M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Dokter Gia dan Dokter Tirta (Instagram/giapratamamd)
e. kusuma .n

Konten menarik muncul di media sosial saat Dokter Gia dan Dokter Tirta menyoroti akting dokter di sinetron Indonesia. Dalam konten podcast “Pulang Praktek”, dua dokter kesayangan netizen ini membahas gambaran profesi dokter dalam sinetron yang terkenal agak absurd.

Salah satu yang disorot adalah adegan seorang dokter dalam sinetron yang memeriksa bayi dalam kondisi dibedong menggunakan stetoskop, kemudian langsung menyebut diagnosis virus DB seketika. Di luar kebutuhan alur, bagi tenaga medis detail seperti itu memunculkan pertanyaan besar.

Meski sinetron memang tidak harus serius dan sering kali ada kebutuhan hiburan, drama, hingga konflik, tapi adegan semacam ini tetap saja membuat penonton spontan berkata, “Lho, kok bisa begitu?”

Lalu, bagaimana jika scene dalam sinetron yang terasa janggal adalah peran dokter dan adegan medis? Dari adegan bayi dibedong hingga diagnosis instan, seberapa penting riset medis harus dilakukan?

Ketika Stetoskop Seolah Bisa Menjawab Semuanya

Yang membuat adegan tersebut menarik untuk dibahas bukan sekadar soal benar atau salahnya sebuah diagnosis. Masalahnya adalah bagaimana proses pemeriksaan dokter digambarkan dan munculnya diagnosis instan.

Dalam cerita di layar televisi, tentu ada kebutuhan untuk membuat adegan berlangsung cepat. Penonton tidak mungkin diperlihatkan proses pemeriksaan selama puluhan menit hanya untuk mendapatkan satu kesimpulan.

Namun, penyederhanaan cerita tetap memiliki batas. Jika dokter cukup memeriksa pasien dengan stetoskop lalu langsung memberikan diagnosis tertentu, penonton awam bisa mendapatkan gambaran yang keliru tentang proses medis yang benar.

Di sinilah kritik dokter Gia dan dokter Tirta menjadi menarik: hiburan boleh dramatis, tapi profesi medis memiliki prosedur yang tidak sesederhana adegan televisi.

Dokter Tirta Soroti Minimnya Riset

Dalam pembahasan tersebut, dokter Tirta menyoroti kesan ‘otak kosong’ dari sejumlah penggambaran dokter di sinetron, terutama ketika adegan medis terasa seperti dibuat tanpa riset yang memadai.

Kritik semacam ini sebenarnya bukan berarti dokter ingin sinetron berubah menjadi dokumenter medis. Justru sebaliknya, penonton tetap membutuhkan hiburan dengan mengedepankan sisi realistis.

Ketika sebuah karakter disebut dokter, menggunakan jas putih, memegang stetoskop, dan melakukan pemeriksaan pada pasien, ada ekspektasi tertentu bahwa profesi tersebut digambarkan secara masuk akal.

Bandingkan dengan Hospital Playlist dan The Trauma Code

Menariknya, dokter Tirta juga membandingkan penggambaran dunia medis di sinetron Indonesia dengan drama Korea seperti Hospital Playlist dan The Trauma Code: Heroes on Call.

Keduanya menunjukkan bahwa drama medis tetap bisa menghadirkan konflik, humor, romansa, dan ketegangan tanpa harus menghilangkan nuansa profesional dari dunia kedokteran.

The Trauma Code, misalnya, berpusat pada dokter trauma yang berusaha membangun pusat trauma dan menangani kasus-kasus gawat darurat. Artinya, riset tidak selalu membuat cerita menjadi membosankan.

Justru detail medis yang lebih masuk akal bisa membuat penonton semakin percaya pada dunia yang dibangun dalam cerita. Tidak harus sempurna seperti tontonan ala dokumenter, tapi setidaknya tetap masuk akal.

Tidak Harus Sempurna, Hanya Harus Lebih Masuk Akal

Menurut saya, inti dari “ghibah” dokter Gia dan dokter Tirta bukan untuk menghakimi semua sinetron Indonesia yang memiliki karakteristik sendiri, mulai dari durasi produksi, tuntutan cerita, target penonton, dan kebutuhan dramatis.

Meski berbeda dengan drama medis yang memang sejak awal menjadikan rumah sakit sebagai pusat cerita, tapi kritik tersebut bisa menjadi pengingat bahwa riset kecil bisa membuat perbedaan besar pada cerita maupun respons penonton.

Konsultasi dengan dokter, misalnya, bisa membantu penulis menentukan istilah medis yang tepat, cara pemeriksaan yang masuk akal, hingga bagaimana seorang dokter seharusnya berkomunikasi dengan pasien.

Pada akhirnya, penonton mungkin memang datang untuk mencari hiburan. Hanya saja, ketika hiburan tersebut membawa profesi nyata ke layar kaca, sedikit ketelitian akan membuat cerita terasa jauh lebih meyakinkan.

Sebab, kalau adegan romantis bisa dibuat berkali-kali sampai pas, kenapa adegan dokter tidak bisa riset dulu sebelum syuting? Mungkin inilah pelajaran paling menarik dari “ghibah” dokter Gia dan dokter Tirta: sinetron boleh fiksi, tapi bukan berarti semua logika harus ikut difiksikan.