Suasana di Kelompok Bermain (KB) Mentari, Kelurahan Mrican, Kota Kediri, pada Senin (9/2/2026), tampak berbeda dari biasanya. Gelak tawa dan antusiasme puluhan anak memenuhi ruangan Gerdu Sehati yang berlokasi di Jalan PG Mrican RT 04/RW 04. Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Kelompok 01 dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri menjadi pemantiknya.
Bukan sekadar kunjungan biasa, para mahasiswa ini membawa misi penting: mengenalkan kecerdasan emosional sejak dini. Mengingat KB Mentari merupakan lembaga pendidikan anak usia dini terakreditasi B, program ini hadir sebagai penguat kurikulum karakter yang sudah berjalan, namun dikemas dengan pendekatan yang jauh lebih interaktif dan menyenangkan.
Mengenal Emosi Lewat Kisah Joni dan Nenek Simah
Alih-alih memberikan ceramah formal yang membosankan, mahasiswa KKNT 01 UNP Kediri memilih metode mendongeng dengan media boneka tangan. Tokoh utamanya adalah Joni, seorang anak laki-laki yang lincah, dan Nenek Simah yang penyayang namun tegas.
Inti cerita berpusat pada dinamika keseharian anak masa kini, yaitu ketergantungan pada gawai. Dalam penggalan tersebut, Joni digambarkan merasa marah karena Nenek Simah melarangnya bermain ponsel. Suasana berubah menjadi haru saat Joni mulai merasa sedih karena matanya terasa perih dan sakit akibat menatap layar terlalu lama. Rasa takut pun muncul ketika ia merasa bersalah dan khawatir dimarahi neneknya karena tidak patuh. Namun, cerita berakhir manis dengan perasaan senang saat Joni mendapatkan obat tetes mata dan perhatian tulus dari sang nenek.
"Kami ingin anak-anak tahu bahwa merasa marah, sedih, dan takut itu normal. Yang paling penting adalah bagaimana mereka mengenali dan mengomunikasikannya," ujar salah satu perwakilan mahasiswa KKNT 01 UNP Kediri, Dwi Yogi Karisma.
Penggunaan boneka tangan terbukti efektif memaku perhatian anak-anak, sehingga pesan moral tentang bahaya bermain ponsel secara berlebihan tersampaikan tanpa kesan menggurui.
Ekspresi di Atas Kertas: Dari Imajinasi ke Visual
Setelah sesi dongeng yang penuh interaksi, kegiatan berlanjut ke tahap yang lebih pribadi. Anak-anak diajak untuk menumpahkan pemahaman mereka ke dalam bentuk visual. Mereka diminta menggambar dan mewarnai karakter atau ekspresi yang mewakili empat emosi dasar: senang, sedih, marah, dan takut.
Gerdu Sehati pun diisi dengan krayon warna-warni. Ada yang menggambar wajah dengan lengkungan senyuman lebar, ada pula yang mewarnai raut muka dengan warna merah yang tegas.
Momen menarik terjadi saat sesi tanya jawab. Beberapa anak diminta untuk menjelaskan alasan di balik pilihan ekspresi tersebut. Jawaban yang keluar pun sangat jujur dan beragam. "Aku gambar senang, karena ada kakak-kakak," celetuk salah satu anak dengan polosnya.
Ada juga yang mengaku menggambar ekspresi takut karena teringat saat melakukan kesalahan di rumah. Keberagaman jawaban ini menunjukkan bahwa stimulasi melalui dongeng berhasil memicu empati dan refleksi diri pada anak.
Dampak Nyata bagi Tumbuh Kembang Anak
Program sosialisasi ini tidak hanya menjadi hiburan sesaat. Pihak KB Mentari menyambut baik inisiatif ini karena dinilai berdampak langsung pada perkembangan psikologis anak. Pengelolaan emosi adalah fondasi penting bagi kesehatan mental yang sering kali harus dibangun sejak usia emas (golden age).
Dengan memahami apa yang mereka rasakan, anak-anak di Kelurahan Mrican diharapkan mampu mengontrol tindakan mereka. Misalnya, tidak lagi tantrum saat dilarang bermain gawai, melainkan mampu mengungkapkan rasa tidak suka dengan cara yang lebih baik.
Selain itu, keterlibatan aktif mahasiswa UNP Kediri di lingkungan masyarakat seperti ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat bisa dilakukan dengan cara-cara kreatif yang menyentuh akar rumput. Melalui kegiatan ini, Kelurahan Mrican tidak hanya menjadi tempat belajar bagi siswa, tetapi juga menjadi saksi lahirnya generasi kecil yang lebih cerdas secara emosional.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan pembagian apresiasi kecil bagi anak-anak yang mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Keceriaan yang terpancar di wajah anak-anak KB Mentari menjadi bukti bahwa pendidikan karakter, jika dibalut dengan kasih sayang dan kreativitas, akan selalu membuka jalan ke hati anak-anak.
Baca Juga
-
Surat Terbuka dari Saya untuk Algoritma yang Merampas Kejujuran Penulis
-
Saya Lelah Menjadi Budak Ambisi yang Dipaksa Kaya Sebelum Kepala Tiga
-
Kurang Tidur Bukan Lencana Kehormatan, Inilah Racun Hustle Culture yang Merusak Hidup Saya
-
Anak Bungsu Jelang Lebaran: Saat Titah Perantau Jadi Beban di Punggung Saya
-
Lagu "Mejikuhibiniu" Sukses Hancurkan Standar Musik Saya Tanpa Ampun
Artikel Terkait
-
Jaksa Tuntut Mahasiswa UNY Terdakwa Pembakar Tenda Polda DIY saat Demo Agustus 2025 1 Tahun Penjara
-
Viral Pengakuan Dokter Soal Jenazah ODGJ yang Dijual Buat Praktikum Mahasiswa Kedokteran
-
Terbukti Lakukan Kekerasan, Mahasiswa UNISA Yogyakarta Diskors 2 Semester dan Terancam DO
-
Marcos Reina Targetkan Sapu Bersih Poin Kandang Persik Kediri Demi Meroket ke Papan Atas Klasemen
-
Boneka Bernyawa di Jendela Kamar 147
News
-
Nostalgia Orde Baru: Mengenang Masa Ketika TVRI Jadi Satu-Satunya Jendela Piala Dunia
-
Waspada! 5 Kebiasaan Online Sepele yang Diam-Diam Mengancam Keamanan Data Anda
-
Di Balik Tren Turunnya Pemudik: Dilema Ekonomi yang Mengalahkan Tradisi Pulang Kampung
-
Gajah Indonesia Butuh Perhatian: Selamatkan Mereka dari Kesalahan Alih Fungsi Hutan
-
Strategi Sukses Lewati Macet Arus Balik 2026: Jangan Cuma Modal Google Maps!
Terkini
-
Review Novel Penaka, Kisah Pernikahan dan Realita yang Sesungguhnya
-
Membaca Filsafat ala Gen Z di Buku Filosofi Teras Karya Om Piring
-
Realisme Magis dan Luka Eksistensial dalam Buku Lelaki yang Membelah Bulan
-
Redmi A7 Pro: Smartphone Rp 1 Jutaan dengan Layar 120Hz dan Baterai Jumbo, Layak Jadi Andalan
-
FOMO atau Tak Ada Waktu: Mengapa Tetap Liburan Meski Tahu Akan Berdesakan?