Iwan Simatupang selalu punya cara unik untuk menyisipkan filsafat kehidupan ke dalam fiksi. Eksistensialisme bukan sekadar aliran yang ia anut, melainkan ruh yang menggerakkan setiap baris kalimatnya.
Dalam novel perdananya, Merahnya Merah, kita diajak menyelami tema kesepian, kebebasan, dan kesadaran sosial melalui sosok yang hanya disebut sebagai "Tokoh Kita".
Sinopsis: Tragedi di Balik Kehidupan Gelandangan
"Tokoh Kita" memiliki rekam jejak yang panjang sekaligus kelam: seorang calon pendeta yang berubah menjadi komandan kompi di masa Revolusi Fisik, lalu menjadi algojo bagi para pengkhianat, hingga akhirnya harus mendekam di rumah sakit jiwa.
Kehadirannya di komunitas gelandangan segera menarik perhatian, termasuk Maria, sosok "ibu" bagi kelompok tersebut yang menyimpan trauma masa lalu akibat pemerkosaan dan pengalaman spiritual yang hancur.
Ketegangan muncul saat Tokoh Kita membawa Fifi, seorang gadis yatim piatu berusia 14 tahun yang terpaksa menjadi pelacur demi bertahan hidup, masuk ke komunitas mereka. Kecemburuan Maria membakar hubungan yang semula mesra. Konflik semakin memuncak ketika satu per satu dari mereka raib tanpa jejak: dimulai dari Fifi, lalu Tokoh Kita, hingga akhirnya Maria. Kehilangan ini membuat seluruh komunitas kalang kabut, terutama Pak Centeng yang merasa harga dirinya sebagai "jagoan kota" runtuh karena gagal menemukan mereka.
Absurditas dan Pemberontakan Makna
Hal terpenting dalam Merahnya Merah adalah perjuangan manusia menghadapi absurditas hidup. Iwan Simatupang menggambarkan bahwa manusia memang memiliki kebebasan, namun kebebasan itu kerap terbentur oleh dinding tebal kesadaran dan kematian. Kematian adalah penghalang mutlak bagi kebebasan, tetapi di saat yang sama, manusia bisa memilih: menyerah atau terus berjalan.
Hidup mungkin memang tidak memiliki arti bawaan. Namun, inti dari sebuah "pemberontakan" manusia adalah keberanian untuk tetap menjalani hidup yang misterius ini dan memberikan warna padanya. Melalui dinamika para gelandangan dan cinta yang saling silang antara Tokoh Kita, Maria, Fifi, dan Pak Centeng, Iwan menunjukkan bagaimana emosi dapat membuat seseorang kehilangan esensi dan jati diri mereka.
Perbandingan: Jejak Khas Iwan Simatupang
Jika dibandingkan dengan novel Ziarah dan Kering, Merahnya Merah terasa berbeda karena kehadiran karakter perempuan yang kuat seperti Maria dan Fifi. Namun, satu benang merah yang tetap konsisten adalah tema "kehilangan". Sama halnya dengan novel Koong di mana Pak Sastro kehilangan perkututnya, pusat cerita Merahnya Merah bukan terletak pada keberadaan Fifi yang hilang, melainkan pada serangkaian peristiwa dan pergolakan batin yang menyertai kehilangan tersebut.
Novel ini menggunakan teknik flashback (sorot-balik) yang rapi serta diakhiri dengan twist ending yang memikat. Sosok "Tokoh Kita" tetap menjadi karakter tanpa identitas tunggal, seorang tokoh kolektif yang bisa menjadi siapa saja di mata pembaca, dengan segala sifat kegelandangannya.
Merahnya Merah adalah sebuah mahakarya eksistensialis yang membuktikan bahwa sastra bisa menjadi ruang renungan yang sangat dalam. Iwan Simatupang tidak hanya bercerita tentang kemiskinan fisik para gelandangan, tetapi juga kemiskinan makna yang sering menghantui jiwa manusia modern. Sebuah bacaan wajib bagi Anda yang ingin mempertanyakan kembali arti kebebasan dan pilihan hidup.
Indentitas Buku:
- Judul: Merahnya Merah
- Penulis: Iwan Simatupang
- Penerbit: CV Haji Masagung (pertama), Indonesia Tera (cetakan baru)
- Tahun Terbit: 1968
- Genre: Roman/Novel Eksistensialis
- Tebal: Sekitar 212 halaman (Edisi terbaru)
- Tokoh Utama: Tokoh Kita, Maria, Fifi, dan Centeng
- Tema: Kehidupan gelandangan, pencarian jati diri, dan satire sosial
Baca Juga
-
Membaca Lelaki Tua dan Laut: Tentang Kekuatan Mental dan Seni Bertahan
-
Nyi Sadikem: Menguak Rahasia Tradisi Gowok dan Keteguhan Perempuan Jawa
-
Ulasan Buku Toko Tukar Tambah Nasib: Saat Rumput Tetangga Tak Sehijau Kelihatannya
-
Saat Keluarga Menjadi Medan Perang: Ulasan Nyaliku Kecil Seperti Tikus
-
Kitchen Karya Banana Yoshimoto: Menemukan Harapan di Tengah Kehampaan
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Novel Cerita Hati Maharani: Menelusuri Luka dan Kedewasaan
-
Novel Etnik Menik: Mimpi dan Realitas Sosial yang Diam-diam Menyentil
-
Membaca Lelaki Tua dan Laut: Tentang Kekuatan Mental dan Seni Bertahan
-
Mendidik Anak dengan Cinta yang Utuh di Buku The Happiest Kids in the World
-
Menguak Penadah Barang Curian dalam Lima Sekawan Memburu Kereta Api Hantu
Terkini
-
Infinix Note 60 Pro Siap Meluncur ke Indonesia, Usung Desain Mirip iPhone 17 Pro
-
M 1000 RR Resmi Dirilis BMW, Motor WSBK Legal Jalan Raya Masuk IIMS 2026
-
Vivo India Umumkan iQOO 15R Debut 24 Februari 2026, Usung Sensor Kamera Sony LYT-700V 50 MP
-
Legenda Buaya Putih dan Sungai Darah
-
Misteri Pesugihan Kandang Bubrah dan Tumbal Manusia