Coba deh, sebutkan satu profesi yang jam kerjanya dari subuh sampai tengah malam, tanpa gaji, tanpa cuti tahunan, dan kalau resign nggak ada pesangon. Sudah kebayang siapa? Betul, ibu rumah tangga.
Dan anehnya, setiap Agustus kita ramai-ramai bicara soal kemerdekaan, tapi jarang sekali ada yang bertanya, sudah merdekakah emak-emak dari beban kerja yang tidak pernah diakui negara maupun keluarganya sendiri?
Saya bukan sedang mengada-ada. Penelitian dari Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen Institut Pertanian Bogor pernah menghitung nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga yang dilakukan ibu, dan angkanya tembus Rp77.463 per hari.
Kalau dikalikan sebulan, nilainya bisa setara gaji karyawan swasta di banyak daerah. Bedanya, karyawan dapat slip gaji, sementara emak-emak dapat ucapan "makasih ya, Bu" kalau beruntung, atau justru komentar "kan cuma di rumah aja" kalau lagi apes.
Saya sering bertanya-tanya, kenapa ya pekerjaan yang menghasilkan uang selalu dianggap lebih berharga daripada pekerjaan yang menghasilkan kehidupan? Masak, momong anak, urus rumah, atur keuangan keluarga, semua itu kerja nyata yang butuh waktu dan tenaga, sama seperti kerja di kantor.
Tapi karena tidak menghasilkan slip gaji, seolah-olah itu bukan kerja, melainkan kodrat yang harus dijalani tanpa banyak protes.
Ironisnya lagi, banyak ibu rumah tangga yang justru merasa bersalah kalau mengeluh capek. Padahal coba pikir baik-baik, siapa yang bangun paling pagi di rumah Anda? Siapa yang tidur paling larut memastikan semua aman? Kalau jawabannya sama-sama emak, berarti ada sesuatu yang perlu kita omongin bareng-bareng.
Masalahnya bukan cuma soal pengakuan verbal. Ini menyangkut hal yang jauh lebih serius, yaitu ketimpangan ekonomi jangka panjang. Karena dianggap "tidak bekerja", banyak ibu rumah tangga tidak punya rekening sendiri, tidak punya dana pensiun, bahkan tidak punya aset atas namanya sendiri.
Bayangkan kalau suatu hari terjadi hal yang tidak diinginkan seperti perceraian atau kehilangan pasangan, posisi finansial perempuan jadi sangat rentan karena selama ini kontribusinya tidak pernah dihitung sebagai sesuatu yang bernilai.
Nah, di sinilah pertanyaan besarnya muncul. Kalau kemerdekaan itu artinya bebas dari penjajahan, kenapa masih ada penjajahan kecil yang terjadi di dalam rumah sendiri? Bukan penjajahan fisik, melainkan penjajahan dalam bentuk ekspektasi yang tidak pernah dibayar, tidak pernah diistirahatkan, dan tidak pernah dianggap cukup.
Saya rasa sudah saatnya kita mulai bergeser dari sekadar merayakan kemerdekaan secara seremonial menuju kemerdekaan yang lebih personal dan mendasar. Mulai dari hal kecil seperti mengapresiasi kerja domestik secara verbal, membagi tugas rumah tangga lebih adil, sampai mendorong kebijakan yang memberi perlindungan ekonomi bagi ibu rumah tangga, misalnya akses tabungan pensiun mandiri atau pengakuan hukum atas kontribusi non-finansial dalam pembagian harta.
Jadi, kalau tahun ini Anda merayakan 17 Agustus dengan lomba makan kerupuk atau panjat pinang, coba deh sisipkan satu obrolan ringan dengan pasangan atau ibu di rumah. Tanyakan, "Selama ini, apa saja yang sudah Ibu kerjakan tapi jarang saya sadari?"
Siapa tahu jawabannya bikin kita semua merenung, bahwa kemerdekaan yang paling mendesak justru ada di ruang paling dekat dengan kita, yaitu di dapur, di kamar anak, dan di pundak perempuan yang selama ini diam-diam menanggung semuanya.
Buat kalian para ibu rumah tangga yang mungkin sedang membaca tulisan ini sambil melakukan aktivitas harian masing-masing, apakah relate, Bu?
Baca Juga
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Body Shaming Pasca Melahirkan yang Menyamar Jadi Nasihat Sehat
-
Serahkan Gadget ke Anak demi WFH: Dosa Seorang Ibu atau Cela Sistem?
-
Sekolah Negeri Katanya Gratis, Tapi Kenapa Dompet Saya Tetap Meringis?
Artikel Terkait
Kolom
-
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Guru: Stop Saling Lempar Tanggung Jawab
-
Loud Budgeting: Dompet Selamat, tapi Pertemanan Lenyap?
-
Ketika Banyak WNI Berobat ke Penang, Apa yang Perlu Kita Benahi?
-
Kimpul Bu Tin: Ketika Umbi Lokal Bertemu Kreativitas Zaman Now
-
Katanya Sudah Merdeka, Tapi Kenapa Ibu Rumah Tangga Sulit Berinvestasi?
Terkini
-
Al-Adzkar An-Nawawiyah: Kitab yang Mengajak Kita Mengingat Tuhandi Tengah Notifikasi dan Kecemasan
-
PATRIBERA 2026 Hadirkan AHY hingga Diskoria, Warnai Langkah Awal Mahasiswa Baru UPNVJ
-
Seribu Teman Kurang, Satu Musuh Kebanyakan: Buku Seni Menemukan Kawan dan Menumbuhkan Diri
-
Pesepak Bola Lee Kang In Gabung The Black Label, Siap Jajal Karier Hiburan
-
Festival Literasi Purworejo 2026: Dari Buku hingga Karya Seniman Lokal