Lintang Siltya Utami | Athar Farha
Poster Film Leave No One Behind (Instagram/ mentalrajabesi)
Athar Farha

Ledakan, baku hantam, hingga kejar-kejaran mobil memang selalu menjadi daya tarik utama film aksi. Penonton datang untuk mencari hiburan, bukan mendengarkan ceramah. Namun, film Leave No One Behind yang rilis bioskop sejak 23 Juli 2026 agaknya berbeda. 

Di balik adegan pertarungan yang intens, film ini menyelipkan isu perdagangan manusia atau Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), salah satu kejahatan yang masih menjadi persoalan nyata di Indonesia.

Film produksi IDM Film ini disutradarai Suwardi “Becak Lawu”, yang juga menjadi pemeran utama. Naskahnya ditulis Muhammad Iqbal Yunus, sementara kursi produser diisi Novi D. Hutabarat dan Mia Tri Utami. Selain Suwardi, film ini turut dibintangi Macho Hungan sebagai antagonis utama, bersama sederet pemain lain yang menghidupkan konflik penyelamatan korban perdagangan manusia.

Kisahnya mengikuti AKP Suwardi, polisi yang dipindahkan dari Jakarta ke Garut, Jawa Barat. Di tempat barunya, dia bergabung dengan Satgas TPPO untuk membongkar sindikat perdagangan manusia yang selama ini beroperasi secara rapi dan sulit disentuh hukum. 

Misi tersebut kemudian berubah menjadi urusan pribadi ketika keponakannya, Lilis, diculik kelompok kriminal yang dipimpin Rando. Bersama timnya, Suwardi berusaha menyelamatkan Lilis sekaligus menghancurkan jaringan perdagangan orang yang telah memakan banyak korban. Dalam prosesnya, berbagai baku hantam, baku tembak, hingga pengungkapan rahasia tentang identitas Rando menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Menarik banget, ya, Sobat Yoursay? 

Film Perdagangan Manusia yang Jarang Dikulik Industri Film Indonesia

Poster Film Leave No One Behind (Instagram/ mentalrajabesi)

Kalau diperhatikan, industri film Indonesia lebih sering menjadikan horor sebagai primadona. Bahkan ketika mengangkat kejahatan, fokusnya biasanya mengarah pada pembunuhan berantai, mafia narkoba, penculikan, atau kisah balas dendam. Sementara perdagangan manusia yang dampaknya jauh lebih luas jarang mendapat sorotan.

Padahal, TPPO bukan persoalan kecil. Korbannya bisa berasal dari berbagai kalangan, mulai dari perempuan, anak-anak, hingga pekerja migran yang dijanjikan pekerjaan layak tapi berakhir dalam eksploitasi. Isunya dekat dengan kehidupan masyarakat, tapi terasa jauh dari layar bioskop.

Salah satu alasannya mungkin karena perdagangan manusia bukan tema yang mudah dijual. Horor menawarkan jumpscare. Komedi mengundang tawa. Drama keluarga menguras air mata. Sementara TPPO menghadirkan realita yang tak nyaman. Penonton diajak melihat sisi gelap yang benar-benar terjadi di sekitar mereka.

Produser tentu mempertimbangkan risiko tersebut. Tema berat seringkali dianggap kurang menarik secara komersial. Akibatnya, banyak sineas memilih jalur yang lebih aman, mengikuti genre yang sudah memiliki pasar besar.

Di sinilah langkah film Leave No One Behind cukup menarik. Film ini nggak menyampaikan pesan melalui pidato panjang atau dialog yang menggurui. Sebaliknya, edukasi dibungkus lewat aksi. Penonton mengikuti perjuangan tokohnya, merasakan ketegangan saat penyelamatan berlangsung, lalu perlahan memahami besarnya ancaman perdagangan manusia.

Pendekatan semacam ini sebenarnya jauh lebih efektif dibanding cuma kampanye atau iklan layanan masyarakat. Banyak orang bisa saja melewati poster bertuliskan ‘Stop Perdagangan Orang’ tanpa memahami bahayanya. Namun, ketika mereka melihat bagaimana korban kehilangan kebebasan, keluarga hancur, dan sindikat bekerja secara terorganisasi, pesan tersebut menjadi lebih membekas.

Film memiliki kelebihan yang tak dimiliki kampanye biasa, yakni kemampuan membangun empati. Penonton nggak hanya menerima informasi, tapi ikut merasakan emosi para karakter. Ketika rasa takut, marah, atau sedih muncul, pesan yang ingin disampaikan biasanya lebih mudah diingat.

Meski begitu, pendekatan seperti ini juga menyimpan tantangan. Film aksi seringkali terlalu sibuk mengejar adegan perkelahian hingga lupa memperdalam persoalan yang menjadi inti cerita. Kalau aksi lebih dominan daripada isu sosialnya, penonton mungkin hanya pulang dengan mengingat siapa yang paling jago bertarung, bukan mengapa perdagangan manusia harus dilawan.

Karena itu, keseimbangan menjadi kunci. Adegan laga memang penting untuk menjaga ritme dan membuat penonton betah di kursi bioskop. Namun, aksi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat cerita, bukan menenggelamkan pesan yang ingin disampaikan.

Terlepas dari bagaimana hasil akhirnya di layar, keberanian memilih tema TPPO sudah menjadi nilai lebih buat film Leave No One Behind. Setidaknya film ini menunjukkan genre aksi nggak harus selalu berbicara tentang balas dendam atau perebutan kekuasaan. Aksi juga bisa menjadi kendaraan untuk membahas persoalan kemanusiaan yang nyata.

Semoga langkah ini nggak berhenti pada satu judul saja. Perfilman Indonesia membutuhkan lebih banyak film yang berani keluar dari zona nyaman, mengangkat isu-isu sosial yang selama ini kurang mendapat ruang. Bukan berarti genre lain harus ditinggalkan, tapi akan jauh lebih sehat jika penonton memiliki lebih banyak pilihan genre sekaligus perspektif.

Sobat Yoursay sudah nonton film Leave No One Behind? Yuk, ramaikan film keren ini! Selamat menonton.