M. Reza Sulaiman | ATHAYA NOOR RYANNIDA
Poster resmi film The Odyssey dari Universal Pictures, menampilkan visual epik berlatar Yunani kuno dengan tone sinematik yang khas Nolan. (imdb.com/Photo by ©Courtesy of NBC Universal - © Universal Pictures)
ATHAYA NOOR RYANNIDA

Setiap beberapa tahun sekali, ada satu film yang bahkan sebelum tayang pun sudah terasa seperti sebuah peristiwa. Bukan sekadar tontonan—tapi sebuah momen sinematik yang akan dibicarakan orang bertahun-tahun setelahnya.

Terakhir kali kita merasakan itu adalah saat Oppenheimer meledak di bioskop pada 2023, menyapu habis Oscar, dan membuktikan bahwa dunia masih haus akan film yang berani berpikir besar.

Kini Christopher Nolan kembali. Dan kali ini, ia tidak mengangkat kisah ilmuwan atom atau mimpi dalam mimpi—melainkan sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih besar: kisah Odysseus, sang raja Ithaca, yang selama sepuluh tahun berusaha pulang ke rumah setelah Perang Troya.

Film itu bernama The Odyssey, dan ia siap mengguncang bioskop dunia pada 17 Juli 2026. Tapi mengapa film ini begitu layak kamu nantikan? Ini lima alasannya.

1. Nolan + Homer: Perpaduan yang Sudah Lama Alam Semesta Tunggu

Pasukan pejuang Yunani kuno dipimpin seorang pemanah bersiap melakukan pertempuran di atas kapal layar dalam film The Odyssey karya Christopher Nolan (universalpictures.co.uk/Universal Pictures)

Kalau ada satu sutradara di dunia yang paling cocok mengadaptasi epik Yunani kuno, itu adalah Christopher Nolan.

Bayangkan: Nolan adalah sineas yang bisa membuat bom nuklir terasa seperti perjalanan spiritual (Oppenheimer), yang bisa membuat perang di pantai menjadi meditasi tentang keberanian (Dunkirk), yang bisa membuat kejatuhan seorang pria dalam labirin bawah sadarnya sendiri terasa masuk akal (Inception). Ia tidak pernah membuat film yang hanya tentang aksi. Selalu ada lapisan filosofis yang berdenyut di baliknya.

The Odyssey karya Homer, yang diperkirakan ditulis antara tahun 750–650 SM, adalah salah satu teks paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia. Sebuah kisah tentang ketekunan, kerinduan akan rumah, godaan, pengkhianatan, dan—pada akhirnya—tentang apa artinya menjadi seorang manusia.

Melansir dari Wikipedia, dalam mempersiapkan film ini, Nolan mengambil inspirasi dari terjemahan The Odyssey versi 2017 oleh Emily Wilson—seorang filolog Amerika-Inggris yang menerjemahkan epik ini dengan pendekatan modern yang lebih manusiawi—serta dari karya animator efek spesial legendaris Ray Harryhausen yang terkenal lewat monster-monster mitologisnya.

Dua visi besar bertemu. Dan hasilnya, kita belum tahu—tapi ada alasan kuat untuk sangat penasaran.

2. Cast Paling "Gila" dalam Sejarah Nolan

Matt Damon mengenakan baju zirah pejuang Yunani kuno berdiri di lokasi syuting pesisir pantai dalam film The Odyssey karya Christopher Nolan (imdb.com/universalpictures.co.uk)

Christopher Nolan selalu pandai mengumpulkan aktor. Tapi untuk The Odyssey, ia sepertinya mengajak hampir semua orang.

Berdasarkan laporan dari IMDb dan berbagai sumber media, berikut daftar pemain utamanya:

  • Matt Damon — sebagai Odysseus, raja Ithaca yang legendaris
  • Tom Holland — sebagai Telemachus, putra Odysseus yang tumbuh tanpa ayah
  • Anne Hathaway — sebagai Penelope, istri setia yang menunggu selama sepuluh tahun
  • Robert Pattinson — sebagai Antinous, pemimpin para pelamar yang mengancam takhta
  • Zendaya — sebagai Dewi Athena, pelindung Odysseus dalam perjalanannya
  • Charlize Theron — sebagai Circe atau Calypso, dewi yang menahan Odysseus
  • Lupita Nyong'o, Jon Bernthal, Mia Goth, Elliot Page, Benny Safdie — dalam peran-peran pendukung

Melansir dari Deadline dan GamesRadar, The Odyssey disebut memiliki salah satu ensemble cast paling bertenaga dalam sejarah Hollywood modern. Pertemuan antara Matt Damon yang karismatik sebagai Odysseus dengan Robert Pattinson yang selalu tampil intens sebagai antagonis, misalnya, sudah cukup untuk membuat penonton antre.

Dan satu hal yang paling mengejutkan: Travis Scott — ya, rapper sekaligus musisi global itu — turut hadir dalam film ini sebagai seorang bard (penyair) dalam cerita. Melansir dari High on Films, Nolan sendiri membela keputusan ini dengan alasan yang cukup elegan: "Ini merupakan penghargaan terhadap gagasan bahwa kisah ini telah diturunkan sebagai puisi lisan, yang analoginya adalah rap."

3. Teknologi IMAX yang Belum Pernah Ada Sebelumnya

Lokasi syuting The Odyssey di Italia - Benteng-benteng kuno Acrocorinth yang perkasa di Peloponnese (thethinkingtraveller.com)

Ini bukan sekadar klaim pemasaran.

The Odyssey adalah film pertama dalam sejarah sinema yang direkam sepenuhnya menggunakan kamera film IMAX 70mm—teknologi yang sebelumnya dianggap terlalu besar dan terlalu rumit untuk dioperasikan sepanjang durasi sebuah film penuh.

Melansir dari Studiobinder dan TIX ID, CEO IMAX Richard Gelfond sendiri mengonfirmasi bahwa film ini menggunakan teknologi IMAX yang belum pernah digunakan sebelumnya. Proses syuting berlangsung dari Februari hingga Agustus 2025 di tujuh lokasi berbeda: Maroko, Yunani, Italia, Skotlandia, Islandia, Sahara Barat, dan Malta—semuanya diabadikan dalam format IMAX yang paling jernih dan paling besar yang pernah ada.

Ini bukan hanya soal resolusi gambar. Dalam bioskop IMAX, format 70mm mengisi hampir seluruh bidang pandang penonton—menciptakan pengalaman yang bukan hanya ditonton, tapi dirasakan. Badai laut, monster Cyclops, padang pasir, puncak tebing Skotlandia—semua itu hadir dalam skala yang tak tertandingi.

Nolan sendiri menyebut ini sebagai film terbesar dan paling ambisius yang pernah ia kerjakan. Mengutip dari FirstShowing.net: "This is definitely the biggest movie I've ever done in my career in terms of its scale. Definitely the biggest movie I've ever done in terms of its ambition."

4. Musik yang Sudah Membuat Telinga Merinding

Aksi pertempuran malam hari di antara prajurit Yunani bersenjata lengkap dengan latar belakang bangunan benteng kuno yang runtuh dan terbakar dalam film The Odyssey (Universalpictures.co.uk)

Ludwig Göransson sudah memenangkan Oscar untuk musik Oppenheimer. Dan untuk The Odyssey, ia kembali berkolaborasi dengan Nolan—namun kali ini dengan pendekatan yang jauh lebih eksperimental.

Melansir dari FirstShowing.net dalam featurette resmi yang baru dirilis, Nolan secara khusus meminta Göransson untuk menonjolkan dua instrumen Yunani kuno: aulos (sejenis seruling ganda) dan lyra (kecapi). Göransson bahkan disebut menghindari orkestra konvensional sepenuhnya, dan sebagai gantinya membangun suara dari gong perunggu dan tekstur elektronik—sesuatu yang sama sekali baru dalam genre epik mitologis.

Hasilnya? Berdasarkan deskripsi dari featurette tersebut: "There's real intimacy and real humanity in the soundtrack"—sebuah skor yang tidak hanya megah, tapi juga terasa dekat dan personal.

5. Homer Sudah 3.000 Tahun Bertahan dan Ceritanya Masih Relevan

Kapal layar di lautan sebagai ilustrasi tematik perjalanan Odysseus dalam The Odyssey (Unsplash.com/Vidar Nordli-Mathisen)

Ada alasan mengapa The Odyssey masih dibaca, dipelajari, dan dibahas hingga hari ini, tiga ribu tahun setelah pertama kali dikisahkan.

Kisah Odysseus bukan hanya tentang perjalanan dari satu pulau ke pulau lain. Ini adalah kisah tentang seorang manusia yang tersiksa oleh kerinduan, terus-menerus diuji oleh dewa-dewa yang tidak peduli dengan penderitaannya, dan memilih untuk tetap bertahan bukan karena ia kuat—tapi karena ia tidak punya pilihan lain selain terus bergerak maju.

Melansir dari Letterboxd, sinopsis resmi film menggambarkan: "Odysseus, the legendary King of Ithaca, embarks on a long and perilous journey home following the Trojan War. Throughout his voyage, he is forced to confront the whims of gods, mythological monsters, and trials that stretch both his cunning and his humanity to the breaking point."

Di tangan Nolan—yang selalu mengeksplorasi tema identitas, waktu, dan keberanian manusia menghadapi hal-hal di luar kendalinya—The Odyssey terasa seperti bahan baku yang sempurna. Kisah yang sudah diuji peradaban selama tiga milenium, kini hadir dalam format sinema paling canggih yang pernah ada.

Siap Berlayar?

Trailer pertama The Odyssey yang dirilis pada Desember 2025 meraup lebih dari 121 juta penonton global dalam 24 jam pertama, menurut Studiobinder. Sebuah angka yang bicara lebih keras dari komentar apa pun.

The Odyssey tayang di bioskop seluruh dunia mulai 17 Juli 2026, dalam format IMAX, IMAX 70mm, dan 70mm/35mm film. Tiket sudah bisa dibeli di berbagai platform bioskop premium.