"Yang dibutuhkan oleh anak bukanlah orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang benar-benar menjalankan perannya."
Kalimat itu terus terngiang di benak saya setelah mengakhiri episode terakhir Good Partner. Perceraian memang bisa membuat anak menjadi korban yang paling tidak bersalah. Mereka belum memahami persoalan orang dewasa, tetapi harus ikut menanggung akibat dari keputusan yang diambil oleh kedua orang tuanya.
Namun, drama ini juga mengingatkan saya bahwa setelah perceraian terjadi, yang paling dibutuhkan anak bukanlah keluarga yang tampak utuh, melainkan kasih sayang dan tanggung jawab yang tetap hadir dari kedua orang tuanya. Meskipun banyak membahas tentang perceraian, Good Partner juga berbicara tentang bagaimana orang tua tetap menjalankan perannya, meski tak lagi hidup di bawah atap yang sama.
Sinopsis Drama Good Partner
Good Partner bercerita tentang Cha Eun-kyung (Jang Na-ra), seorang pengacara perceraian senior yang telah berpengalaman selama belasan tahun. Di firma hukumnya, ia dikenal sebagai sosok yang dingin, tegas, dan selalu mengutamakan logika dalam menangani setiap kasus.
Suatu hari, Eun-kyung dipasangkan dengan Han Yu-ri (Nam Ji-hyun), pengacara muda yang masih idealis dan sering mengedepankan empati kepada klien. Perbedaan cara pandang keduanya membuat mereka kerap berselisih selama bekerja bersama.
Di tengah kesibukannya membantu orang lain menyelesaikan perceraian, kehidupan pribadi Eun-kyung justru mulai runtuh. Ia mengetahui bahwa suaminya telah berselingkuh dengan orang terdekatnya. Sejak saat itu, Eun-kyung yang selama ini berdiri sebagai pengacara kini harus menjadi salah satu pihak yang berjuang mempertahankan hak-haknya di meja hukum.
Ulasan Drama Good Partner
Sebagian orang menilai perceraian sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Namun, melalui drama Good Partner kita seolah diajak untuk melihat sisi lain dari perpisahan. Bahwa terkadang berpisah menjadi satu-satunya pilihan terbaik yang bisa dilakukan ketika hubungan yang dijalani sudah tidak sehat. Meskipun nantinya ada konsekuensi yang harus ditanggung kedua belah pihak.
Menariknya lagi, naskah drama ini ditulis langsung oleh seorang pengacara perceraian. Mungkin karena itulah, kasus-kasus yang muncul di sini terasa realistis dan dekat dengan kehidupan banyak orang. Mulai dari perselingkuhan, perebutan hak asuh anak, hingga konflik pembagian harta pasca perceraian. Proses hukum dan pengembangan karakternya pun terasa meyakinkan.
Bicara soal akting, di drama Good Partner, Jang Na-ra membawakan peran sebagai Cha Eun-kyung, pengacara senior yang sangat profesional dalam pekerjaannya. Dari luar, ia memang terlihat kuat, tetapi bagaimanapun Eun-kyung tetaplah perempuan biasa yang mempunyai sisi rapuh juga ketika menghadapi persoalan rumah tangganya sendiri yang berada di ambang kehancuran. Sosok Cha Eun-kyung yang paling paham tentang perceraian dan perselingkuhan ternyata adalah perempuan yang diselingkuhi suaminya sendiri. Dan dia bisa menghadapi semua itu dengan tegar dan realistis.
Di sisi lain, ada Nam Ji-hyun. Di Good Partner, dia berperan sebagai pengacara pemula bernama Han Yu-ri. Bertolak belakang dengan Cha Eun-kyung yang terkesan dingin dan tegas, Yu-ri adalah sosok yang penuh empati dan sering terbawa perasaan saat menangani klien. Di bawah bimbingan Eun-kyung, dia belajar bahwa menjadi pengacara bukan hanya soal empati, tetapi juga harus mampu bersikap profesional.
Dengan dua tokoh utama memiliki kepribadian bertolak belakang, perdebatan dan perbedaan pendapat tentu menjadi hal yang sulit untuk dihindari. Meskipun demikian, keduanya berhasil membangun chemistry yang kompak sebagai mentor dan junior. Bahkan seiring berjalannya cerita, dua karakter yang terlihat kontras ini bisa saling melengkapi di beberapa momen tertentu.
Hal lain yang saya sukai dari Good Partner adalah drama ini menunjukkan kasus yang berbeda hampir di setiap episodenya. Persoalan yang sangat beragam ini, membuat penonton seolah diajak melihat berbagai sudut pandang dan memperoleh wawasan baru dari sana.
Meskipun sistem hukum perceraian di Indonesia dan Korea mungkin berbeda, setidaknya melalui drama ini kita melihat gambaran mengapa perpisahan bisa terjadi dan bagaimana dampaknya. Selain berbicara hubungan antara dua orang yang berpisah, drama ini menunjukkan bahwa konflik yang dialami orang tua sebenarnya juga meninggalkan luka bagi anak yang berada di tengah-tengah mereka. Bagian inilah beberapa kali membuat saya ikut merasa sesak.
Setelah menonton Good Partner, saya merasa drama ini ingin mengingatkan bahwa mempertahankan pernikahan bukanlah tujuan akhir jika hubungan tersebut sudah dipenuhi kebohongan dan saling menyakiti. Terkadang, berpisah bisa menjadi bentuk keberanian untuk memberikan kehidupan yang lebih sehat bagi semua orang yang terlibat. Dan perpisahan tidak seharusnya membuat anak kehilangan kasih sayang dan juga peran dari salah satu orang tuanya.
Kalau Sobat Yoursay menyukai drama tema hukum dengan konflik yang terasa realistis dan penuh pelajaran kehidupan, Good Partner layak banget masuk watchlist. Karena meski mengangkat tema hukum dan perceraian, drama ini tetap terasa hangat karena berfokus pada perjalanan para karakternya dalam menemukan kembali arti keluarga, keadilan, dan kesempatan untuk memulai hidup dari awal.
Baca Juga
-
Memori HP Penuh, Kenapa Kita Seolah Merasa Berat Menghapus File Lama?
-
Gaji vs Kemapanan: Nominal Lebih Besar Ternyata Belum Memberi Rasa Tenang?
-
Memaknai Lagu Selesai: Saat Cinta dalam Diam Harus Belajar Melepaskan
-
Ketika Tumpukan Kardus Paket Menjadi Jejak Perilaku Konsumsi Gen Z
-
Review Way Back Love: Romansa Fantasi yang Bikin Penonton Banjir Air Mata
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Heroes Next Door: Membongkar Sisi Humanis Mantan Prajurit Elite
-
Sukses Mulia Story: Ketika Mimpi Besar Menjadi Jalan Memutus Rantai Kemiskinan
-
Review Buku Anything, Kisah Hangat Tentang Arti Sebuah Rumah
-
Review Thunderbolts: Ketika Antihero Marvel Menghadapi Masa Lalu Kelam
-
Antara Romansa dan Pembunuhan Berantai: Pesona Dream Man Karya Linda Howard
Terkini
-
Young K Temukan Kedamaian dalam Kesendirian di Lagu Comeback Shut the Door
-
Tak Lagi Harmonis, 2 Pembalap Aprilia Perang Dingin Sejak GP Hungaria
-
Minta Generasi Berakhlak, tapi Tak Peduli Gurunya Hidup Serba Kekurangan
-
Hidup Berpindah Mengikuti Hutan: Perjuangan Punan Batu Benau-Sajau Mempertahankan Ruang Hidup
-
UU Pusat Finansial Internasional: Awas Bahaya Shell Company dan Arbitrase!