Film thriller aksi terbaru Gal Gadot, The Runner, mendapat respons sangat buruk dari para kritikus setelah resmi tayang di Prime Video. Film arahan Kevin Macdonald tersebut hanya memperoleh skor 9% di Rotten Tomatoes, menjadikannya film dengan nilai terendah sepanjang karier Gal Gadot sejauh ini.
Capaian tersebut menjadi kontras dengan Wonder Woman (2017), film solo pertama Gadot sebagai superhero DC yang meraih skor 93% di Rotten Tomatoes. Bahkan beberapa film Gadot yang sebelumnya mendapat kritik buruk seperti Heart of Stone (2023), Snow White (2025), dan In the Hand of Dante (2025) masih memiliki skor di atas The Runner.
Skor Terendah dalam Karier Gal Gadot
Gal Gadot memang tidak selalu mendapatkan respons positif dari kritikus ketika tampil sebagai pemeran utama. Namun, The Runner kini menjadi titik terendah karena skor 9% yang diperolehnya berada jauh di bawah film-film Gadot sebelumnya.
Gal Gadot dikenal luas setelah memerankan Wonder Woman dalam sejumlah film DCEU, termasuk Wonder Woman 1984, Justice League, dan Batman v Superman: Dawn of Justice. Kariernya kemudian berlanjut melalui berbagai proyek lain, termasuk Snow White dan film aksi Heart of Stone.
Sayangnya, film Gal Gadot yang mendapat skor rendah justru kebanyakan ketika dirinya menjadi pemeran utama. Namun saat Miss Israel tahun 2004 itu menjadi bagian dari jajaran pemeran ansambel, seperti waralaba The Fast and the Furious, justru cenderung memiliki performa yang lebih baik.
Premis The Runner yang Menjanjikan
The Runner mengisahkan Maia, seorang ibu sekaligus pengacara sukses yang diperankan Gal Gadot. Saat sedang melakukan lari pagi, Maia menerima telepon yang mengabarkan bahwa putranya telah diculik.
Untuk menyelamatkan sang anak, Maia harus mengikuti serangkaian instruksi khusus yang membuatnya terlibat dalam misi berbahaya. Ia bahkan dipaksa menjalankan misi pembunuhan sebagai bagian dari syarat untuk mendapatkan kembali putranya.
Premis tersebut sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi thriller berpacu dengan waktu yang menegangkan. Film seperti Speed, Phone Booth, dan In Time sebelumnya menunjukkan bagaimana cerita dengan tekanan waktu dapat bekerja ketika didukung eksekusi yang kuat.
Alur Dinilai Lemah dan Mudah Ditebak
Sayangnya, sejumlah kritikus menilai The Runner gagal memaksimalkan premis tersebut. Film ini dianggap memiliki cerita yang lemah, alur yang dipaksakan, serta sejumlah kejutan yang terasa sulit dipercaya.
Geek Vibes Nation bahkan menggambarkannya sebagai thriller aksi yang mudah ditebak dan sekadar cocok untuk mengisi waktu luang.
Sementara itu, Blu-ray.com menilai berbagai kejutan dalam cerita terasa hampir tidak masuk akal karena film terlalu berusaha mempertahankan intensitas sepanjang perjalanan Maia.
Daniel Hart dari Rotten Tomatoes juga memberikan kritik keras terhadap film tersebut. Ia menyebut The Runner sebagai titik terendah yang memalukan dalam karier Gadot karena dinilai memiliki penyutradaraan murahan dan tidak mampu menghadirkan ketegangan dari premis yang sebenarnya menjanjikan.
Mark Keizer juga menilai Gadot tidak mampu menyelamatkan film tersebut dari kualitas yang medioker. Menurutnya, meskipun karakter utama terus berlari dalam menghadapi berbagai situasi, kualitas film tetap menjadi masalah yang tidak bisa dihindari.
Dibandingkan dengan Wonder Woman
Jika dibandingkan dengan Wonder Woman, film The Runner terlihat sangat mencolok. Film solo pertama Gadot sebagai Wonder Woman memperoleh skor 93% dan secara luas dianggap sebagai salah satu film terbaik dalam jajaran DCEU.
Sebaliknya, The Runner justru mencatatkan skor satu digit di Rotten Tomatoes. Meskipun jumlah ulasan yang tersedia masih terbatas dan skor tersebut dapat berubah seiring bertambahnya ulasan, namun debut pada angka 9% sudah menunjukkan respons kritikus yang sangat negatif.
Satu-satunya aspek yang cukup banyak mendapat pujian adalah usaha fisik Gadot dalam menjalankan perannya. Namun, penampilan tersebut dinilai belum cukup untuk menutupi kelemahan cerita, penyutradaraan, hingga penyuntingan film.
Usai mendapat skor 9% tersebut, The Runner berpotensi menjadi salah satu kegagalan terbesar dalam perjalanan karier Gal Gadot.
Baca Juga
-
7 Film Dokumenter Netflix, Angkat Kasus Pembunuhan hingga Kehidupan Artis
-
Tren Bahasa Gado-Gado ala Gen Z: Akankah Bahasa Indonesia Terasing di Negeri Sendiri?
-
Siap Uji Nyali? Ini 6 Film Horor Terbaik 2026 Buat Temani Malam Halloween
-
Sinopsis Allen, Film Fiksi Ilmiah tentang Persahabatan Manusia dan Alien
-
Penuh Nostalgia! Trio Bajaj Resmi Comeback di Para Pencari Tuhan Jilid 20
Artikel Terkait
-
Ketika Nonton Film Bareng Jadi Cara Baru Membangun Kedekatan di Dunia Kerja
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan Ini, Ada Laut Bercerita hingga The Intern
-
Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai
Entertainment
-
Tayang 26 November, Iron Girls 3 Kembali dengan Tantangan Olahraga Baru
-
CL 2NE1 Dikabarkan dalam Pembicaraan Bergabung dengan THEBLACKLABEL
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World
Terkini
-
Paradoks Bingar: Dunia Remaja, Bisbol, dan Pertandingan Melawan Ketakutan
-
The Midnight Library: Belajar Berhenti Berandai dan Menerima Realita Hidup
-
Ulasan Novel Pulau Pendidaktis: Selukis Pendidikan Indonesia
-
Pajak Bukan Uang Cuma-cuma: Rakyat Berhak Menuntut Pertanggungjawaban
-
Review The Longest Wait: Skuad Lokal dan Diaspora dalam Satu Impian Bersama