Kemarin malam sepulang kerja dan sedang berhenti di lampu merah perempatan menuju rumah, aku justru cengar-cengir sendiri. Bukan apa-apa, melainkan karena aku mendapati ada kata-kata cantik di belakang bak sebuah truk.
Kata-kata itu bertuliskan: Semua tentangmu abadi, seperti halnya Edelweiss.
Jadilah hingga aku menulis artikel ini, kalimat itu masih terngiang di kepala. Bukan karena kesan romantis, melainkan pemilihan diksi yang puitis berhasil menyedot atensiku sedari awal. Mengingat, aku banyak menjumpai kalimat-kalimat nggak senonoh pada bak truk belakang
Tulisan Bak Belakang Truk Sebagai Seni
Pernah nggak sih kawan-kawan sekalian menjumpai kata-kata lucu pada bak truk belakang di jalanan? Lumrahnya, kata-kata tersebut ditulis bersama dengan gambar-gambar tertentu sebagai estetika semata.
Kalau kawan-kawan belum pernah melihat langsung, coba Googling saja dan bakal banyak gambar yang muncul. Entah kata-kata lucu, motivasi bernada komedi, hingga sindiran yang dikemas dalam seni lukisan bak truk. Namun, sayangnya ada juga banyak kalimat-kalimat yang menjurus pada hal-hal negatif semisal informasi vulgar atau berbau ‘pengkhianatan’.
Aku sendiri nggak akan ambil pusing karena kemungkinan kata-kata itu diambil dari internet, atau pelukisnya memang absurd dan mengejar pundi-pundi rupiah. Namun, bagaimana kalau ada beberapa orang yang justru jadi negatif thinking kepada drivernya? Apalagi, ada banyak reputasi yang melekat pada profesi driver, padahal nggak semua driver berlaku demikian.
Banyak Kalimat Vulgar yang Lumayan Bikin Nggak Nyaman
Aku sendiri pernah menjumpai kalimat berbau vulgar pada bak belakang truk. Mengenai hal-hal yang tentunya nggak semua usia mampu memikirkannya secara nalar. Yah, kalimat-kalimat yang menjurus pada suatu keintiman... uhuk!
Atau beberapa lukisan perempuan dengan ekspresi seksi di bak truk. Apa ya, aku mengerti bahwa lukisan itu mungkin adalah orang dekat, atau memang dimaksudkan sebagai mood booster para driver yang pening dengan duniawi. Namun, lagi-lagi rasanya kurang sopan, mengingat pengguna jalan terdiri dari beragam usia. Hal itulah, yang kadang bikin aku malas saat berada di belakang truk, dan memilih mendahuluinya saat ada celah kesempatan.
Makna Edelweiss yang Diakui Dunia
Sebagai perempuan, jujur aku cukup kurang terima saat ada beragam kata-kata vulgar begitu yang dibawa sepanjang jalan. Kalau disimpan pribadi sih sah-sah saja, tapi janganlah digeret sepanjang daerah begitu. Apalagi, tentu bakal ada banyak anak-anak di bawah usia yang belum ngeh dengan maksudnya. Bisa-bisa, kata-kata begitu disalahgunakan karena dikira kata-kata biasa yang bisa diucapkan dengan gamblang.
Namun, kemarin malam rasanya lain. Alih-alih mendahului truk dengan bak berwarna kuning itu, aku justru setia di belakangnya sampai kami berpisah di persimpangan jalan. Sebaris kalimat: Semua tentangmu abadi, seperti halnya Edelweiss sukses bikin aku berpikir: bagaimana kalau semua truk menyajikan kalimat-kalimat cantik penuh makna begini pada bak belakangnya?
Edelweiss sendiri adalah tanaman bunga yang tumbuh di dataran tinggi dan area pegunungan yang dijadikan simbol keabadian. Hal ini karena bunganya mampu tetap mekar meski dihantam cuaca ekstrem sekalipun. Edelweiss sendiri bisa ditemukan di Gunung Parangrao, Gunung Rinjani, atau Gunung Bromo, dan statusnya adalah flora dilindungi. Makanya, kalau ada pendaki yang sengaja memetik, bakal kena sanksi atau mungkin blacklist.
Sedangkan di Eropa, khususnya Austria dan Swiss, bunga Edelweiss adalah simbol cinta dan keberanian sebagaimana mengutip laman Orchid Florist.
Jadi Terpesona Efek Tulisan Bak Belakang Truk
Kendati seni lukis bak truk adalah selera masing-masing termasuk tulisan apapun yang dipilih, tetapi justru kalimat bernada adem lebih ngena di hati. Alih-alih sekadar hiburan ringan, tulisan puitis justru menjadikan kita ikut mengulik maknanya. Nggak jarang, kita bakal relate dengan maksud yang disampaikan.
Termasuk aku, yang begitu menyukai kata-kata puitis apalagi yang melibatkan alam. Entah menjawil bebungaan, pepohonan, atau ajakan halu tentang keindahan alam yang menawan. Meski sejatinya aku bukan anak mapala atau pendaki gunung, dan belum pernah melihat langsung bunga Edelweiss, tetapi aku menyukai deskripsi dan maknanya yang mendalam.
Bunga berwarna putih yang kuat dihantam cuaca ekstrem itu, seolah mengajarkan kita untuk selalu tabah dan kuat sebagai manusia. Alih-alih bergabung ke jembatan Cangar, mengapa kita tidak bertahan sebentar lagi saja?
So, menurut kawan-kawan sekalian, lebih pilih berjumpa truk dengan kata-kata lucu, motivasi hidup, atau puisi saja nih?
Baca Juga
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Dilema Ular Jelmaan Pembawa Pesan Petaka dan Tangis Mbah Darmi
-
Isekai Via Lemari dalam Film Narnia: The Lion, The Witch, and The Wardrobe
-
Ulasan Killing Season: Saat Dendam Masa Lalu Berujung Perang Gerilya yang 'Lanang Tenan'
Artikel Terkait
Kolom
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga
-
Kuliah Makin Mahal, tapi Kenapa Gaji Fresh Graduate Tetap Segitu-gitu Aja?
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
Terkini
-
GPU dan Motherboard AMD Bakal Naik Harga, Apakah Ryzen Ikut Terdampak?
-
Badai Datang, Rumah Terancam: Perjuangan Tikus Kecil di The Outermost Mouse
-
Animals Tayang 9 Oktober di Netflix, Ben Affleck Terjebak Kasus Penculikan
-
Gak Bikin Iritasi! 5 Invisible Acne Patch yang Aman untuk Kulit Sensitif
-
Wake Me Up When September Ends