Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Biografi Gus Dur (Dok. Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Nama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menempati posisi istimewa dalam sejarah Indonesia modern. Ia dikenal sebagai ulama, intelektual, budayawan, aktivis demokrasi, sekaligus Presiden Republik Indonesia keempat.

Kepribadiannya yang unik, pemikirannya yang progresif, serta keberaniannya dalam memperjuangkan pluralisme membuat Gus Dur menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia. Sosok multidimensional inilah yang diabadikan secara mendalam dalam buku Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid karya Greg Barton.

Buku yang pertama kali diterbitkan oleh LKiS Yogyakarta pada tahun 2003 ini merupakan salah satu biografi paling lengkap mengenai Gus Dur. Dengan ketebalan lebih dari 500 halaman, Greg Barton menyajikan kisah hidup Gus Dur secara kronologis, mulai dari masa kecilnya di lingkungan pesantren, perjalanan intelektualnya, kiprahnya sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU), hingga masa kepresidenannya yang penuh dinamika.

Isi Buku

Buku ini menjadi istimewa karena Barton bukan hanya seorang peneliti, tetapi juga sahabat dekat Gus Dur yang mengenalnya secara langsung selama bertahun-tahun.

Perkenalan Greg Barton dengan Gus Dur dimulai pada akhir dekade 1980-an. Sebagai akademisi yang meneliti Islam Indonesia, Barton banyak menghabiskan waktunya untuk memahami pemikiran dan gerakan intelektual yang berkembang di Indonesia.

Hubungan yang terjalin erat membuat Barton memperoleh akses yang luas terhadap kehidupan pribadi maupun aktivitas publik Gus Dur. Bahkan selama masa kepresidenan, Barton sempat mengikuti berbagai kegiatan penting Gus Dur selama beberapa bulan. Kedekatan ini memungkinkan lahirnya sebuah biografi yang tidak hanya kaya data, tetapi juga penuh sentuhan humanis.

Salah satu kelebihan buku ini adalah kemampuannya menggambarkan Gus Dur sebagai sosok yang kompleks. Barton tidak hanya menampilkan Gus Dur sebagai tokoh politik, tetapi juga sebagai manusia biasa yang penuh humor, sederhana, dan memiliki kepedulian mendalam terhadap kemanusiaan.

Pembaca dapat melihat bagaimana Gus Dur memadukan tradisi pesantren dengan wawasan global yang luas sehingga mampu melahirkan gagasan-gagasan progresif mengenai demokrasi, toleransi, dan hak asasi manusia.

Dalam buku ini, perjalanan Gus Dur sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama mendapat perhatian besar. Barton menjelaskan bagaimana Gus Dur berhasil membawa NU keluar dari politik praktis pada era Orde Baru dan mengembalikannya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Langkah tersebut dianggap sebagai salah satu kontribusi penting Gus Dur dalam memperkuat demokrasi dan masyarakat sipil di Indonesia.

Kelebihan dan Kekurangan

Bagian yang paling menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai perjalanan politik Gus Dur menjelang dan sesudah Reformasi 1998. Setelah jatuhnya pemerintahan Soeharto, Gus Dur menjadi salah satu tokoh sentral dalam proses transisi demokrasi. Bersama Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, ia terlibat dalam Poros Ciganjur yang memainkan peran penting dalam menentukan arah politik nasional.

Meski partainya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), bukan pemenang Pemilu 1999, Gus Dur justru terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia melalui mekanisme pemungutan suara di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Kemenangan tersebut menjadi salah satu peristiwa politik paling mengejutkan dalam sejarah Indonesia modern.

Sebagai presiden, Gus Dur melakukan berbagai langkah reformasi yang signifikan. Ia mendorong pemisahan Polri dari ABRI, memperkuat supremasi sipil, menghapus Departemen Penerangan yang dianggap membatasi kebebasan pers, serta membuka ruang yang lebih luas bagi demokrasi dan kebebasan berpendapat. Kebijakan-kebijakan tersebut menunjukkan komitmennya terhadap perubahan dan modernisasi sistem politik Indonesia.

Namun perjalanan pemerintahannya tidak berjalan mulus. Berbagai kontroversi muncul, termasuk kritik terhadap gaya kepemimpinannya yang dianggap tidak konvensional. Kasus Buloggate dan Bruneigate, yang kemudian tidak terbukti secara hukum, menjadi alat politik yang melemahkan posisinya. Ketegangan antara Presiden Gus Dur dengan berbagai kekuatan politik dan militer juga menjadi salah satu faktor yang mempercepat berakhirnya masa kepresidenannya pada Juli 2001.

Rekomendasi Pembaca

Melalui penelitian yang mendalam, Greg Barton berusaha menjelaskan berbagai kontroversi yang selama ini melekat pada sosok Gus Dur. Ia tidak menempatkan Gus Dur sebagai tokoh yang tanpa kekurangan, tetapi sebagai pemimpin yang berani mengambil risiko demi mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi, pluralisme, dan kemanusiaan. Pendekatan yang objektif inilah yang membuat buku ini tetap relevan hingga saat ini.

Secara keseluruhan, Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid merupakan karya penting yang tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup seorang tokoh besar, tetapi juga merekam sejarah Indonesia pada masa transisi demokrasi.

Bagi siapa saja yang ingin memahami sosok Gus Dur secara lebih utuh, buku ini menjadi bacaan yang sangat berharga karena menghadirkan potret seorang pemimpin yang dikenang bukan hanya karena jabatannya, tetapi juga karena gagasan dan nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskannya.

Identitas Buku

  • Judul: Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid
  • Penulis: Greg Barton
  • Penerbit: LKiS Yogyakarta 
  • Tahun Terbit: 2003
  • Tebal: xxviii + 516 halaman 
  • ISBN: 978-979-3381-25-1