Konflik hukum antara SM Entertainment dan tiga anggota subunit EXO-CBX (Chen, Baekhyun, dan Xiumin) semakin memanas. Mengutip laporan investigasi Biz Hankook, SM Entertainment secara resmi mengajukan permohonan penyitaan sementara (provisional seizure) atas sejumlah aset milik ketiganya pada 9 dan 10 Februari. Langkah hukum ini dilakukan untuk mengamankan klaim utang yang nilainya mencapai 2,6 miliar won.
Penyitaan sementara tersebut bertujuan menjamin pembayaran sebesar 10 persen dari pendapatan aktivitas individu masing-masing anggota, sebagaimana tercantum dalam kesepakatan yang dicapai kedua belah pihak pada Juni 2023. Angka 2,6 miliar won itu terdiri dari sekitar 300 juta won atas nama Chen, 1,6 miliar won atas nama Baekhyun, dan 700 juta won atas nama Xiumin.
Sebagai informasi, sengketa ini bermula pada 2023 ketika Chen, Baekhyun, dan Xiumin mengumumkan pemutusan kontrak eksklusif mereka dengan SM Entertainment.
Ketiganya menyatakan bahwa terdapat ketidakadilan dalam durasi kontrak serta kurangnya transparansi terkait dokumen pembayaran.
Perselisihan tersebut sempat memicu ketegangan besar di industri hiburan Korea Selatan, mengingat EXO merupakan salah satu grup K-Pop paling berpengaruh dalam satu dekade terakhir.
Setetah melalui proses negosiasi, pada Juni 2023 kedua pihak mencapai kesepakatan. Berdasarkan perjanjian tersebut, aktivitas grup EXO tetap dikelola oleh SM Entertainment, sementara aktivitas individu Chen, Baekhyun, dan Xiumin dijalankan melalui perusahaan mereka sendiri, INB100. Sebagai bagian dari kesepakatan, ketiganya diwajibkan membayarkan 10 persen dari pendapatan individu mereka kepada SM.
Namun, konflik kembali mencuat pada Juni 2024 ketika pihak CBX menuding SM tidak memenuhi kewajiban terkait biaya distribusi sebesar 5,5 persen untuk INB100.
Mereka menyatakan bahwa perusahaan tidak menjalankan isi perjanjian sebagaimana mestinya. Atas dasar itu, ketiga artis tersebut memutuskan untuk menghentikan pembayaran 10 persen pendapatan individu kepada SM, sehingga memicu eskalasi sengketa ke ranah hukum.
Menurut laporan Biz Korea, SM kemudian mengajukan gugatan untuk menuntut pemenuhan kontrak sekaligus meminta pembekuan aset sebagai langkah pengamanan.
Penyitaan sementara atau provisional seizure merupakan tindakan hukum yang bertujuan mencegah pihak yang berutang memindahkan, menjual, atau menyembunyikan aset sebelum ada putusan akhir pengadilan.
Langkah ini umumnya diambil apabila terdapat kekhawatiran bahwa pemulihan utang akan sulit dilakukan di kemudian hari.
Aset yang menjadi sasaran pembekuan mencakup deposito sewa (jeonse) milik Chen, apartemen Baekhyun di Achun-dong, Guri, Provinsi Gyeonggi, serta apartemen Xiumin di Hannam-dong, Distrik Yongsan, Seoul.
Apartemen Baekhyun memiliki luas 142 meter persegi dan dibeli pada Oktober 2023. Sementara itu, apartemen Xiumin seluas 166 meter persegi baru menyelesaikan proses balik nama kepemilikan pada 9 Januari lalu. Dengan adanya penyitaan sementara, aset-aset tersebut tidak dapat dialihkan hingga proses hukum selesai.
Di sisi lain, sebelumnya para anggota CBX juga sempat melayangkan tuduhan terhadap sejumlah petinggi perusahaan terkait dugaan penipuan dalam biaya distribusi. Namun, laporan tersebut dihentikan karena dinilai tidak memiliki cukup bukti. Hingga kini, perkara utama mengenai pelaksanaan kontrak dan pembagian pendapatan masih dalam proses peninjauan pengadilan, dan belum ada putusan final yang dikeluarkan.
Chen, Baekhyun, dan Xiumin sendiri dikenal sebagai vokalis utama EXO. Pada 2016, ketiganya membentuk subunit EXO-CBX dan debut dengan mini album Hey Mama!, yang meraih kesuksesan di Korea Selatan maupun Jepang.
Terlepas dari konflik hukum yang tengah berlangsung, ketiganya tetap aktif dalam berbagai proyek individu dan mempertahankan basis penggemar yang kuat, baik di dalam negeri maupun internasional.
Perkembangan kasus ini menjadi perhatian luas di industri hiburan, mengingat isu kontrak dan pembagian pendapatan antara agensi dan artis kerap menjadi topik sensitif di dunia K-Pop. Banyak pengamat menilai bahwa hasil akhir sengketa ini dapat memberikan preseden penting bagi hubungan kerja sama antara perusahaan manajemen dan artis di masa mendatang.
Saat ini, publik terus memantau keputusan pengadilan yang akan menentukan arah konflik antara SM Entertainment dan EXO-CBX.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Film Baru Makoto Shinkai Resmi Dapat Mitra Distribusi untuk Pasar Indonesia
-
Cha Eun Woo Pertimbangkan Drama Baru dari Semesta Bon Appetit, Your Majesty
-
V BTS Ungkap Alami Gangguan Pendengaran, Makin Buruk saat Jalani Wamil
-
Red Riding Hood Jadi Detektif, Adaptasi Anime TV Dijadwalkan Tayang 2027
-
Crunchyroll Dapat Hak Distribusi Internasional Film Baru Makoto Shinkai
Artikel Terkait
-
Sengketa Lahan di Depok, Ini Penampakan Uang Rp 850 Juta di dalam Ransel Hitam
-
Usai OTT Ketua dan Wakil Ketua PN Depok, KPK Bidik Sengketa Lahan di Kawasan Wisata
-
Penampakan Isi Tas Ransel Hitam Berisi Rp850 Juta, Bukti Suap Sengketa Lahan di PN Depok
-
Tao Eks EXO Raup 30 Miliar Won dalam 3 Bulan dari Bisnis Pembalut
-
EXO's Travel the World on a Ladder Kembali dengan Season 5, Tayang Maret
Entertainment
-
Intens Tapi Groovy, NCT 127 Ungkap Pesan dan Energi Positif di Album BLINGY
-
Sukses Besar! Tim Produksi Ungkap Keinginan Buat Sekuel The Breakfast Club
-
Anime Glasses with a Chance of Delinquent Siap Tayang Tahun 2027
-
Susul Jeongyeon, Chaeyoung TWICE Umumkan Hengkang dari JYP Entertainment
-
Our Sticky Love: Saat Gangster Berhati Lembut Selamatkan Cinta Pertamanya
Terkini
-
Ulasan Film Seni Merayu Tuhan: Refleksi Sunyi Anak Muda Mencari Arah Hidup
-
Dentuman Sound Horeg di Kuburan dan Masjid: Hiburan atau Sudah Kelewat Batas?
-
Review Kung Fu Soccer: Terlalu Absurd Disebut Film Tentang Sepak Bola, Apakah Layak Ditonton?
-
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
-
Dari Party ke Padel, Cara Gen Z Mengubah Arti Nongkrong