Para Putra dan Pujaan Hati (Sons and Lovers) karya D.H. Lawrence merupakan salah satu novel klasik yang menarik karena tidak hanya membahas kehidupan keluarga, tetapi juga memperlihatkan bagaimana hubungan orang tua dapat membentuk sekaligus memengaruhi pilihan hidup anak. Dengan latar masyarakat kelas pekerja Inggris, Lawrence menghadirkan kisah yang penuh ketegangan emosional, terutama melalui hubungan antara seorang ibu dan putranya.
Kisah keluarga Morel bermula dari pernikahan Gertrude dan Walter Morel. Keduanya memiliki karakter serta latar kehidupan yang sangat berbeda. Gertrude merupakan perempuan berpendidikan yang memiliki pandangan hidup lebih intelektual, sedangkan Walter bekerja sebagai penambang batu bara dan memiliki temperamen keras. Perbedaan tersebut perlahan membuat kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi perselisihan. Hubungan yang awalnya diharapkan menjadi sumber kebahagiaan justru berubah menjadi ruang penuh kekecewaan.
Dalam situasi tersebut, perhatian Gertrude semakin beralih kepada anak-anaknya. Putra pertamanya, William, menjadi salah satu tempat ia menggantungkan harapan. Namun, ketika William beranjak dewasa dan pergi ke kota untuk bekerja, kehidupannya berakhir secara tragis setelah ia jatuh sakit dan meninggal. Kehilangan tersebut meninggalkan luka besar bagi Gertrude. Setelah itu, kasih sayang dan keterikatannya semakin terpusat kepada Paul, putra keduanya.
Hubungan Gertrude dan Paul menjadi inti emosional novel. Paul sangat menyayangi ibunya, tetapi kedekatan tersebut justru membuatnya sulit menentukan batas antara kasih keluarga dan kebebasan pribadi. Ketika Paul mulai mengenal cinta, masalah tersebut menjadi semakin rumit.
Miriam Leivers merupakan perempuan pertama yang memiliki hubungan dekat dengannya. Keduanya terhubung melalui percakapan dan kedekatan batin, tetapi hubungan mereka terus mengalami hambatan, salah satunya karena Gertrude tidak menyukai Miriam dan merasa perempuan tersebut tidak sesuai bagi putranya.
Paul kemudian menjalin hubungan dengan Clara Dawes, perempuan yang lebih matang dan memiliki daya tarik tersendiri. Meski hubungan itu menawarkan pengalaman berbeda, Paul tetap tidak sepenuhnya mampu melepaskan pengaruh ibunya. Konflik tersebut menunjukkan bahwa keterikatan emosional yang terlalu kuat dapat membuat seseorang kesulitan membangun hubungan romantis secara sehat.
Menjelang akhir cerita, kondisi Gertrude memburuk karena kanker. Paul dan keluarganya merawatnya sampai akhirnya sang ibu meninggal. Kepergian Gertrude membuat Paul kehilangan pegangan karena selama ini kehidupannya begitu erat dengan sang ibu. Namun, ia tidak memilih untuk tenggelam selamanya dalam kesedihan. Pada penutup cerita, Paul justru berusaha meninggalkan kegelapan dan bergerak menuju kehidupan baru dengan menatap keramaian kota.
Saya membutuhkan waktu cukup panjang untuk menuntaskan novel setebal sekitar 616 halaman ini. Bagian awal sempat membuat saya mudah kehilangan minat sehingga cukup sulit untuk benar-benar masuk ke dalam ceritanya. Namun, setelah mengikuti perkembangan hubungan para tokohnya, saya mulai memahami persoalan yang ingin disampaikan Lawrence. Terjemahannya juga terasa cukup nyaman untuk diikuti.
Saya cukup gemas dengan Gertrude karena sikapnya terasa dekat dengan fenomena yang masih mudah ditemukan di Indonesia, ketika seorang ibu memberikan perhatian yang sangat besar kepada putranya. Dari novel ini, saya semakin menyadari bahwa kasih sayang orang tua tetap membutuhkan batas. Cinta yang berubah menjadi kepemilikan justru dapat menghambat anak dalam membangun kemandirian.
Selain itu, konflik rumah tangga Gertrude dan Walter memperlihatkan bahwa pertengkaran orang tua dapat meninggalkan beban psikologis bagi anak. Ketidakselarasan nilai, komunikasi yang buruk, dan hubungan pernikahan yang tidak sehat dapat membuat anak ikut terseret dalam persoalan orang dewasa.
Pada akhirnya, Para Putra dan Pujaan Hati bukan sekadar cerita tentang cinta seorang ibu kepada anaknya. Novel ini juga menjadi pengingat mengenai pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk menentukan identitas, hubungan, dan arah kehidupannya sendiri. Kasih sayang seharusnya menjadi tempat untuk bertumbuh, bukan ikatan yang membuat seseorang kehilangan kebebasan.
Identitas Buku
Judul: Para Putra dan Pujaan Hati (Sons and Lovers)
Penulis: D.H Lawrence
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020613901
Baca Juga
-
Mengulas Memoar Educated: Ketika Pendidikan Menjadi Jalan Keluar
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Ulasan Novel Mirai Karya Mamoru Hosoda: Belajar Memahami Arti Keluarga
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Cherophobia: Takut Bahagia Justru Menjauhkan Kita dari Kebahagiaan
-
Ulasan Film Khadam: Sajian Horor Lintas Negara dengan Sensasi Atmosferik!
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal