Sekar Anindyah Lamase | Chairun Nisa
Novel Kami Bukan Sarjana Kertas (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)
Chairun Nisa

Keinginan membaca sering kali harus bersabar menanti isi dompet bersahabat. Pengalaman pribadi inilah yang membawa saya pada sebuah kenekatan manis di Perpustakaan Daerah. Karena sangat mengincar novel ini tetapi belum ada dana, saya mengajukan usulan pengadaan kepada petugas perpusda.

Sungguh di luar dugaan, pihak perpustakaan langsung membelikannya. Sebagai sesama mahasiswa yang kerap megap-megap menghadapi realitas akademis dan finansial, membaca lembar demi lembar novel Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen ini rasanya seperti sedang bercermin penuh tamparan sekaligus tawa getir yang sangat dekat dengan kehidupan saya.

Novel ini memotret realitas kelam sekaligus menggelitik dari Universitas Daulat Eka Laksana alias UDEL. Alih-alih menjadi kampus prestisius, UDEL adalah representasi "kampus mampus" yang kolot, membosankan, bahkan tidak terdeteksi oleh mesin pencari karena reputasinya yang buruk seputar ijazah palsu.

Di sinilah tujuh mahasiswa "buangan"—Ogi, Ranjau, Arko, Gala, Juwisa, Sania, dan Catherine dipertemukan dalam kelas konseling eksentrik yang diampu oleh Bu Lira Estrini, seorang wakil rektor berlatar belakang pakar hewan lulusan Amerika. Bu Lira menantang kelompok yang masuk kuliah dengan motivasi rendah atau keterbatasan dana ini untuk saling menjaga dan bertahan hidup dari gempuran sistem pendidikan yang carut-marut.

Fokus cerita bergulir pada nasib Ogi, anak tukang bengkel yang masuk kuliah tanpa arah karena paksaan sang ayah. Grafiknya naik-turun: malas belajar, hampir dikeluarkan (drop out), hingga terjebak lingkaran hitam narkoba.

Titik nadir hidup Ogi runtuh saat babenya meninggal dunia, membuatnya frustrasi dan hampir bunuh diri. Namun, lewat titik balik yang dramatis, Ogi bangkit. Dari mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi ber-IPK 1,83 yang buta ilmu komputer, ia belajar otodidak hingga sukses menembus perusahaan teknologi internasional di Silicon Valley tanpa memegang ijazah UDEL.

Kontras dengan Ogi, ada Ranjau yang menjadi representasi "Sarjana Kertas"mahasiswa ambisius pemburu nilai silabus yang lulus cepat dengan predikat Cum Laude. Tragisnya, setelah lulus Ranjau justru keteteran karena miskin koneksi dan keahlian praktis, hingga menganggur berbulan-bulan.

Misi besar novel ini adalah menampar komersialisasi institusi pendidikan yang kerap memperlakukan ruang kelas laksana pasar dan mahasiswa sebagai pelanggan yang diperas. J.S. Khairen dengan cerdas menyindir fenomena oknum dosen yang memanfaatkan jabatan untuk meraup keuntungan pribadi.

Salah satunya lewat adegan menyebalkan sekaligus kocak ketika mahasiswa diwajibkan membeli buku teks karya dosennya sendiri seharga 450 ribu rupiah! Bagi kantong mahasiswa dengan dana pas-pasan, nominal tersebut tentu sangat mahal dan mengorbankan kebutuhan harian yang jauh lebih mendesak.

Penulis juga menyisipkan sindiran halus mengenai fenomena sarjana komputer yang gagap teknologi saat wisuda, hingga plesetan IPB menjadi Institut Perbankan Bogor karena banyaknya lulusan pertanian yang berbelok arah ke dunia bank.

Melalui karakter Bu Lira, penulis menumpahkan analogi dunia binatang yang segar namun menohok: “Kalau kamu jadi kecoak, jadilah kecoak yang bisa bertahan dari gempuran apa pun” (hlm. 63). Di tengah ketatnya persaingan, mentalitas ketahanan hama inilah yang menyelamatkan mereka.

Namun, sebagai pembaca kritis, saya menemukan beberapa catatan. Keputusan menggunakan sudut pandang ketiga serbatahu dengan tujuh karakter utama membuat fokus cerita rentan terpecah di pertengahan bab.

Beberapa lompatan logika cerita juga terasa terlalu instan dan ajaib, seperti transformasi kilat kemampuan bahasa Inggris Ogi hanya dalam dua minggu di Bali.

Dari segi emosional, rasanya agak janggal ketika Ogi baru membelikan rumah untuk ibunya setelah bertahun-tahun sukses di Google, sementara selama itu keluarganya dibiarkan tinggal di kontrakan sempit. Dari segi bahasa, diksi Melayu-Gaul dan istilah slang yang vulgar khas "Bang JS" di beberapa bagian juga terasa agak dipaksakan.

Di luar kekurangan plotnya, buku ini tetap menjadi sebuah karya reflektif yang sarat pesan moral kuat dan dihiasi kutipan kontemplatif di setiap akhir bab. Kami (Bukan) Sarjana Kertas berhasil mengingatkan kita bahwa esensi pendidikan sejati bukan terletak pada selembar kertas ijazah, melainkan pada kemampuan kita untuk terus belajar dari kesalahan dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Identitas Buku

Judul: Kami (Bukan) Sarjana Kertas
Penulis: Jombang Santani Khairen
Penerbit:PT Gramedia Widiasarana Indonesia
Tahun Terbit: Cetakan Ketujuh, januari 2026
Tebal: 388 halaman
ISBN: 978-620-05-3070-3