Ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan, yaitu tidak tahu harus berduka di mana, karena yang hilang tidak pernah benar-benar pergi—tidak ada makam yang bisa dikunjungi, tidak ada kepastian yang bisa digenggam. Hanya sepi yang menggantung, dan pertanyaan yang tak pernah dijawab negara.
Itulah yang selama ini dibawa oleh novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Kini, hampir sembilan tahun sejak pertama kali terbit, kisah itu akhirnya melangkah ke layar lebar—membawa serta luka yang oleh sebagian besar kita mungkin sudah mulai terlupa.
Dari Halaman ke Layar: Perjalanan Panjang Sebuah Novel
Laut Bercerita pertama kali terbit pada Oktober 2017 di bawah naungan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Sejak saat itu, novel ini menjadi salah satu karya sastra Indonesia paling dicintai oleh generasinya—dicetak ulang puluhan kali dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Bagi banyak pembaca muda, inilah pintu masuk mereka menuju sebuah babak gelap sejarah bangsa yang jarang dibicarakan, baik di kelas sejarah maupun di meja makan keluarga.
Berdasarkan laporan dari Tempo.co dan CNA Indonesia, adaptasi layar lebarnya resmi diumumkan oleh rumah produksi Pal8 Pictures pada 1 Desember 2025 dalam ajang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Market di Yogyakarta. Pengumuman ini menjadi salah satu momen yang paling disorot di festival tersebut. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tahun 2026, meski tanggal pasti penayangannya belum dirilis secara resmi hingga kini.
Sinopsis: Tentang yang Hilang dan yang Ditinggalkan
Potongan adegan dalam film Laut Bercerita memperlihatkan akting Reza Rahadian (kiri) dan Eva Celia (kanan), yang akan disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. (Foto: Instagram/@angginoen)
Mengutip dari sinopsis resmi yang beredar, Laut Bercerita mengikuti perjalanan Biru Laut Wibisana, seorang mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam kelompok aktivis bernama Wirasena. Di sebuah rumah tua di Seyegan—yang oleh mereka sendiri dijuluki "Rumah Hantu"—para aktivis muda itu mendiskusikan buku-buku terlarang, merencanakan aksi, dan perlahan membangun keyakinan bahwa rezim harus runtuh.
Namun, sejarah tidak selalu berpihak pada mereka yang berani. Menjelang Mei 1998, Biru Laut bersama sejumlah kawannya diculik, disiksa, dan dihilangkan. Sementara itu, di sisi lain kisah ini, adik Biru Laut yang bernama Asmara Jati berjuang menanggung kehilangan yang tidak berkesudahan—menunggu kakaknya pulang, tanpa pernah tahu ke mana harus mencarinya.
Leila S. Chudori sendiri mengaku terinspirasi dari kisah nyata. Penulisan novel ini bermula dari percakapannya dengan Nezar Patria—seorang jurnalis yang pernah diculik pada Maret 1998. Hal itulah yang kemudian mendorongnya untuk mendokumentasikan kisah mereka yang dihilangkan: yang kembali dan yang tidak pernah kembali.
Sutradara dan Penulis: Kolaborasi yang Tepat
Film ini ditangani oleh Yosep Anggi Noen, sutradara yang sudah dikenal luas lewat karya-karyanya yang bertema sosial dan puitis, seperti Istirahatlah Kata-kata, The Science of Fictions, dan 24 Jam Bersama Gaspar. Kepercayaan kepada Anggi Noen diberikan bukan tanpa alasan. Ia adalah salah satu sineas Indonesia yang paling konsisten dalam mengangkat narasi sejarah dengan pendekatan visual yang tidak hitam-putih.
Hal yang lebih menarik lagi, naskah skenario ditulis langsung oleh Leila S. Chudori bersama Anggi Noen. Ini berarti jiwa asli dari novel—seluruh nuansa, ambiguitas moral, dan kedalaman emosionalnya—akan turut dijaga oleh sang pengarang sendiri. Proses produksi berlangsung selama 37 hari di berbagai lokasi, meliputi Semarang, Salatiga, Jakarta, dan Sukabumi.
Film ini juga telah mendapat pengakuan internasional; terpilih dalam program Work-in-Progress di Hong Kong–Asia Film Financing Forum (HAF) dan mendapat dukungan pendanaan hibah dari Motion Picture Association Asia Pacific (MPA APSA) Academy Film Fund.
Deretan Nama yang Menjanjikan:
Sejak pengumuman resminya, antusiasme publik meledak—terutama saat jajaran pemain mulai diperkenalkan. Berdasarkan laporan dari CNA Indonesia dan Wartabuana.com, berikut nama-nama yang akan menghidupkan kisah ini di layar lebar:
- Reza Rahadian sebagai Biru Laut Wibisana (tokoh utama)
- Dian Sastrowardoyo sebagai Kasih Kinanti
- Eva Celia sebagai Ratih Anjani
- Yunita Siregar sebagai Asmara Jati (adik Biru Laut)
- Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara sebagai orang tua Biru Laut
Eva Celia bahkan mengaku sudah lama bermimpi tentang peran ini. Melansir dari Wartabuana.com, Eva menyebut: "Waktu pertama kali membacanya, saya membayangkan kalau ada film panjangnya, saya ingin menjadi Anjani. Impian saya menjadi kenyataan."
Sementara Reza Rahadian mengaku lebih siap karena sebelumnya pernah terlibat dalam film pendek adaptasi Laut Bercerita, sehingga ia sudah mengenal betul karakter dan dunia yang akan ia hidupkan.
Mengapa Film Ini Lebih dari Sekadar Hiburan
Di sinilah letak keistimewaan Laut Bercerita yang membedakannya dari film-film adaptasi novel lain.
Ini bukan sekadar kisah sedih tentang mahasiswa yang malang. Ini adalah cermin—yang memantulkan wajah kita sendiri sebagai bangsa yang masih belum selesai berdamai dengan sejarahnya. Sebab hingga hari ini, dari 22 aktivis yang diculik menjelang Reformasi 1998, sebanyak 13 orang di antaranya masih belum diketahui keberadaannya. Tidak ada penyelesaian hukum. Tidak ada pengakuan resmi yang memuaskan. Keluarga korban masih menunggu.
Melansir dari Cireboners.id, banyak pihak memprediksi film ini akan menjadi salah satu karya paling penting dalam sinema Indonesia modern—bukan hanya karena nilai artistiknya, tapi karena ia memaksa penonton untuk mengingat sesuatu yang sudah terlalu lama sengaja dilupakan.
Di era ketika wacana demokrasi kembali ramai diperbincangkan, ketika banyak generasi muda baru mulai bertanya-tanya tentang harga dari kebebasan yang mereka nikmati hari ini, Laut Bercerita hadir sebagai jawaban yang tidak nyaman—sekaligus perlu.
Laut mungkin sudah tenggelam. Tapi ceritanya belum selesai.
Inilah yang ingin disampaikan Leila S. Chudori lewat novelnya—dan yang kini dipercayakannya kepada Yosep Anggi Noen untuk diterjemahkan ke dalam bahasa gambar. Bukan untuk membuka luka demi luka itu sendiri, tapi untuk memastikan luka itu tidak pernah benar-benar dilupakan—karena bangsa yang melupakan sejarahnya adalah bangsa yang akan terus mengulang kesalahan yang sama.
Film Laut Bercerita akan tayang di bioskop Indonesia pada 2026. Tanggal pasti penayangan masih ditunggu dari pengumuman resmi Pal8 Pictures. Dan ketika saatnya tiba, mungkin ini bukan sekadar soal menonton film—tapi soal memilih untuk ingat.
Artikel Terkait
-
Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
-
Tak Perlu Tunggu 32 Tahun, Ray Rangkuti Ungkap Alasan Rezim Sekarang Lebih Cepat Digoyang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru
-
Hari Reformasi Nasional: Menolak Normalisasi KKN Gaya Baru
-
Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
Entertainment
-
Ji Sung Jadi Mantan Bos Geng di Drama Comedy-Thriller 'The Apartment Job'
-
Tinggalkan Dunia Hiburan, Aktor Ahn Chang Hyun Pilih Jadi Pemadam Kebakaran
-
Drakor The East Palace Tayang 17 Juli, Nam Joo Hyuk Jadi Pemburu Hantu
-
Para Pemain dan Kru My Royal Nemesis Rencanakan Liburan usai Drama Sukses
-
Tayang 4 Juli, L INFINITE dan Kang Min Ah Berbagi Emosi di Drama Love in Sync
Terkini
-
Harga BBM Sudah Mau Negara Maju, Pendapatan Masih Negara Berkembang
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
-
Kematian Ruang Diskursus: Mengembalikan Roh Penny University di Tengah Bisingnya Kafe Estetik