan bunyi absurdnya, Gofar Hilman dengan kontrol obrolannya, dan Wancoy dengan celetukan khasnya, bersama-sama menciptakan bahasa tongkrongan baru. Bahasa yang tidak tertulis di kamus, tapi hidup di keseharian anak muda.