Gelaran Piala Dunia 2026 memang kini tengah menjadi sorotan publik sepak bola dunia. Namun, sorotan tersebut bukanlah perihal kemegahan atau drama yang terjadi di atas lapangan hijau seperti ajang-ajang sebelumnya, melainkan kondisi di luar lapangan yang kerap kali menimbulkan kontroversi bagi beberapa pihak.
Melansir dari laman resmi FIFA (FIFA.com), ajang Piala Dunia 2026 kali ini digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Hal ini tentunya menjadi sejarah baru dalam gelaran pesta sepak bola terbesar di dunia tersebut. Pasalnya, penunjukan tiga tuan rumah secara serentak tersebut merupakan yang pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia.
Selain itu, ajang Piala Dunia 2026 kali ini juga memperkenalkan format kompetisi yang terbilang baru. Alih-alih mempertahankan format 32 kontestan seperti yang sebelumnya, ajang Piala Dunia 2026 kali ini memperkenalkan format 48 kontestan yang nantinya dianggap menambah ketat persaingan antarnegara yang berpartisipasi di ajang tersebut.
Namun, alih-alih mendapatkan sorotan karena terobosan yang dibuat oleh FIFA, ajang Piala Dunia 2026 kali ini dinilai penuh kontroversi. Melansir dari laman Instagram @asean.football, salah satu kontroversi yang menyelimuti ajang Piala Dunia 2026 kali ini adalah sulitnya partisipan, baik pemain dan staf pelatih, wasit, hingga suporter untuk mendapatkan akses masuk ke beberapa negara seperti Amerika Serikat.
Alih-alih dipermudah untuk masuk ke dalam negara Amerika Serikat, banyak pemain yang tersandung kasus interogasi yang cukup lama yang diterapkan oleh pihak imigrasi Amerika Serikat. Bahkan, negara-negara seperti Irak, Iran, dan Uzbekistan sempat tertahan selama beberapa waktu agar bisa masuk ke negara Amerika Serikat dan bermain di ajang Piala Dunia 2026.
Hal ini tentunya merupakan imbas dari kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat, yakni Donald Trump yang memberlakukan pembatasan izin visa kepada beberapa negara yang ingin masuk ke Amerika Serikat. Bahkan, salah satu negara kontestan seperti Iran dan Irak sempat dilarang masuk ke Amerika Serikat karena adanya kepentingan politik yang menyertainya.
Hal ini tentunya membuat banyak pihak yang membandingkan ajang Piala Dunia 2026 kali ini dengan ajang Piala Dunia edisi 2018 silam yang digelar di Rusia yang notabene merupakan rival sekaligus musuh Amerika Serikat. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Meski Penuh Tekanan, Rusia Buktikan Sukses Gelar Ajang Piala Dunia 2018
Jika ajang Piala Dunia 2026 kali ini banyak kontroversi yang menyertai pelaksanaannya, khususnya dari izin masuk dan visa berkunjung, maka di ajang Piala Dunia 2018 silam justru dianggap sebagai salah satu gelaran Piala Dunia terbaik dalam kurun 20 tahun terakhir. Melansir dari beberapa sumber di laman berita Suara.com, negara yang dipimpin oleh Vladimir Putin tersebut sempat diragukan mampu sukses menggelar ajang Piala Dunia saat ditunjuk oleh FIFA beberapa tahun sebelumnya.
Hal ini tentunya dikarenakan kebijakan luar negeri Rusia yang dianggap tak pandang bulu, khususnya kepada negara-negara yang diketahui beraliansi dengan Amerika Serikat seperti Inggris, Prancis, Jepang, Jerman, dan Korea Selatan. Namun, alih-alih diprediksi akan sangat ketat dalam memberlakukan izin masuk, pemerintah Rusia dan federasi sepak bola Rusia kala itu justru mempermudah proses izin dan visa masuk bagi para kontestan di Piala Dunia 2018. Bahkan, para suporter yang datang ke Rusia juga dipermudah untuk mengurus izin menetap di Rusia selama ajang Piala Dunia 2018.
Hal inilah yang seakan-akan menjadi tamparan keras bagi panitia penyelenggara Piala Dunia 2026 yang dianggap terlalu ketat dalam memberikan izin masuk bagi setiap elemen yang hadir dan memeriahkan ajang tersebut. Bahkan, banyak pihak yang membandingkan dengan Rusia yang kala itu juga sering kali bersitegang dengan banyak negara, tetapi memilih bersifat profesional dan kooperatif dalam menjaga kelancaran ajang Piala Dunia 2018 silam.
Lalu, apakah ajang Piala Dunia 2026 ini memang pantas dianggap gelaran paling buruk sepanjang sejarah Piala Dunia? Mungkin itu tergantung persepsi masing-masing pihak.
Baca Juga
-
Dean Zandbergen Batal Jadi WNI, Duo Striker Brazil Justru Bisa Bela Timnas!
-
Direstui oleh John Herdman, Taisei Marukawa Segera Bela Timnas Indonesia
-
Indonesia Masuk Nominasi Grassroots dari AFC, Bukti Majunya Pembinaan Lokal
-
Jelang Piala Asia, Indonesia Lakoni 2 Laga Uji Coba Lawan Tim Timur Tengah
-
Perang Kian Memanas di Timur Tengah, Piala Asia 2027 Terancam Ditunda?
Artikel Terkait
-
Invasi Pemain Keturunan: 23% Pemain di Piala Dunia 2026 Bukan Lahir di Negaranya
-
Lagu Kebangsaan Dicemooh, Pemain Iran Ramin Rezaeian Meledak
-
Dipaksa Angkat Kaki dari AS, Pelatih Iran: Kami Tim Paling Tertindas di Piala Dunia 2026
-
Scaloni Tutup Rapat-rapat Starter Argentina, Tapi Pastikan Sosok Ini Tampil Lawan Aljazair
-
5 Fakta Menarik Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026, Debut hingga Comeback 28 Tahun
Hobi
-
MotoGP Australia 2026 Gagal Total: Selamat Tinggal Phillip Island!
-
Marc Marquez Pimpin Klasemen Sementara, Gelar Juara Dunia Sudah di Tangan?
-
Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar
-
MotoGP Australia 2026 Batal! Marquez Tetap Kokoh, Harapan Veda Ega Pupus
-
Jadwal MotoGP Malaysia 2026: Apakah Jorge Martin Bisa Membalikkan Keadaan?
Terkini
-
Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
-
Mindset Kelas Atas, New BIONS by BNI Sekuritas Siap Dampingi Penggunanya Sampai Menetas Tuntas
-
4 Moisturizer Berbahan Honey Extract Berikan Efek Hidrasi agar Wajah Lembap