Lintang Siltya Utami | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi buah-buahan (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Setiap kali ingin membeli buah, saya selalu punya kebiasaan yang sebenarnya cukup menyebalkan, yatu cari tahu harga terlebih dahulu dan menyesuaikan dengan anggaran belanja hari itu. Ah, rasanya ingin sekali membeli berbagai jenis buah tanpa harus melihat label harga.

Lucunya, kita hidup di negara tropis, di mana buah-buahan bisa tumbuh dengan begitu mudah. Di banyak daerah, mangga, rambutan, nangka, durian, atau alpukat bahkan bisa dipetik dari kebun sendiri.

Namun, begitu tinggal di kota dan harus membeli buah dengan uang sendiri, semuanya terasa berbeda. Buah yang dulu dianggap makanan biasa tiba-tiba harus masuk daftar pengeluaran yang harus dipikirkan matang-matang. Lantas, mengapa kekayaan buah di negeri tropis belum membuat buah mudah dijangkau semua orang?

Buah Melimpah, Akses Tak Otomatis Mudah

Buah yang tumbuh melimpah di satu daerah tidak serta-merta bisa dijual murah di daerah lain. Ada perjalanan panjang yang harus dilalui sebelum mangga dari kebun sampai ke tangan pembeli di kota, yang tentunya membutuhkan ongkos dan kemudian ikut membuat harga buah semakin tinggi.

Jarak juga ikut menentukan harga. Buah yang dihasilkan di daerah tertentu harus melewati perjalanan panjang untuk sampai ke kota besar. Biaya transportasi, penyimpanan, hingga risiko buah rusak selama perjalanan pada akhirnya ikut masuk ke dalam harga jual. Jadi, bukan berarti petani menjual buah dengan harga mahal sejak awal, tetapi ada banyak mata rantai setelah buah dipetik dari kebun.

Masalahnya, rantai distribusi yang panjang membuat harga di tingkat konsumen bisa jauh berbeda dari harga di tingkat produsen. Di satu sisi, petani belum tentu mendapatkan keuntungan yang sebanding dengan harga yang dibayar konsumen. Di sisi lain, pembeli tetap harus merogoh kocek lebih dalam.

Ketika Keinginan Makan Buah Mengikuti Isi Dompet

Orang dengan anggaran terbatas cenderung akan lebih berhati-hati menentukan makanan yang dibeli. Kalau uang belanja hanya cukup untuk membeli lauk dan kebutuhan pokok, membeli buah dalam jumlah banyak tentu bukan keputusan yang mudah.

Artinya, pilihan makanan seseorang tidak selalu lahir dari selera atau pengetahuan tentang gizi. Ada kondisi ekonomi yang ikut menentukan. Orang bisa tahu bahwa buah baik untuk kesehatan, tetapi hal itu tidak serta-merta membuat mereka punya uang lebih untuk membelinya secara rutin.

Saya juga merasa pengalaman masa kecil punya pengaruh terhadap cara kita memandang buah. Ada orang yang terbiasa makan mangga karena punya pohon di halaman rumahnya. Ada pula yang sejak kecil hanya mengenal buah tertentu yang memang lebih sering tersedia di rumah.

Hal ini berarti akses terhadap buah bukan cuma perkara harga di pasar. Ada faktor tempat tinggal, lingkungan keluarga, kebiasaan, sampai kemampuan ekonomi yang membentuk pengalaman seseorang terhadap makanan. Dari sini terlihat bahwa apa yang kita anggap sebagai makanan biasa ternyata tidak selalu biasa bagi semua orang.

Buah Seharusnya Bukan Simbol Kemewahan

Kita sering mendengar anjuran untuk rajin makan buah dan sayur, tetapi jarang membahas apakah semua orang mampu membelinya secara rutin. Anjuran makan sehat seolah berlaku sama untuk semua orang, padahal kemampuan setiap keluarga untuk memenuhi kebutuhan tersebut berbeda-beda.

Makanan bergizi idealnya bisa dijangkau oleh berbagai kalangan. Tidak perlu memaksakan diri membeli buah impor atau buah yang harganya mahal. Indonesia punya banyak buah lokal yang tumbuh di berbagai daerah dan seharusnya bisa menjadi pilihan yang lebih terjangkau. Kekayaan tersebut semestinya tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Makanan bergizi seharusnya bisa dijangkau lebih banyak orang, bukan hanya mereka yang punya anggaran belanja lebih longgar. Sebab, kalau harga membuat orang harus mengurungkan niat membeli buah, makan sehat lama-lama terasa seperti privilege.

Dengan kata lain, percuma tinggal di negeri yang buahnya melimpah kalau untuk memasukkannya ke keranjang belanja saja kita masih harus berkali-kali menghitung isi dompet.