Mendengarkan musik bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk menemani aktivitas, apalagi jika ditemani lagu favorit. Ada rasa yang berbeda ketika sebuah lagu terasa pas dengan suasana hati.
Akhir-akhir ini, ada satu lagu yang saat pertama kali saya dengar langsung terasa cocok. Padahal, waktu itu saya belum tahu terjemahan liriknya. Hanya dari melodi dan cara penyanyinya membawakan lagu, saya sudah menangkap kesan bahwa ini adalah lagu galau. Lebih tepatnya, lagu galau yang dibungkus irama catchy.
Judulnya "Multo" dari Cup of Joe. Cup of Joe adalah band yang berasal dari Filipina. Lagu ini dirilis pada tahun 2024 dan mulai viral pada tahun 2025. Di YouTube, penayangannya sudah mencapai sekitar 160 juta. Di Spotify, bahkan sudah lebih dari 500 juta kali diputar. Angka tersebut menunjukkan betapa luasnya jangkauan lagu ini.
Dari situ, saya jadi penasaran. Sebenarnya, apa makna dari lagu berbahasa Tagalog ini?
Secara bahasa, "Multo" berarti hantu. Namun, bukan hantu dalam arti menyeramkan. Kata ini lebih menggambarkan bayang-bayang seseorang dari masa lalu yang masih menghuni pikiran; sesuatu yang sudah ingin dilupakan, tetapi tetap kembali.
Cup of Joe menggunakan kata "Multo" untuk menceritakan kenangan dan emosi yang terus menghantui. Meski sudah berusaha dikubur dalam-dalam, tetap saja muncul. Liriknya menggambarkan pergulatan batin dengan masa lalu. Sosok yang dilambangkan sebagai "hantu" itu seperti menolak pergi. Ia tinggal dalam ingatan dan muncul terutama saat malam terasa sepi.
Bisa juga dimaknai sebagai penyesalan. Penyesalan karena tidak mengambil kesempatan. Alasannya pun beragam, bisa jadi karena takut mencoba atau takut gagal lebih dulu. Hingga akhirnya, rasa itu berputar-putar di kepala dan selalu datang tanpa diundang.
Menariknya, banyak pendengar belum memahami liriknya saat pertama kali mendengar lagu ini, termasuk saya. Meski belum tahu artinya, sejak awal sudah terasa bahwa lagu ini chill dan enak dinikmati. Suara vokalisnya lembut, tetapi tetap mantap. Cara ia menyanyikannya terasa tenang, emosinya terkontrol, serta tidak berlebihan.
Walaupun menggunakan bahasa Tagalog, liriknya tetap terdengar ritmis dan tidak terasa asing di telinga. Temponya juga pas, tidak terlalu cepat, namun tidak terlalu lambat, sehingga lagu ini nyaman diputar sambil bekerja, belajar, atau sekadar bersantai.
Hal yang paling terasa bagi saya adalah bagaimana lagu ini menyampaikan emosi tanpa terhalang bahasa. Saat mendengarkannya, saya merasakan nuansa melankolis yang manis. Tidak terlalu sedih, namun ada rindu yang samar di setiap nadanya.
Setelah memahami arti liriknya, ada satu bagian yang terus terngiang di kepala:
"Minumulto na ’ko ng damdamin ko." (Aku dihantui oleh perasaanku)
"Ng damdamin ko." (Oleh perasaanku)
Pengulangan kalimat itu bukan sekadar pengisi. Justru di situlah letak penekanannya, seolah-olah itu adalah jantung dari lagu ini. Perasaan gelisah yang terus berputar, yang terasa belum selesai, namun juga tidak benar-benar hilang.
Ada perubahan tekanan suara di bagian itu. Vokalnya terdengar lebih berat, seperti seseorang yang akhirnya mengakui bahwa ia kalah oleh perasaannya sendiri. Bukan karena lemah, tetapi akhirnya mengakui bahwa rasa itu memang masih ada.
Dari lagu ini, saya semakin paham bahwa sedih, rindu, dan kehilangan itu bisa dirasakan oleh siapa saja, tidak peduli apa bahasanya. Tidak peduli dari budaya mana lagu itu berasal, perasaan itu tetap bisa tersampaikan dan tetap bisa dimengerti, bahkan tanpa banyak kata.
Musik menjadi medium yang jujur untuk menyampaikan apa yang kadang sulit diucapkan. "Multo" mengingatkan saya bahwa melupakan bukan hal yang mudah, apalagi jika memori itu sudah terpatri dalam pikiran.
Mungkin jalan keluarnya bukan benar-benar menghapus, melainkan menerimanya, baik kenangan baik maupun buruknya, serta mengakui bahwa semuanya itu pernah terjadi.
Akhirnya, kenangan itu sebenarnya bukan "hantu" yang perlu ditakuti. Memang kenangan itu bisa datang tiba-tiba dan membuat hati terasa tidak nyaman, tetapi keberadaannya adalah bagian dari perjalanan hidup kita. Justru dari kenangan itulah, baik yang manis maupun yang menyakitkan, kita belajar dan perlahan dibentuk menjadi diri kita yang sekarang.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Lirik Lagu Ramadhan Tiba dan Chordnya, Sambutan Bahagia untuk Idul Fitri
-
Bedah Makna Lagu Bernadya "Kita Buat Menyenangkan": Seni Memaafkan Hal Kecil
-
Obat Overthinking: Mengapa Lagu 'Kan Terus Kutulis' dari Banda Neira Wajib Kamu Dengar
-
Lirik Lagu Rukun Sama Teman dari Kemendikdasmen
-
Lirik dan Link Resmi Download Lagu 'Rukun Sama Teman', Wajib Dinyanyikan saat Upacara
Ulasan
-
Membaca Ulang Merahnya Merah: Saat Kehilangan Menjadi Awal Pencarian Makna
-
Review Novel Cerita Hati Maharani: Menelusuri Luka dan Kedewasaan
-
Novel Etnik Menik: Mimpi dan Realitas Sosial yang Diam-diam Menyentil
-
Membaca Lelaki Tua dan Laut: Tentang Kekuatan Mental dan Seni Bertahan
-
Mendidik Anak dengan Cinta yang Utuh di Buku The Happiest Kids in the World
Terkini
-
Infinix Note 60 Pro Siap Meluncur ke Indonesia, Usung Desain Mirip iPhone 17 Pro
-
M 1000 RR Resmi Dirilis BMW, Motor WSBK Legal Jalan Raya Masuk IIMS 2026
-
Vivo India Umumkan iQOO 15R Debut 24 Februari 2026, Usung Sensor Kamera Sony LYT-700V 50 MP
-
Legenda Buaya Putih dan Sungai Darah
-
Misteri Pesugihan Kandang Bubrah dan Tumbal Manusia