Dalam dunia kerja, loyalitas sering dianggap sebagai bentuk komitmen yang harus diberikan karyawan kepada perusahaan. Masa kerja yang panjang bahkan kerap dipandang sebagai bukti bahwa seseorang memiliki dedikasi.
Namun, hubungan kerja pada dasarnya tidak selalu bersifat permanen karena perusahaan dapat melakukan PHK ketika kondisi tertentu terjadi.
Lalu, sejauh mana loyalitas masih dapat dituntut dalam hubungan kerja yang tidak sepenuhnya memberikan kepastian?
Ketika Loyalitas Menjadi Kewajiban Moral
Saya memahami mengapa perusahaan menginginkan karyawan yang loyal. Keberadaan karyawan yang bertahan lebih lama dapat membantu perusahaan menjaga stabilitas dan kelancaran pekerjaan.
Masalahnya, loyalitas sering kali dimaknai terlalu luas. Karyawan yang menolak lembur bisa dianggap tidak memiliki komitmen. Karyawan yang mencari pekerjaan baru bisa dianggap tidak loyal.
Bahkan, karyawan yang hanya bekerja sesuai dengan tanggung jawabnya kadang dianggap kurang memiliki rasa memiliki terhadap perusahaan.
Padahal, hubungan kerja pada dasarnya merupakan hubungan profesional. Karyawan memberikan waktu, tenaga, kemampuan, dan keahliannya, sementara perusahaan memberikan upah serta hak-hak yang telah disepakati.
Hubungan ini memang bisa berkembang menjadi lebih dari sekadar pertukaran antara tenaga dan imbalan. Karyawan dapat memiliki rasa memiliki terhadap perusahaan, sementara perusahaan juga dapat membangun hubungan yang baik dengan karyawannya.
Namun, menurut saya, hubungan yang baik tersebut tidak seharusnya menghapus sifat profesional dari hubungan kerja. Rasa memiliki tidak sama dengan kewajiban untuk selalu berkorban, begitu pula loyalitas tidak seharusnya dimaknai sebagai keharusan untuk bertahan dalam situasi apa pun.
Perusahaan Bisa Mengakhiri Hubungan Kerja
Salah satu hal yang membuat tuntutan loyalitas terasa problematik adalah adanya ketidakpastian dalam hubungan kerja. Seorang karyawan bisa saja telah bekerja selama bertahun-tahun, memberikan waktu dan tenaganya, serta menunjukkan komitmen kepada perusahaan.
Namun, ketika kondisi bisnis berubah, restrukturisasi dilakukan, atau perusahaan mengalami masalah keuangan, hubungan kerja tersebut tetap bisa berakhir secara sepihak.
Dalam kondisi tertentu, PHK mungkin menjadi bagian dari keputusan bisnis yang harus diambil. Namun, situasi tersebut juga menunjukkan bahwa hubungan kerja tidak sepenuhnya bersifat permanen.
Jika perusahaan dapat mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan kerja ketika keadaan menuntutnya, maka karyawan juga seharusnya memiliki hak untuk mempertimbangkan kepentingannya sendiri.
Karyawan boleh mencari pekerjaan yang menawarkan gaji lebih baik atau lingkungan kerja yang lebih sehat. Mereka juga boleh meninggalkan perusahaan ketika menemukan kesempatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya.
Loyalitas Seharusnya Tidak Menjadi Tuntutan Sepihak
Menurut saya, perusahaan memang berhak berharap karyawan memiliki komitmen terhadap pekerjaannya. Namun, komitmen tersebut seharusnya dibangun melalui hubungan yang saling menguntungkan, bukan hanya melalui tuntutan moral kepada karyawan.
Jika perusahaan ingin karyawan bertahan, maka perusahaan juga perlu menciptakan alasan bagi karyawan untuk bertahan. Gaji yang layak, lingkungan kerja yang sehat, kesempatan berkembang, kepemimpinan yang baik, dan kepastian mengenai hak-hak karyawan tentu lebih efektif untuk membangun loyalitas daripada sekadar meminta karyawan untuk setia.
Ada ironi ketika perusahaan meminta karyawan untuk selalu memikirkan kepentingan perusahaan, sementara kepentingan karyawan sendiri dianggap sebagai masalah pribadi. Karyawan yang mencari pekerjaan dengan gaji lebih tinggi dianggap tidak loyal. Namun, ketika perusahaan melakukan PHK demi efisiensi, keputusan tersebut sering kali disebut sebagai bagian dari strategi bisnis.
Di sinilah menurut saya pentingnya melihat hubungan kerja secara lebih realistis. Karyawan dan perusahaan sama-sama memiliki kepentingan. Keduanya bisa bekerja sama selama hubungan tersebut masih memberikan manfaat bagi kedua pihak. Loyalitas akan lebih masuk akal jika dibangun sebagai hubungan timbal balik, bukan tuntutan yang hanya berjalan satu arah.
Baca Juga
-
Ulasan The Good Bad Mother: Menggugat Warisan Luka dalam Relasi Ibu dan Anak
-
Privasi Jobseeker Dipertaruhkan: Apa Urgensi Perusahaan Minta Data Pribadi?
-
Mengurai Symbolic Immortality dan Obsesi Prabowo Menciptakan Program Baru
-
Ulasan Bloody Flower: Ketika Pembunuh Jadi Harapan Terakhir Banyak Orang
-
Prabowo Sebut Pengkritik Londo Ireng: Narasi Kecurigaan yang Terus Berulang
Artikel Terkait
Kolom
-
Ketika Tumpukan Kardus Paket Menjadi Jejak Perilaku Konsumsi Gen Z
-
Nyawa Dibayar Ayam Sabung: Alarm Keras untuk Penegakan Hukum dan Nurani Kita
-
Eksistensi Warga Kampung Kota Jakarta
-
Kabur ke Luar Negeri Tak Mampu, Bertahan di Negeri Sendiri Pun Semakin Berat
-
Skema Ponzi Berbaju Syariah? Bongkar Modus Penipuan yang Mengelabui Investor Muslim
Terkini
-
Leave No One Behind Membawa Napas Baru Lewat Aksi Bertema Perdagangan Orang
-
Samakdo: Film Horor Korea Selatan Terbaik dengan Misteri Sekte yang Sesat!
-
Stalactite & Stalagmite: Kisah Dua Batu Menyaksikan Kepunahan Dinosaurus, Berakhir Mengharukan
-
The Boy in the Striped Pajamas: Kisah Persahabatan Anak-anak di Tengah Kelamnya Perang Dunia II
-
Juminten Edan Nantang Rumus Lama Horor Indonesia yang Bergantung pada Gore