Lintang Siltya Utami | Frederick Matthew
Ilustrasi 'Jaadugar: A Witch in Mongolia' (MyAnimeList)
Frederick Matthew

Industri anime kembali mendapatkan sebuah judul dengan konsep yang segar dan unik. Ketika anime lain seringkali hadir dengan cerita fantasi isekai ataupun abad pertengahan, Jaadugar: A Witch in Mongolia (Tenmaku no Jdgaru) hadir dengan membawakan tema historical yang jarang diangkat sebelumnya.

Diadaptasi dari manga populer karya Tomato Soup yang sebelumnya memenangkan penghargaan di ajang Japan Cartoonists Association Awards 2026, anime historical drama ini siap membawa penonton bekelana pada abad ke-13 di negeri Timur yang penuh intrik dan ketegangan.

Kabar baiknya, Crunchyroll sudah resmi akan menayangkan anime ini secara global, sementara Aniplus Asia juga akan menayangkannya di berbagai wilayah Asia Tenggara dalam waktu dekat. Penayangan perdananya dipastikan akan disiarkan pada 4 Juli 2026 dengan sebuah episode spesial perdana berdurasi satu jam.

Seni Membalas Dendam dengan Ilmu Pengetahuan

Ilustrasi 'Jaadugar: A Witch in Mongolia' (MyAnimeList)

Jaadugar: A Witch in Mongolia berlatar pada masa kejayaan Kekaisaran Mongol ketika tengah di bawah pimpinan Genghis Khan yang sedang gencar dalam ambisinya untuk menaklukkan berbagai belahan dunia. Cerita akan berfokus pada Sitara, seorang gadis muda asal Iran yang bernasib malang. Setelah kehilangan ibunya dan meninggalkan tanah kelahirannya, ia dijual di pasar budak sebelum akhirnya diadopsi oleh sebuah keluarga ilmuwan atau cendekiawan yang baik hati bernama Fatima.

Di sana, putra Fatima yang bernama Muhammad menanamkan satu prinsip penting pada Sitara, "Jika kamu belajar dan menjadi bijak, rintangan apa pun yang menimpamu, kamu akan tahu jalan terbaik ke depan." Dari sinilah Sitara mulai memahami kekuatan magis dari ilmu pengetahuan dan mendalaminya.

Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama ketika pasukan Mongol di bawah perintah Pangeran ke-empat, Tolui, menginvasi kota mereka. Kehilangan segalanya untuk kedua kali, Sitara ditawan dan dibawa ke Mongolia. Dengan api dendam yang membara di dadanya, ia mengganti namanya menjadi Fatima dan bersumpah akan meruntuhkan kekaisaran raksasa tersebut dari dalam. Usahanya itu bukanlah dengan pedang atau sihir supranatural, melainkan menggunakan kecerdasan dan taktik otaknya yang terasah tajam.

Kemudian ia juga bertemu dengan Töregene, istri keenam dari Pangeran Ketiga, Ögedei, yang ternyata memendam kebencian yang sama terhadap kekaisaran Mongol. Dari pertemuan kedua wanita ini, tak ada yang menyangka takdir sejarah akan mulai bergejolak hebat.

Jajaran Pengisi Suara yang Totalitas

Cuplikan Anime 'Jaadugar: A Witch in Mongolia' (Science SARU)

Untuk menghidupkan pesona para karakternya, sejumlah seiyuu berbakat Jepang diajak untuk menyumbangkan suara mereka. Sitara disuarakan oleh Akira Sekine. Ia akan tampil bersama dengan Ami Koshimizu yang mengisi suara Töregene. Selain itu, jajaran karakter penting lainnya akan diperankan oleh Jun Saito sebagai Muhammad, Hiro Shimono sebagai Ögedei, dan Ryota Suzuki sebagai Tolui.

Uniknya, suara dua tokoh di anime ini akan diisi oleh dua pegulat sumo profesional asal Mongolia yang berkarier di Jepang, yaitu Tamawashi dan Tamashoho, demi menjaga keaslian nuansa dan aksen budaya. Tamawashi mengisi suara Genghis Khan, sang penakluk legendaris, sementara Tamashoho mengisi suara seorang prajurit tangguh Mongolia.

Sentuhan Artistik dari Para Profesional

Ilustrasi 'Jaadugar: A Witch in Mongolia' (MyAnimeList)

Satu hal yang membuat Jaadugar: A Witch in Mongolia sangat dinantkan adalah terlibatnya Science SARU, studio yang terkenal dengan pendekatan visualnya yang begitu artistik dan eksperimental. Kolaborasi di antara tim produksi juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Naoko Yamada, yang telah menggarap A Silent Voice dan K-On!, bertindak sebagai executive director, sementara kursi sutradara dipegang oleh Abel Góngora. Desain karakternya digarap oleh Kenichi Yoshida dan naskah serinya disusun dengan rapi oleh Kanichi Kato.

Aransemen musik anime ini dikomposisikan oleh Koshiro Hino. Tidak hanya itu, lagu pembukanya yang berjudul "Stella" dibawakan oleh grup band legendaris SEKAI NO OWARI, sedangkan lagu penutupnya yang berjudul "STAR" diisi oleh grup musik QUEEN BEE. Kombinasi visual yang estetik dipadukan dengan musik megah pastinya akan terasa memukau dan mampu mencuri hati para penonton.

Jaadugar: A Witch in Mongolia digadang-gadang akan menjadi sebuah petualangan sejarah yang epik mengenai kisah perlawanan berbekal ilmu pengetahuan. Jadi, pastikan kalian tidak melewatkan penayangan perdananya di 4 Juli 2026 nanti, ya!