M. Reza Sulaiman | Sukatman Sukatman
Ilustrasi amarah dan keterikatan emosi negatif di media sosial. (Foto: Pexels/Freestocks.org)
Sukatman Sukatman

Gelombang kritik kembali menerjang figur publik tanah air. Kali ini, Maudy Ayunda menjadi sasaran kecaman warganet setelah mengunggah konten yang membahas rasa lelah (burnout) akibat paparan berita buruk yang tiada henti di Indonesia. Warganet dengan cepat melabelinya tone deaf alias buta situasi sosial. Sebaliknya, sebagian pendukung Maudy menganggap netizen terlalu reaktif dan mudah mengamuk.

Di balik perseteruan klasiknya—antara figur publik bermodal privilege dan warganet yang lelah dengan himpitan realita—ada sebuah benang merah yang terabaikan: kita terlalu sibuk saling tuduh, sampai-sampai lupa menunjuk sang sutradara utama, yaitu algoritma media sosial yang memang dirancang untuk memonetisasi amarah kita.

Ketika Kemarahan Menjadi Komoditas

Pernahkah Anda merasa bahwa linimasa media sosial hari ini terasa makin menyesakkan? Itu bukan sekadar perasaan subjektif Anda. Platform media sosial beroperasi dengan satu mata uang utama: engagement atau keterikatan pengguna.

Masalahnya, riset menunjukkan bahwa emosi negatif—seperti rasa marah, cemas, dan ketidakadilan—memiliki tingkat keterikatan paling tinggi. Fenomena ini melahirkan apa yang dikenal sebagai rage baiting: mekanisme sistematis di mana algoritma secara sengaja mendistribusikan konten yang memicu polarisasi demi mempertahankan jari kita agar terus mengusap layar (scrolling).

Dalam konteks Maudy Ayunda versus warganet, algoritma berhasil melakukan tugasnya dengan sempurna. Maudy menyuarakan kepenatan psikologisnya, warganet merespons dengan amarah ketimpangan, dan platform memanen jutaan views, retweet, serta interaksi dari perselisihan tersebut. Kita diadu dalam adegan yang telah dirancang untuk menguras emosi kita.

Terjebak dalam Pertempuran Tanpa Pemenang

Menyalahkan Maudy Ayunda secara personal tentu tidak menyelesaikan masalah sistemik. Di sisi lain, meremehkan amarah warganet sebagai sekadar "kebiasaan menghujat" juga sangat tidak adil. Warganet berhak marah karena bagi sebagian besar masyarakat, berita buruk tentang kenaikan harga, isu korupsi, atau ketimpangan sosial bukan sekadar linimasa yang bisa di-mute, melainkan realitas hidup harian.

Namun, melampiaskan amarah secara terus-menerus di media sosial juga hanyalah ilusi perubahan. Kita merasa sedang bertarung demi keadilan, padahal kita hanya sedang memberi makan algoritma yang makin memperkeruh kesehatan mental kolektif bangsa ini.

Algorithmic Self-Defense: Merekayasa Ulang Umpan Berita Kita

Lantas, bagaimana kita keluar dari lingkaran setan ini? Jawabannya bukan sekadar "matikan ponsel dan melakukan mindfulness", sebab tidak semua orang memiliki kemewahan untuk memutus hubungan dari informasi.

Solusi nyata yang kita butuhkan saat ini adalah literasi algorithmic self-defense atau pertahanan diri dari algoritma. Kita harus belajar merekayasa balik apa yang disuapkan oleh platform ke layar HP kita:

  1. Pahami Cara Kerja Umpan Berita: Berhentilah mengklik atau berkomentar pada konten yang sengaja dirancang untuk memancing emosi belaka. Ingat, rage-comment Anda adalah keuntungan finansial bagi platform.
  2. Latih Ulang Algoritma Anda: Secara aktif carilah dan berinteraksilah dengan konten berbasis solutions journalism—yaitu jurnalisme yang tidak hanya membeberkan penderitaan atau bobroknya masalah, tetapi juga mengulas upaya dan solusi konkret yang sedang diusahakan.
  3. Ubah Amarah Menjadi Aksi Terukur: Jika ada berita buruk yang memicu rasa tidak adil, alihkan energi dari sekadar adu jotos di kolom komentar menjadi aksi nyata di dunia fisik: mengisi petisi resmi, berdonasi pada komunitas terdampak, atau membangun gerakan kolektif di tingkat lokal.

Maudy Ayunda mungkin keliru dalam membaca lanskap empati publik, dan warganet mungkin terlalu lelah untuk bersikap ramah. Namun, alih-alih terus terjebak dalam teater amarah ini, maukah kita mulai mengambil alih kendali atas jempol dan algoritma kita sendiri?