Lagu Golden dari film animasi KPop Demon Hunters mencatat sejarah besar di industri musik dan film global setelah memenangkan Oscar untuk kategori Best Original Song dalam ajang Academy Awards ke-98 yang digelar di Dolby Theatre, Amerika Serikat.
Selain itu, kemenangan lagu tersebut juga memecahkan beberapa rekor baru dalam sejarah Academy Awards. Salah satunya adalah menjadi lagu pertama dalam kategori Best Original Song yang ditulis oleh lebih dari empat penulis. Lagu ini memiliki tujuh penulis yang tercatat secara resmi, yaitu EJAE, Mark Sonnenblick, Joong Gyu Kwak, Yu-Han Lee, Hee Dong Nam, Jeong Hoon Seo, serta produser terkenal Teddy Park.
Namun, karena aturan dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences yang membatasi jumlah piala yang diberikan dalam kategori ini maksimal empat buah, seluruh penulis lagu harus berbagi satu patung Oscar apabila jumlah kreatornya melebihi batas tersebut. Artinya, meskipun semua penulis akan tetap tercatat sebagai pemenang Oscar, tidak semuanya menerima trofi secara individu.
Saat menerima penghargaan di panggung Oscar, EJAE yang menjadi salah satu penulis sekaligus pengisi suara karakter Rumi dalam film tersebut menyampaikan pidato yang emosional. Ia juga merupakan salah satu dari tiga penyanyi yang mengisi suara grup fiksi HUNTR/X bersama Audrey Nuna dan Rei Ami.
Dalam pidatonya, EJAE mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia menceritakan bahwa ketika masih kecil, banyak orang yang mengejeknya karena menyukai K-pop. Kini, menurutnya, situasi tersebut berubah drastis karena banyak orang di seluruh dunia menyanyikan lagu Golden, bahkan dengan lirik berbahasa Korea.
Ia juga menegaskan bahwa makna dari lagu dan penghargaan tersebut bukan sekadar tentang kesuksesan. Bagi dirinya, kemenangan ini merupakan simbol dari ketahanan dan perjuangan.
Namun, momen emosional tersebut ternyata tidak berlangsung lama. Saat EJAE hampir selesai menyampaikan ucapan terima kasih kepada para kolaborator dan tim produksi, musik penanda akhir pidato tiba-tiba diputar oleh orkestra. Ketika salah satu penulis lagu lainnya, Yu-Han Lee, mencoba menambahkan ucapan terima kasih, suaranya tertutup oleh musik dan acara langsung beralih ke jeda iklan.
Peristiwa tersebut memicu perhatian dari banyak penonton dan pengamat industri. Beberapa pihak menilai bahwa pidato tim kreator Golden dipotong terlalu cepat, terutama mengingat pencapaian bersejarah yang baru saja mereka raih.
Sejumlah warganet mempertanyakan apakah situasi itu mencerminkan perlakuan yang tidak setara. Berbagai komentar yang beredar di internet antara lain berbunyi, "Apakah ini bentuk diskriminasi?" dan "Mereka hanya membaca catatan yang sudah disiapkan, mengapa tidak diberi sedikit waktu lagi?"
Menurut laporan sejumlah media internasional, beberapa komentator bahkan menyayangkan momen tersebut karena kategori lain sebelumnya terlihat mendapat waktu pidato yang lebih panjang. Reaksi serupa juga muncul dari para penggemar di media sosial yang menilai para kreator seharusnya diberi kesempatan lebih untuk menyampaikan pesan mereka.
Meski demikian, tim kreator Golden kemudian menyampaikan ucapan terima kasih yang belum sempat diungkapkan saat siaran langsung dalam sesi wawancara di belakang panggung.
EJAE menyatakan bahwa kemenangan tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh tim yang terlibat dalam proyek film tersebut. Ia menambahkan, "Aku juga sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih kepada Rei Ami dan Audrey Nuna di atas panggung, tetapi aku tidak sempat karena pidato kami dipotong. Mereka tampil luar biasa dengan suara mereka, dan mereka adalah orang-orang yang sangat hebat. Aku sangat menyayangi mereka."
Lee juga menyampaikan pesan yang belum sempat ia ucapkan saat di panggung. "Saya ingin berterima kasih kepada semua keluarga kami, rekan-rekan sesama anggota Idol, serta Teddy Park. Ini adalah sebuah kehormatan yang luar biasa," katanya.
Sementara itu, Mark Sonnenblick juga menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga serta seluruh tim produksi film yang telah bekerja sama dalam proyek tersebut.
Ia melanjutkan bahwa film tersebut juga membawa pesan penting. "Sebagian dari cerita film ini adalah tentang melihat seseorang yang sebelumnya diajarkan kepada kita untuk dibenci dan ditakuti, lalu mulai belajar mempercayai mereka, bahkan mungkin mencintai mereka. Dan itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan film ini."
Baca Juga
-
Heeseung Solo Era Is Real! BELIFT LAB Tegaskan ENHYPEN Kini Hanya 6 Orang
-
Selamat! KPop Demon Hunters Sabet Dua Piala Oscar di Academy Awards ke-98
-
Review Diikutin Stalker 30 Menit: Nichkhun 2PM Terpaksa Pulang Diantar Mobil Patroli
-
Kokuho Dominasi Ajang Japan Academy Film Prize 2026 dengan Total 10 Piala
-
Manga JM Dapat Adaptasi Anime: Kala Assassin dan Gadis Sekolah Tukar Tubuh
Artikel Terkait
Entertainment
-
Lebih dari Harmoni Vokal: Bagaimana 'Shkidooshki' Menjadi Mata dan Jiwa Visual Konser Sal Priadi?
-
Heeseung Solo Era Is Real! BELIFT LAB Tegaskan ENHYPEN Kini Hanya 6 Orang
-
Demon Slayer Infinity Castle Bawa Piala Best Animated di Japan Academy Prize
-
Catat Tanggalnya! ILLIT Umumkan Jadwal Comeback April dengan Lagu "It's Me"
-
Selamat! KPop Demon Hunters Sabet Dua Piala Oscar di Academy Awards ke-98
Terkini
-
Rumah Kinclong Jelang Lebaran: Tradisi Tahunan yang Tak Pernah Absen
-
5 Drama dan Film Misteri Yoo Yeon Seok Terbaik yang Wajib Masuk Watchlist
-
Tanpa Perlu Makeup Tebal! 4 Tone Up Sunscreen SPF 50 untuk Kulit Cerah Natural
-
Aktivis Kontras Diserang, Bukti Nyata Kemunduran Demokrasi?
-
I Love Boosters, Satir Kapitalisme Dunia Fashion yang Absurd