Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Buku Cherophobia karya Ahmad Fillah Ghifari (Bacabuku)
Fathorrozi 🖊️

Buku Cherophobia tidak sekadar menghadirkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca menengok ruang batin yang sering kita sembunyikan dari orang lain.

Usai merampungkan buku ini, saya merasa buku ini bukan bacaan yang selesai begitu saja ketika halaman terakhir ditutup. Beberapa kisahnya justru terus berputar di kepala, terutama ketika saya sedang sendirian, mengingat kembali keputusan-keputusan hidup, hubungan dengan orang lain, dan berbagai perasaan yang pernah saya anggap sepele.

Ketika Kebahagiaan Justru Menjadi Ketakutan

Judul Cherophobia merujuk pada ketakutan atau keengganan terhadap kebahagiaan. Dalam buku ini, gagasan tersebut tidak hadir sebagai istilah yang kaku, melainkan melalui pengalaman dan pergulatan tokoh-tokohnya. Salah satunya adalah Iris, yang harus melanjutkan hidup dalam kesendirian setelah dunianya hancur.

Iris berada dalam situasi yang tidak mudah. Sebuah janji mengikatnya untuk terus berjuang, sementara kehidupan seolah tidak memberikan alasan yang cukup untuk berharap. Ketakutannya terhadap kebahagiaan membuatnya kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia temukan, berupa kebahagiaan itu sendiri.

“Jika kebahagiaan seperti ini bukanlah akhir yang bahagia, maka aku harus mengakhirinya di sini, sebelum semuanya menjadi luka.”

Rangkain kalimat ini terasa getir. Di dalamnya ada keinginan untuk mengakhiri rasa sakit, tetapi juga ada pertanyaan tentang bagaimana seseorang bertahan ketika harapan dan ketakutan tumbuh bersamaan. Bagi saya, bagian ini menunjukkan bahwa manusia kadang bukan hanya berperang melawan keadaan, tetapi juga melawan pikirannya sendiri.

Cerita Sederhana, Perasaan yang Tidak Sederhana

Lewat Cherophobia Ahmad Fillah Ghifari mengangkat peristiwa sehari-hari menjadi bahan perenungan. Kisah-kisah seperti Si Pendiam yang Tahu Segalanya, Twinkle Twinkle Little Star, Harga Sebuah Kebahagiaan, dan Pulang? menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan manusia, seperti diam, kehilangan, kesepian, hubungan, serta pencarian makna.

Saya menyukai cara buku ini tidak terburu-buru memberikan jawaban atas semua persoalan. Pembaca justru diberi ruang untuk merasakan kebingungan, kesedihan, dan pertanyaan yang muncul dari cerita. Dengan begitu, kisah-kisahnya terasa lebih manusiawi.

“Bohong itu jahat. Sebuah dosa berkesinambungan yang tak akan menemui akhir, hanya akan berakhir ketika si pembohong mengakui kebohongannya.” (hlm. 12).

Kutipan tersebut menarik karena kebohongan tidak hanya dilihat sebagai tindakan sesaat, tetapi sebagai sesuatu yang dapat terus berlanjut selama tidak diakui. Saya menangkap pesan bahwa kejujuran bukan sekadar persoalan berkata benar kepada orang lain, melainkan juga keberanian untuk mengakui sesuatu kepada diri sendiri.

Sementara itu, pada halaman 21, pembaca diajak masuk ke kebingungan tentang cinta.

“Aku bingung, bahkan aku tak tahu apa itu cinta? Apakah Zin mengatakan itu karena dia memang mencintaiku? Dari pendapatku sendiri, aku hanya berpikir itu seperti sebuah permainan yang kadang sangat menyenangkan, namun jika berakhir akan menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan.” (hlm. 21).

Bagi saya, kutipan ini memperlihatkan bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kepastian. Kadang ia datang bersama pertanyaan, keraguan, dan ketakutan akan kehilangan. Perasaan seperti ini sangat dekat dengan pengalaman banyak orang, terutama mereka yang sedang belajar memahami hubungan dan dirinya sendiri.

Membaca Perasaan dari Dua Sisi

Cherophobia juga menarik ketika membicarakan kompleksitas emosi manusia melalui bagian seperti Perempuan & Perasaannya dan Laki-Laki yang Hampir Pudar. Dua judul ini mengingatkan saya bahwa perasaan tidak pernah sesederhana yang terlihat dari luar.

Ada orang yang tampak kuat, tetapi sebenarnya sedang berusaha keras agar tidak runtuh. Ada pula yang memilih diam bukan karena tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, melainkan karena tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang dirasakannya.

Menurut saya, bagian-bagian semacam ini penting karena mengajak pembaca untuk tidak mudah menghakimi. Kita sering kali hanya melihat perilaku seseorang tanpa memahami pergulatan yang sedang berlangsung di dalam dirinya. Padahal, setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi kesedihan, cinta, kehilangan, dan tekanan hidup.

Pulang, Bertumbuh, dan Melawan Arus

Selain membahas luka dan kebingungan, buku ini juga menghadirkan refleksi tentang pertumbuhan diri. Kisah Cahaya dalam Genggaman Tangan dan Melawan Arus menjadi bagian yang memperlihatkan bahwa kehidupan tidak selalu harus dijalani dengan mengikuti arah yang sudah ditentukan orang lain.

Saya menangkap semangat untuk berani mengenali diri, mengambil keputusan, dan menghadapi kehidupan yang dinamis. Pertumbuhan tidak selalu berarti menjadi seseorang yang sepenuhnya baru. Kadang, bertumbuh justru berarti belajar menerima diri yang pernah lemah, pernah salah, dan pernah kehilangan arah.

Judul Pulang? juga terasa menarik untuk direnungkan. Pulang bukan hanya soal kembali ke suatu tempat, tetapi bisa pula berarti kembali kepada diri sendiri, kepada orang-orang yang berarti, atau kepada sesuatu yang membuat hidup kembali memiliki arah.

Di tengah perjalanan batin yang penuh tantangan, penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada keluarga, sahabat, dan Tuhan. Bagi saya, bagian ini memperlihatkan bahwa proses kreatif tidak lahir dari ruang yang kosong. Ada orang-orang, pengalaman, dan keyakinan yang ikut membentuk cara seseorang memandang kehidupan.

Relevansi bagi Generasi Muda Masa Kini

Menurut saya, Cherophobia memiliki relevansi yang kuat bagi generasi muda masa kini. Banyak anak muda hidup dalam situasi yang penuh tuntutan, yakni harus berhasil, harus bahagia, harus memiliki tujuan, dan harus terlihat baik-baik saja. Di tengah tekanan tersebut, perasaan takut gagal, takut kehilangan, bahkan takut bahagia bisa muncul tanpa disadari.

Buku ini dapat menjadi teman refleksi bagi mereka yang sedang menghadapi quarter-life crisis, kebingungan dalam hubungan, kesepian, atau pertanyaan tentang masa depan. Kisah-kisahnya mengingatkan bahwa tidak semua persoalan harus segera diselesaikan dengan jawaban yang sempurna.

Bagi saya, pesan pentingnya adalah keberanian untuk tetap menjalani hidup, meskipun kita belum sepenuhnya memahami arah yang akan ditempuh. Bahagia tidak harus selalu berarti hidup tanpa masalah. Kadang, bahagia adalah keberanian untuk menerima bahwa hidup memang penuh ketidakpastian, lalu tetap memilih untuk melangkah.

Identitas Buku

  • Judul:  Cherophobia
  • Penulis: Ahmad Fillah Ghifari
  • Penerbit: CV Jejak
  • Cetakan: I, September 2018
  • Tebal: 218 Halaman
  • ISBN: 978-602-5455-33-9
  • Genre: Fiksi / Novel